Anda Mengeluh Harga Cabai Mahal? Begini Modus Para Pengepul Permainkan Harga

0
loading...

TERASBINTANG – Belakangan ini masyarakat mengeluhkan tingginya harga cabai. Betapa tidak, harga cabai ini bahkan lebih mahal dari harga daging sapi. Pemerintah pun dibuat pusing karena mahalnya harga ini tidak wajar.

Setelah diselediki, melambungnya harga cabai ini ternyata ulah para pengepul. Mereka dengan sengaja mempermainkan harga demi keuntungkan pribadi.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Spudnik Sujono, mengatakan, para pengepul ini mengubah alur distribusi, yang semula dari petani ke pasar induk, menjadi dari petani ke tangannya sendiri untuk kemudian disalurkan ke industri.

Ada 9 pengepul besar di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timu yang terlibat dalam hal ini.  Setiap pengepul besar memiliki 4-5 pengepul kecil. Mereka bergerilya membeli cabai rawit merah dari petani dengan harga tinggi.

“Mereka beli dari petani Rp 60.000/kilogram (kg). Pengepul besar itu punya pengepul-pengepul kecil. Ini yang bikin harga jadi kacau,” kata Spudnik, Selasa (14/3).

Setelah membeli dari petani, cabai rawit merah dipasok lagi ke pengepul besar dengan harga yang lebih tinggi lagi, misalnya di kisaran Rp 75.000-Rp 80.000/kg.

Dari pengepul besar dipasok lagi ke industri makanan olahan, seperti pabrik sambal. Para pengepul besar ini telah memiliki kontrak jual-beli dengan harga tinggi.

“Mereka dapat delivery order dari industri dengan harga yang tinggi Rp 181.000/Kg,” kata dia.

Jadi, para pengepul ini menikmati keuntungan besar karena industri berani membayar tinggi. Konsekuensinya, para pengepul mengurangi pasokan cabai ke pasar induk, contohnya Pasar Induk Kramat Jati.

Dampaknya, pasokan cabai rawit merah ke Pasar Induk Kramat Jati berkurang drastis yang mengakibatkan harga melonjak di atas Rp 130.000/kg, bahkan sempat tembus Rp 160.000/kg.

“Pasokan ke Pasar Induk Kramat Jati yang biasanya 50 ton per hari ditekan sehingga harga naik,” tuturnya. (SU)

loading...