Bambang Tri, Sejenis “Kuli” Politik yang Susah Move On?

0

TERASBINTANG.com – Tak banyak orang tahu siapa Bambang Tri Mulyono. Kita hanya tahu lewat status-status Facebook pribadinya yang cenderung antipati terhadap Presiden RI Joko Widodo. Nyaris tak ada karya yang betul-betul membanggakan, kecuali setumpuk kekesalannya itu yang tiap hari ditumpahkan di sosial media. Entah apa yang melatari rasa benci itu. Satu hal yang pasti, ia benci Jokowi bukan karena performa dan kapasitas orang nomor wahid di Indonesia itu. Lalu apa? Entahlah. Rumput yang bergoyang pun bingung.

Namun memang perlu diakui, dia termasuk salah satu penulis yang cukup produktif. Dia adalah salah satu penulis senior Indonesia yang bernaung di bawah Penerbit Pustaka Pesantren. Semacam Jonru? Tidak juga. Dari sisi karakter bisa jadi sebelas-duabelas. Sebuah buku berjudul “Jokowi Andercover” adalah buah tangannya. Konon, buku ini pula yang membuatnya lebih dikenal banyak kalangan. Buku ini adalah saksi betapa separuh hidupnya penuh dengan bayang-bayang Jokowi. Kesimpulan dari buku tersebut adalah bahwa  Jokowi keturunan PKI. Dari Buku ini pula, motif api kebencian itu terasa menemukan titik terang, mengingat nama PKI masih dianggap tabu di negari ini.

Dalam buku tersebut, Bambang Tri menfitnah Jokowi sebagai anak PKI tulen, yaitu anak dari WIDJIATNO alias “Nyoto” sang tokoh PKI, dan seterusnya.

Satu karakter umum yang banyak dikenal orang dari sosok yang satu ini adalah kengototannya untuk melakukan revolusi. Entah revolsi semacam apa yang dia inginkan. Yang pasti sasaran targetnya adalah Jokowi dan wakilnya, Jusuf Kalla. Bukan yang lain. Untuk tujuan inilah, ia menggalang satu perkumpulan – entah siapa pribadi-pribadi konyol yang gabung di dalamnya – bernama DRN (Dewan Revolusi Nasional). Dia sendiri memimpin perkumpulan ini.

Lewat RDN, Bambang Tri berjuang untuk mengembalikan Indonesia kepada UUD 1945 yang asli. Tujuannya, agar Jokowi-JK bisa rontok di depan keagungan negara, meski darah dan kekerasan jadi taruhannya.

“Kalau kita bisa sepakat soal ini, kita akan melihat dengan seterang-terangnya. Kejahatan terhadap negara yang tengah dibangun rejim Mega-Joko-Kalla. Kalau Iblis dan Setan minta korban darah dan korban bakar-bakaran, maka Tuhan yang maha pemurah hanya menuntut kesadaran dan kerendahan hati para pendukung revolusi kita. Aku sendiri percaya, kalau kalian ada yang takut-takut, Tuhan akan memaafkannya,” dalam status facebook pribadinya, hari ini Sabtu (26/11).

Bila kita lihat status-status Facebooknya, Bambang Tri rupanya termasuk tipe orang yang susah move on. Betapa tidak, ia menghabiskan separuh hidupnya memelihara kebencian kepada Presiden. Walaupun kita tak pernah tahu, perjuangan konyolnya itu benar-benar didasarkan atas niat baik, untuk kepentingan negara, atau sebaliknya: sekedar mencari sensasi, pemuas hasrat politik, atau sekedar penumpahan kekesalannya akibat kekalahan politik 2014 kemarin. Kenapa demikian? Mari kita bahas rekam jejak dan afiliasi politiknya.

Fitnah Gus Mus

Pernah suatu ketika, dia menyeret nama Gus Mus, sapaan akrab KH Mustofa Bisri, seorang Kiai kharismatik yang sangat dihormati, untuk sebuah misi pribadi dan kelompoknya terhadap kekuasaan.

Bambang Tri menfitnah dan mencatut nama pengasuah Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang itu lewat sebuah Naskah Pengantar Deklarasi Dewan Revolusi Nasional (DRN) 2016 di akun facebook pribadinya.

Selidik demi selidik, ternyata hal itu tidak benar dan merupakan fitnah. Gus Mus yang telah dicatut namanya dan dijadikan objek fitnahan tersebut membantahnya dalam akun facebooknya.

“Lha kok ya ada yang tega-teganya bikin beginian dan ada yang percaya lagi. Salahku apa, kok orang-orang termasuk yang gak kenal aku menyangkut-pautkan aku dalam kepentingan mereka,” tutur Gus Mus dalam akun facebooknya.

Bahkan putri Gus Mus, Ienas Tsuroiya, juga turut prihatin atas tuduhan fitnah yang sangat keji dan mungkar buatan Bambang Tri tersebut. yang prihatin atas fitnah yang menimpa beliau. Apalagi, keluarga masih dalam keadaan berduka selepas wafatnya Bu Nyai Fatma.
“Nggak habis pikir saya, kok ada orang yang setega ini. Tolonglah, Abah saya masih dalam suasana duka. Kenapa diperlakukan seperti ini,” keluh Ienas di laman facebook pribadinya.
Gus Mus pantas marah, karena ini bukan sekali dua kali beliau difitnah. Apalagi, ini sudah mulai menyeret-nyeret nama Gus Mus dalam urusan politik Bambang Tri. Lalu ke mana arah mata angin politik Bambang? Mari kita telusuri.

Afiliasi Politik

Pilpres 2014 lalu membuka mata kita mengenai siapa sosok Bambang Tri dan ke mana afiliasi politiknya. Bisa jadi, kebenciannya terhadap Jokowi karena hasrat politiknya pada Pilpres lalu tak kesampaian. kenapa, karena dia adalah pendukung Prabowo Subianto, Capres yang diusung Partai Gerindra. Dari sini, sudah tampak jelas kelamin politik DRN yang gembar-gembor revolusi UUD 45 dan NKRI itu.

Saat politik tengah keruh, publik seakan terbelah, pertarungan opini tak terkendali pada Pilpres 2014 lalu, Bambang Tri masih sempat-sempatnya memperkeruh keadaan dengan menfitnah Gus Mus (KH Mustofa Bisri) telah meminta EMHA Ainun Najib untuk menjadi Timsesnya Prabowo Subianto.

“KALAU GUS MUS TIDAK DUKUNG PRABOWO, MENGAPA DIA MENUGASI EMHA UNTUK DUKUNG PRABOWO?,” kata Bambang, yang lagi-lagi dibantah Gus Mus. Gus Mus tak mungkin melibatkan diri dalam politik sekeruh Pilpres lalu.

Bambang ingin mengarahkan opini publik bahwa Gus Mus mendukung Prabowo Subianto, meski dukungan tersebut dilakukan secara halus. Gus Mus bekerja untuk pemenangan Prabowo dengan cantik. Gitu lah kira-kira.

Afiliasi politik Bambang makin terang-benderang setelah ia memosting sebuah foto dengan loyalis Prabowo yang sangat tangguh, Fadli Zon. Artinya, pada Pilpres lalu, Bambang bukan hanya terlibat dalam kerja-kerja teknis di bawah, tetap dia lebih sebagai calo politik pendukung ke atas. bahkan sempat beberapa kali ia mengaku menghubungi Fadli Zon. Dari pengakuan inilah tampak, dia memang punya kedekatan tersendiri secara politik dengan petinggi Gerindra.

“Bolehkah ini saya sampaikan ke Prabowo dan Emha Gus? lalu saya kontak Fadli Zon, tapi nggak ada respons,” katanya.

Bambang Tri

Dari uraian di atas, maka pertanyaannya, apakah Bambang Tri Mulyono adalah salah satu orang Gerindra dan pendukung Prabowo Subianto yang belum bisa move on? Hanya Bambang Tri dan Allah lah yang tahu.

 

 

 

 

 

KOMENTAR