Khotbah Tokoh Ormas Radikal JAS Diminati, Tapi Organisasinya Dicurigai

0
loading...

TERASBINTANG.com – Salah satu ormas radikal pecahan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) pimpinan Abu Bakar Ba’asyir, Jamaah Anshorusy Syariah (JAS) mulai menguasi masjid-masjid di Jakarta. Salah satunya masjid al-Muhajirin yang terletak di Jl Dr Semeru Grogol Jakarta Barat.

JAS di masjid ini dipimpin Ustadz Syahrudin. Selain rutin mengadakan majlis taklim atau kajian dengan anggotanya secara eksklusif, ustadz Syahrudin juga sering menjadi khotib Jumat di masjid ini. Tak hanya pengurus takmir masjid, masyarakat di sekitar masjid ini pun begitu menghormati Ustadz Syahrudin.

“Saya kurang kenal dengan Ustad Syahrudin, tapi saya suka dengan khotbah-khotbahnya. Padahal di dekat sini juga ada masjid lain, tapi khotbahnya lebih bagus di sini. Selalu memberikan pencerahan tentang kondisi umat Islam saat ini,” kata salah satu warga, Zainuddin yang ditemui Terasbintang usai mendengar khotbah Ustadz Syahrudin, Jumat (8/1/2016).

Dalam setiap ceramah, kata dia, khotbah di masjid ini selalu menekankan pada perjuangan umat Islam melawan orang-orang kafir. Dalam pantauan Terasbintang, Syahrudin dalam ceramahya selalu menggambarkan karakter umat Islam pada masa Nabi Muhammad yang keras terhadap orang kafir. Tak hanya itu, umat Islam pada waktu itu menerapkan secara utuh ajaran Islam, yang membuatnya punya kekuatan besar.

“Berbeda dengan umat Islam sekarang, meski mayoritas tapi sudah menjadikan ajaran-ajaran lain, yang bahkan ciptaan orang kafir sebagai pedoman hidup. Tidak lagi menjadikan al-Quran sebagai satu-satunya ajaran dan jalan hidup. Bebera ajaran kafir yang dipaksakan ke umat Islam itu misalnya demokrasi, pluralisme, toleransi, kapitalisme, dan isme-isme yang lain. Karena itulah umat Islam lemah. Untuk itu kita harus kembali pada Islam agar kuat,” kata Syahruddin dalam khotbahnya.

Khotbah keras seperti itu rupanya disukai oleh warga, termasuk Zainuddin. Bahkan, Zainuddin sendiri mengaku pernah mengikuti pengajian rutin setiap malam Sabtu di Masjid itu. “Tapi hanya dua kali saya ikut, setelah itu disuruh keluar karena bukan anggota, katanya. Yang boleh ikut anggota resmi. Saya gak mau jadi anggota, takut ada kewajiban dari organisasi, apalagi gak tahu itu organisasinya seperti apa. Mereka tertutup kalau pengajian rutin. Hanya untuk anggota. Kalau bukan kita diusir,” cerita Zainuddin dengan semangat. (SUM)

loading...