Anggap Enteng Kata “Pakai”, Buni Yani, Yuk Kita Belajar Bahasa Indonesia! 

0

TERASBINTANG.com – Pengacara Buni Yani, Aldwin Rahadian, mengkalim penghilangan kata “pakai” sama sekali tidak mempengaruhi hukum. Sebab, katanya, ada atau tidak kata itu sama saja dari sisi pengertian dan maksudnya serta tidak ada hukum yang dilanggar.

Sebelumnya, Buni Yani membubuhi transkrip yang tidak utuh atas video pidato Gubernur DKI Non-Aktif Basuki Tjahaja Purnama di Kepulauan Seribu. Penghilangan kata ini diduga jadi pemicu kemaharan umat Islam.

Menanggapi hal tersebut, pemerhati sosial, Ahmad Yulden Erwin, menjelaskan duduk perkara yang tengah membuat umat islam panas dingin itu.

Bagaimana pun, kata Septa, kata “pakai” dalam konteks pernyataan Ahok sangat penting. Bila kata ini dihilangkan, justru maknanya akan berubah jauh. Begini penjelasan lengkapnya:

PELAJARAN DASAR TENTANG KALIMAT PASIF DAN AKTIF

1. Kalimat pasif: “Kalian dibodohi surat al-Maidah 51.”

PERTANYAAN: Mana fungsi subjek dan objek dari kalimat pasif di atas?

JAWAB: Untuk mengetahui fungsi subjek dan objek dari kalimat pasif di atas, maka kita harus mengubahnya menjadi kalimat aktif terlebih dulu, seperti contoh berikut ini:

Kalimat aktif: “Surat al-Maidah 51 membodohi kalian.”

(Surat al-Maidah 51 = subjek, membodohi = predikat, kalian = objek).

——————————————–

2. Kalimat pasif: “Kalian dibodohi pakai surat al-Maidah 51.”

PERTANYAAN: Mana fungsi subjek dan objek dari kalimat pasif di atas?

JAWAB: Untuk mengetahui fungsi subjek dan objek dari kalimat pasif yang kedua, kita tidak bisa langsung mengubah kalimat pasif tersebut menjadi kalimat aktif seperti contoh kalimat pasif yang pertama. Alasannya? Karena kehadiran kata “pakai” itu tidak bisa membuat “surat al-Maidah 51” langsung menjadi fungsi subjek pada kalimat aktif. Mengapa? Hal itu disebabkan kehadiran kata “pakai” membuat “surat al-Maidah 51” menjadi keterangan cara dari fungsi predikat pada kalimaf pasif tersebut, bukan berfungsi sebagai subjek. Oleh sebab itu kita harus melengkapi kalimat pasif yang kedua dengan menghadirkan fungsi subjek terlebih dahulu, sebelum bisa diubah menjadi kalimat aktif. Contohnya begini:

2.A. “Kalian dibodohi pakai surat al-Maidah 51 oleh para politisi.” *)

Bila sudah dilengkapi fungsi subjek, barulah kalimat pasif yang kedua bisa diubah menjadi kalimat aktif, begini:

“Para politisi membodohi kalian pakai surat al-Maidah 51.”

Kalau dalam bentuk kalimat negatif, maka kalimat pasif 2.A. di atas dapat diubah seperti contoh berikut ini:

2.B. “Kalian jangan mau dibodohi pakai surat al-Maidah 51 oleh para politisi.”

Sedangkan kalimat aktifnya akan menjadi begini:

“Para politisi tidak boleh membodohi kalian pakai surat al-Maidah 51.”

—————————————–

Saya pikir negeri ini benar-benar kocak bila puluhan ribu orang datang ke Jakarta untuk melakukan aksi “bela agama Islam”, hanya karena mereka tidak paham pelajaran mendasar tata bahasa Indonesia soal kalimat aktif dan kalimat pasif. 

————-
CATATAN:
————-

*) Bila analisis saya di atas mau diletakkan dalam konteks ucapan Ahok di Kepulauan Seribu beberapa waktu lalu, maka bisa dijelaskan begini:

Dalam transkrip yang beredar seputar ucapan Ahok di Kepulauan Seribu tertulis, “Jadi jangan percaya sama ORANG. Kan bisa saja dalam hati kecil bapak-ibu enggak bisa pilih saya. Karena Dibohongin PAKAI surat al-Maidah 51 macem-macem gitu lho (orang-orang tertawa). Itu hak bapak-ibu, ya.”

Dari pernyataan Ahok itu, jelas tak ada kata yang bisa merujuk ke kata “ustad” dan atau “ulama” (dalam konteks ahli agama Islam) untuk mengganti kata “ORANG”. Kalimat-kalimat di atas justru muncul dalam konteks pemilu. Jika kata “ORANG” dalam kalimat Ahok Itu mau dipaksakan merujuk pada ustad atau ulama, maka hal begitu kalau dalam logika dinamakan faktor yang “tiba-tiba muncul”, seperti “prinsip ledakan” dalam logika klasik atau modern, hal yang absurd, hal yang tidak valid dalam argumen.

Mestinya, bila ditinjau dari analisis pragmatik atau sosiolinguistik, para pihak harus melihat konteks pengucapan kalimat Ahok itu dalam rangka apa. Kalau dibaca dari pernyataan Ahok (merujuk pada frasa “enggak bisa pilih saya”), jelas sekali konteksnya adalah pemilu. Maka, mestinya kata “ORANG” di sana ditafsirkan dalam konteks politik dan pelakunya adalah “politisi”, bukan ulama. (za)

KOMENTAR

loading...