Belajar dari Kasus Brigadir Petrus, Polisi Tingkatkan Spritualitas dan Solidaritas Anggota

0

TERASBINTANG.com – Kasus mutilasi anak kandung yang dilakukan Brigadir Petrus Bakus, anggota Polres Melawi Kalimantan Barat, menjadi pelajaran berharga bagi pembenahan kepolisian.

Sepereti diketahui, Petrus yang diduga kesurupan dan atau mengidap penyakit kejiwaan schizoprenia itu tega memutilasi dua anaknya, Febian (laki-laki, 5 tahun) dan Amora (perempuan, 3 tahun), di asrama Polres Melawi pada pukul 24.00 WIB, Kamis, 25 Februari 2016.

Agar kasus serupa tak lagi terjadi, Kapolresta Depok, Komisaris Besar Dwiyono, meminta kepada para perwira di jajarannya untuk meningkatkan solidaritas anggota dan keterbukaan. Sehingga, kata dia, semua akrab dan saling cerita tentang masalah masing-masing.

“Saya minta para Kapolsek, Kasat, Kabag dan seluruh perwira untuk lebih terbuka dengan anggota. Jika ada anggota yang sudah mulai terlihat aneh segera tindaklanjuti. Periksa urinnya atau bawa ke dokter. Para perwira harus lebih memperhatikan anggotanya,” kata Dwiyono dalam pidatonya di acara syukuran Polsek Sukmajaya, Minggu (28/2/ 2016).

Dengan keakraban dan keterbukaan itu, kata dia, tidak ada sekat yang menyebabkan seorang anggota enggan menceritakan masalah pribadinya. Selain itu, kata Dwiyono, tentu yang paling penting adalah meningkatkan aspek spritualitas anggota.

“Kami menyadari tantangan tugas yang kami emban cukup berat, maka perlu peningkatan mental spiritual dari sisi agama. Setiap Jumat, bagi yang muslim saya wajibkan untuk membaca Yasin. Ini berkaitan dengan pembinaan mental,” jelasnya. (SUM)

KOMENTAR