Astaga! Giliran Burung Garuda di TMII Jadi Sasaran Fitnah Kaum Sumbu Pendek

0
loading...

TERASBINTANG.com – Hiruk pikuk politik Pilkada tampaknya semakin memanas. Berbagai trik dan strategi masing-masing paslon dikerahkan. Ironisnya, tak hanya trik positif yang dimainkan, melainkan juga tipu daya, hoax, ujaran kebencian hingga SARA turut dijadikan sumbu peledak api kemarahan massa.

Sosial media yang seharusnya dipakai untuk saling terhubung satu sama lain, membangun silaturrahmi, malah berbalik fungsi menjadi sebentuk alat yang justru memblokir kita dari ruang sosial itu. Kenapa? karena ternyata sosial media dipakai sebagai ajang untuk menabur fitnah, hoax, kebencian, caci maki dan saling menjatuhkan satu sama lain, apalagi di musim-musim Pilkada seperti saat ini.

Baru-baru ini, rakyat Indonesia digemparkan dengan sebuah gambar editan Patung Burung Garuda di Taman Mini Indonesia Indonesia Indah (TMII). Foto tersebut menampilkan punggung Burung Garuda yang di bagian bawahnya tercantum Bendera Merah-Putih dan Pancasila. Yang bikin kita shock, lima bait Pancasila diterjemahkan dengan menggunakan tulisan China.

China. Ya lagi-lagi China jadi sasaran kambing hitam kaum sumbu pendek untuk melancarkan fitnah-fitnahnya. Betapa dzalim dan berbahayanya orang-orang ini. Mereka dengan sengaja menyebarkan fitnah untuk menyudutkan pemerintah, seolah-olah China mendapatkan perlakuan istimewa di bawah kepemimpinan Jokowi.

Perhatikan gambar 1 berikut:

Gambar 2.

Foto ini sengaja diedit untuk membangun opini sesat bahwa bangsa ini, di bawah rezim yang sekarang sudah benar-benar tidak berdaya di hadapan China. Begitulah kira-kira. Fitnah seperti ini benar-benar kejahatan yang harus diusut.

Padahal, bisa kita lihat dengan jelas, bagian belakang Patung Burung Garuda di TMII tidak ada tulisan apapun, selain tembok penyangga patung Garuda itu. Lihat gambar aslinya:

Inilah gambar aslinya. Tak ada tulisan atau tanda apapun, bukan?

Fitnah dan foto gambar editan ini menyabar melalui berbagai saluran jejaring sosial, khususnya WhatsApp. Sang pengirim membubuhinya dengan mencatut panglima TNI agar segera mengusut pembuat patung lengkap dengan tulisan berbahasa China itu. Lalu si penyebar yang (mungkin) juga pembuatnya tersebut, seolah-olah merasa prihatin Indonesia sudah benar-benar dikuasai China. Berikut tiga poin keprihatinannya:

  1. Letak atau Posisi tulisan Texs pancasila yg salah.
    Yg seharus nya ada di depan burung garuda bukan di belakang burung garuda. Dan ini termasuk penghinaan terhadap pancasila.
  2. Tulisan yg mengunakan huruf/bahasa china. Kenapa tidak mengunakan bahasa indonesia atau bahasa daerah” yg ada di indonesia. Mari kita balik ke sejarah. Karna china tidak ikut dlam merebut kemerdekaan di negeri ini.
  3. China datang ke indonesia jaman penjajah murni tujuan dagang. Dan kenapa tidak mengunakan bahasa arab juga…???? Yg jelas” arab negara yg mendukung kemerdekaan indonesia. Malahan china tidak mendukung kemerdekaan Indonesia di jaman penjajahan belanda dan jepang.

 

Bisa dibayangkan, publik disuguhi dengan pemandangan SARA seperti ini.

Ada kecurigaan, fitnah ini sengaja dibuat untuk membangun kebencian massal terhadap etnis China yang saat ini memang tengah menjadi trend di sebagian kelompok masyarakat kita.

Etnis China memang selalu menjadi kambing hitam dalam setiap persoalan bangsa ini. Apalagi, saat ini sedang gencar-gencarnya kampanye Pilgub DKI, di mana salah satu kandidat terkuatnya adalah keturunan China. Apakah ini bagian dari propaganda politik jelang Pilgub? Wallahu A’lam. Yang jelas belakang ini, isu SARA memang tampak menjadi menu kunci politik Pilkada Jakarta.

Nah, sekarang sudah paham kan, bagaimana para bigot itu melancarkan tipu daya mereka demi keuntungan pribadi. Mereka menyamar seolah-olah peduli bangsa ini, mengaku-ngaku pribumi, tapi terus-menerus menyebarkan kebencian terhadap sesama anak bangsa. Mulai sekarang, sudah saatnya kita berhati-hati!

Polri sebagai lembaga penegak hukum harus segera mengusut foto editan tersebut. Bagaimana pun foto-foto palsu itu bisa jadi duri bagi keberagaman dan kemajemukan kita.

 

 

loading...