Perjalanan Seorang Pemimpin

0

Seorang mahasiswa selalu diidentikkan atau dikatakan sebagai kaum intelektual. Seorang mahasiswa tidak hanya saja duduk mendengarkan ceramah dosen di kelas, tetapi juga aktif dalam kegiatan kemahasiswaan. Seorang mahasiswa tidak hanya saja sekedar ikut serta dalam kepanitiaan suatu acara atau menjadi event organizer semata. Tetapi seorang mahasiswa mesti mengelaborasi pelbagai pemikiran baik itu yang terdapat dalam banyakliterature maupun ruang-ruang diskusi. Semangat yang kemudian terbangun ialah bagaimana proses dialektika pemikiran ini menjadi pisau analisis mahasiswa dalam mengurai serta pencarian jawaban atas permasalahan yang hadir di masyarakat. Hal ini juga menuntut seorang mahasiswa untuk memiliki tradisi intelektual yang baik. Aktivitas membaca buku, diskusi, dan menulis, mesti menjadi kegiatan yang melekat dalam aktivitas mahasiswa. Hal ini yang kemudian membentuk idealisasi mengenai apa dan bagaimana mahasiswa itu.

Mengenai idealisasi mahasiswa, hadir seorang sosok yang selama ini dikenal sebagai aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Ia adalah Whisnu Sentosa. Seorang mahasiswa yang dilahirkan di Cirebon 21 Juni 1992. Whisnu menghabiskan masa kecil dan remajanya di Kota Udang. Di kota ini juga Whisnu menimba ilmu dari pendidikan dasar hingga menengah ke atas. Hijrah dari Cirebon, Whisnu melanjutkan studinya ke Universitas Padjadjaran (Unpad) di Jatinangor. Ia menuntut ilmu di jurusan Ilmu Pemerintahan (IP). Di dunia kampus ini lah Whisnu menggembleng diri sebagai seorang pemimpin. Ia tidak hanya duduk manis di bangku kuliah, tetapi juga aktif dalam kegiatan kemahasiswaan. Hal ini bisa dilihat dari keikutsertaannya dalam pelbagai organisasi, baik itu intra maupun ekstra kampus. Selain mengikuti organisasi, Whisnu juga aktif dalam kegiatan kepenulisan. Pelbagai pemikirannya telah banyak dimuat oleh surat kabar lokal. Tema politik pemerintahan menjadi wacana yang seringkali diangkat oleh Whisnu. Kegiatan kepenulisan ini juga yang membuat ia mendapatkan prestasi dalam bidang penulisan. Ia pernah menjuarai lomba karya tulis yang diadakan oleh Badan Koordinasi (Badko) HMI Jawa Barat pada tahun 2014 lalu. Tidak hanya menulis, ia pun sering menjadi pembicara dalam diskusi-diskusi yang diadakan di kampus. Bahkan ia dikenal sebagai seorang sosok yang cakap menjadi pemateri diskusi.

Selain pendidikan formal yang ia tempuh di Unpad, ia juga mengikuti pendidikan informal, seperti Latihan Kader (LK) HMI Cabang Sumedang. Di HMI ia memulai semuanya dari bawah. Proses perkaderan baik itu pendidikan formal maupun informal yang terdapat di HMI ia ikuti dengan baik. Hal ini terlihat dari diselesaikannya semua jenjang perkaderan di HMI, seperti LK I, LK II, dan LK III. Karirnya di HMI di mulai dari kader biasa. Layaknya kader biasa, ia aktif mengikuti kegiatan yang diadakan, baik oleh komisariat maupun cabang. Hal ini lah mengapa ia pernah didaulat sebagai kader berdedikasi terbaik HMI Cabang Sumedang pada tahun 2010. Kemudian, pada tahun 2013 ia menjadi Ketua HMI Komisariat Fisip Unpad. Selama menjadi ketua komisariat ia mencoba membangun tradisi intelektual. Apa yang kemudian coba dibangun tidak hanya saja keluar dari lisan semata, tetapi dibuktikan dalam bentuk tindakan. Aktif membaca buku, menulis, diskusi, bahkan menjadi pemateri dalam pelbagai diskusi, merupakan bukti bagaimana ia mencoba membangun tradisi intelektual. Selain menjadi ketua komisariat, ia juga aktif menjadi dalam Badan Pengelola Latihan (BPL).

Aspek perkaderan menjadi komitmen Whisnu dalam membangun organisasi. Hal ini yang menjadi komitmennya ketika ia terpilih menjadi Ketua Umum HMI Cabang Sumedang pada akhir tahun 2014. Menurutnya, keberlanjutan organisasi sangat ditentukan oleh perkaderan yang berjalan dengan baik. Bila perkaderan tidak berjalan dengan baik regenerasi kepemimpinan akan terhambat. Hal ini tentunya akan mempengaruhi keberlanjutan organisasi ke depannya. Oleh karena itu, dalam setiap kesempatan, ia selalu mengingatkan bahwa kita perlu menjaga agar aktivitas perkaderan terus berjalan.

Selain mengenai perkaderan, Whisnu seringkali berbicara bahwa politic is value. Di mana politik tidak boleh melulu berbicara siapa mendapatkan apa, tetapi siapa membawa gagasan apa. Gagasan atau pemikiran ini lah yang menurut Whisnu perlu menjadi suatu nilai bagi seseorang dalam berpolitik. Bila seseorang hanya sekedar berpolitik tanpa membawa gagasan apa pun, maka hanya akan melahirkan sosok politikus yang transaksional dan korup. Hal ini juga yang menurutnya mengapa panggung politik nasional begitu carut marut. Di sisi lain, ia juga mengatakan bahwa pada hari ini kita sedang mengalami krisis nilai. Ditengah arus politik yang kian pragmatis dan transaksional, kita jarang melihat idealisme dan sikap kenegarawanan dalam diri seorang politisi atau pejabat publik. Hal ini diakibatkan oleh krisis nilai di mana para politisi tidak lagi menjadikan nilai sebagai tolok ukur dalam berpolitik. Namun, yang terjadi ialah politik transaksional yang begitu nampak pada perpolitikan Indonesia. Bagi Whisnu, kita perlu menjadikan nilai sebagai panglima. Nilai-nilai seperti kebenaran, kejujuran, keadilan, dan lain sebagainya, perlu direhabilitasi untuk kemudian ditempatkan pada tempat yang seharusnya.

Pada hari ini, Whisnu mencalonkan diri sebagai kandidat Ketua Umum Badan Koordinasi (Badko) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jawa Barat. Ia membawa gagasan MOTEKAR sebagai semangat organisasi. Motekar dalam Bahasa Sunda berarti kreatif, gigih, dan banyak akal. Kreatifitas yang diangkat diarahkan pada usaha membangun gerakan guna menghadapi dan menjawab tantangan zaman. Dengan MOTEKAR diharapkan mampu membangun serta membawa Badko HMI  Jawa Barat ke arah yang lebih baik.

KOMENTAR