Bachtiar Nasir Alirkan Logistik ke Teroris Suriah, Benarkah?

0
loading...

TERASBINTANG.com – Di tengah duka konflik Suriah yang menyanyat jiwa kemanusiaan kita, terdengar kabar memilukan bahwa selama ini bantuan rakyat Indonesia untuk warga Aleppo yang terdampar di pengungsian tidak sampai kepada yang berhak. Sebaliknya, bantuan tersebut malah disalurkan kepada teroris yang menjadi biang masalah konflik di Suriah.

Dengan kata lain, logistik yang dikumpulkan dari para dermawan Indonesia itu tidak diperuntukkan bagi warga sipil Aleppo yang kelaparan, melainkan ditujukan untuk mensupport kelompok teror Jaysh Al-Islam. Dari dus atau kotak yang terlihat, logistik tersebut berasal dari IHR (Indonesian Humanitarian Relief). Setelah dilacak, ternyata IHR ini dipimpin oleh Bachtiar Nasir, Ketua GNPF-MUI.

Logistik tersebut ditemukan warga, setelah Tentara Suriah berhasil mengusir teroris yang sebelumnya menguasai Aleppo. Betapa mengejutkan, dari sekian tumpukan logistik sisa-sisa teroris itu, terdapat pula kardus-kardus dan kotak logistik dari Indonesia melalui lembaga pimpinan Bachtiar Nasir itu.

Hal ini tampak dalam sebuah video yang diunggah melalui youtube. Dalam rekaman video yang beredar di sosial media itu tampak begitu jelas bahwa bantuan yang selama ini dikumpulkan rakyat Indonesia yang digalang beberapa ormas Islam Wahabi, baik melalui kegiatan dakwah atau situs-situs yang dioperasikan oleh mereka, ternyata tidak pernah sampai ke tangan rakyat Suriah, melainkan kepada kelompok teroris yang telah menimbulkan malapetaka di Suriah. Selengkapnya bisa dilihat melalui link ini: https://www.youtube.com/watch?v=dJz5srnOPto

Dalam video tersebut, warga sipil Suriah dari di Aleppo Timur menyerbu bekas markas teroris Jeish al-Islam untuk mengambil sejumlah makanan dan minuman yang memenuhi markas para teroris.

Mereka rebutan mengambil berbagai bahan makanan dari markas Jeish al-Islam itu. Ameer Saleem, warga Aleppo yang mengambil rekaman tersebut mengatakan bahwa selama ini warga hidup dalam kelaparan, sedangkan para teroris menimbun makanan.

“Mereka tidak membiarkan kami makan bahkan untuk sepotong roti,” katanya, “Kami sekarat karena kelaparan, dan kami terbiasa tidur setiap malam dalam keadaan lapar,” tambahnya dalam video yang pertama kali diunggah dua hari lalu itu.

Gerakan terselubung atas nama Indonesian Humanitarian Relief, yang selama ini telah membodohi rakyat Indonesia dengan segudang provokasi, tangisan buaya, foto-foto palsu dan laporan-laporan propaganda, berhasil memikat jutaan rakyat tanpa menimbulkan kecurigaan sehingga kiriman logistik tersebut bisa leluasa keluar-masuk melewati negara-negara yang dilaluinya dan berakhir jatuh di tangan kelompok teroris.

Kejadian tersebut memantik pertanyakan banyak pihak, benarkah Bachtiar Nasir punya hubungan baik dengan genk teroris di Suriah?

Untuk mengetahui jawaban itu, terasbintang.com mencoba menghubungi salah satu pengurus Ar-Rahmah Qur’anic Learning (AQL) bernama Husna. AQL adalah sebuah lembaga Al Qur’an besutan Bachtiar Nasir.

IRH sendiri, seperti tercantum dalam situsnya IRH, http://www.ihr.foundation/, berdiri pada 17 Mei 2016, dan diresmikan di Aula Ar-Rahman Qur’an Learning (AQL) Center, Tebet, Jakarta, Jumat, 19 Ramadhan 1437 (24/06/2016). “IHR berkomitmen untuk memberikan bantuan kemanusiaan secara berkala dan berkesinambungan sebagai bentuk peran aktif masyarakat Indonesia dalam upaya penganggulangan problem kemanusiaan global,” tulis situs tersebut.

Penggunaan nama IHR sendiri diambil dari bahasa Inggris, yakni Indonesian Humanitarian Relief (IHR), kuat dugaan penamaan lembaga berkedok kemanusiaan ini bertujuan untuk mengelabuhi petugas kapabean bandara dan pelabuhan, sehingga kiriman logistik tersebut bisa leluasa keluar masuk melewati negara-negara yang dilaluinya, sehingga sampai di tangan kelompok teroris itu.

“Dari nama, IHR itu sudah “belut”; berpotensi mempermudah pengiriman dan tidak mencurigakan kepabean bandara dan dermaga to?,” kata sejarawan yang juga Gusdurian, Rumail Abbas, melalui akun Twitter pribadinya.

Sayang, Husna enggan berkomentar apapun mengenai bantaun yang disalurkan ke Suriah, termasuk bagaimana hubungan antara Bachtiar Nasir dengan kelompok teroris yang sempat melumpuhkan Aleppo itu. Sebaliknya, ia malah menuduh media yang telah memberitakan soal bantuan ke tangan teroris itu adalah media yang dibina oleh orang-orang Syiah, yang menurut pandangannya, memusuhi Islam.

“Yang memberitakan itu kan kita lah ya, medianya orang Syiah. Kita sama-sama tahu lah. Intinya saya tidak bisa berkomentar apapun mengenai pemberitaan itu karena saya bukan Jubir AQL,” kata Husna saat dihubungi melalui telpon.

Bila ditelusuri, Ketua Umum IHR, Bachtiar Nasir dalam peresmian lembaganya itu, mengatakan, pihaknya akan mengirimkan uang sebesar 100 ribu dolar AS bagi pengungsi Suriah yang berada di Turki. Namun, fakta menunjukkan bahwa bantuan itu ada di gudang-gudang teroris bukan pengungsi Suriah.

Aparat Harus Bertindak

Bila benar Bachtiar Nasir punya hubungan dengan kelompok teroris bahkan bantuan rakyat Indonesia yang disalurkan melalui lembaga Bachtiar Nasir ternyata disalurkan ke jaringan teroris, maka pemerintah wajib bertindak tegas untuk menelusuri kebenarannya.

“Pemerintah jangan tinggal diam, Polisi, Densus 88, dan BNPT harus pro aktif agar tidak berkembang menjadi bola saju yg semakin menggurita di Indonesia,” kata pengamat sosial-keagamaan, Zen Aljufri.

“Bukti awal berupa supply logistik ke teroris bisa dijadikan pijakan penyelidikan,” katanya.

loading...