Aktor Politik Demo Bela Islam Mulai “Linglung”, Segala Cara Dihalalkan!

0

TERASBINTANG.com – Pasca penetapan Basuki Tjahaja Purnama sebagai tersangka kasus penistaan agama, tampaknya para centeng politik kubu seberang mulai kehilangan cara untuk menggoyang Istana. Padahal, mereka, para pengendali aksi Bela Islam 4 November, berharap betul Ahok tak jadi tersangka. Kenapa? Jelas, karena di situlah kunci akumulasi kemarahan umat Islam akan meledak. Bila itu yang terjadi, para centeng ini bisa memanfaatkan keadaan untuk membuat kegaduhan, menggoncang stabilitas nasional, termasuk menurunkan Presiden Jokowi. Namun sayang, kenyataan malah berbalik. AHOK DITETAPKAN SEBAGAI TERSANGKA.

Apakah ini bagian dari strategi politik Jokowi untuk mengangkangi manuver politik lawan? Wallahu A’lam. Yang jelas, gerakan politik hanya pantas dilawan dengan taktik politik juga. Sebagai politisi, Jokowi tahu betul bagaimana cara menyikapi ini.

Coba pikirkan. Setelah Ahok jadi tersangka, kubu mana yang paling kecewa dan merasa dirugikan? Jelas bukan Ahok. Bukan pula pendukungnya. Tapi mereka yang hanya menjadikan kasus Ahok sebagai tunggangan politik untuk menggoyang Istana. Siapa mereka? Jokowi menyebutnya aktor politik 411. Kini, setelah Ahok jadi tersangka, apa mereka masih punya alasan serang Istana? Silahkan jawab sendiri.

Sebaliknya, ini malah membuat mereka semakin terkunci, tak bisa bergerak, apalagi keluar dari ruang gelap mereka. Sebab, mereka juga tak mau hajat politiknya terbongkar gara-gara terlalu gegabah dan norak menyikapi kasus Ahok. Apalagi, putusan Bareskrim telah menyadarkan massa Islam akan independensi Kepolisian dalam menangani kasus hukum.

Hal yang tak kalah membuat mereka kecewa adalah blusukan Presiden Jokowi ke sejumlah pimpinan ormas Islam, khususnya NU dan Muhammadiyah. Sudah barang tentu, ini akan mendegradasi kekuatan politik agitasi massa Islam.

Namun, kenyataan tersebut tak lantas membuat mereka diam begitu saja. Perlahan tapi pasti, mereka terus berusaha mencari pintu-pintu lainnya yang memungkinkan mereka bisa keluar dari jebakan cerdas buatan Jokowi itu. Isu lain mulai dihembuskan. Segala cara mulai dilakukan, biar yang haram sekalipun. Secara umum, ada dua isu yang mulai dikembangkan:

  1. Penistaan ulama oleh Jokowi
  2. Pembantaian massa Islam

Pertama, soal penistaan ulama. Bila kemarin menggebrak Istana karena kasus penistaan Ahok terhadap Alqur’an, kini tudingan penistaan itu mulai bergeser ke arah Jokowi sendiri.

Isu ini muncul dalam rapat Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF) kemarin. Jokowi dituduh menistakan ulama saat ‘Aksi Bela Islam’ kedua pada 4 November lalu.

Hal ini disampaikan Ketua Pembina GNPF MUI Rizieq Shihab. “Kami dari GNPF dengan menerima masukan dan saran dari semua ulama dan tokoh agamais dan nasionalis, kami sangat tersinggung, sangat kecewa dan sangat tidak bisa menerima penistaan terhadap ulama yang dilakukan Bapak Presiden,” kata Rizieq di AQL Center, Jakarta, Jumat (18/11).

Kedua, Jokowi dituduh melakukan pembiaran terhadap aparat membantai umat Islam. Ngeri! Masih menurut Rizeiq, pada Demo Bela Islam II kemarin, Jokowi dianggap membiarkan aparat keamanan melakukan tindakan represif. Rizieq menganalogikan sikap itu sebagai ‘pembantaian massal’. “Ini bukan kalimat hiperbola,” ujar Rizieq.

Entah apa yang dimaksud “pembantaian massal” itu, mengingat justru demonstranlah yang bertindak anarkis dan mengabaikan etika aksi damai itu, bukan aparat. Sekali lagi bukan aparat. Justru aparatlah yang ditindas bahkan ada yang ditusuk, dilempar, ditendang oleh demonstran.

Dua isu inilah yang akan berkembang minggu-minggu ke depan, sampai mereka menemukan momentum politik untuk turun lagi ke jalan. Karena hanya dengan cara inilah amarah umat Islam yang mulai kendor itu kembali bangkit. (za)

KOMENTAR

loading...