Benarkah Islam Melarang Umatnya Pilih Pemimpin Non-Muslim? Ini Penjelasan Pakar Qur’an

0

TERASBINTANG.com – Ketua Asosiasi Ilmu Alquran dan Tafsir se-Indonesia (AIAT), Dr. Sahiron Syamsuddin, turut membedah tafsir Alqur’an mengenai surat Al Maidah 51. Analisa ini muncul untuk menyikapi kontroversi Surat Al Maidah 51 yang belakangan menjadi viral setelah Gubernur DKI Non-Aktif, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), mengutip surat itu dalam pidatonya.

Ayat ini juga kerap dijadikan alat oleh kekuatan politik tertentu untuk mendomplang suara pemilih di Pilkada. Masjid dan ceramah-ceramah agama mulai intens menyebarluaskan ayat ini kepada umat Islam.

Terlepas dari semua klaim dan opini yang muncul belakangan, Sahiron mencpba menggali lebih dalam apa sebenarnya makna Surat Al Maidah 51? Bagaimana konteks hiistorisnya? Benarkah ayat ini melarang umat islam memilih calon pemimpin non-muslim?

Dosen Fakultas Adab ini mengkaji konteks historisitas turunnya ayat serta perbedaan tafsir ulama klasik dalam menyikapi ayat ini. Menurutnya, umat Islam harus hati-hati dalam menerjemahkan kata “Auliya” dalam ayat ini. Sebab, apabila membaca kitab tafsir-tafsir klasik, maka kita akan mendapati keterangan yang cukup berbeda-beda.

“Muhammad ibn Jarir al-Thabari, misalnya, menafsirkan kata awliya’ dengan anshar wa hulafa’ (penolong-penolong dan aliansi-aliansi atau teman-teman dekat) (al-Thabari, Jami‘ al-Bayan 8: 507),” kata Sahiron, dikutip dari website resmi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Pakar tafsir Profesor UIN Jakarta, M. Quraish Shihab, juga memaknai hampir sama: ‘para wali’ (teman dekat dan penolong). Ini bisa dilihat di bukunya, al-Qur’an dan Maknanya, halaman 117.

Namun demikian, ia juga mengakui sebgaian ulama Indonesia yang menafsirkan kata “Auliya” sebagai “pemimpin”, salah satunya adalah Buya Hamka dalam Tafsir Al Azar.

Konteks Turunnya ayat

Dilihat dari konteks turunnya ayat Al Maidah 51, Sahiron mengurai sejumlah riwayat yang juga berbeda-beda. Menurutnya, ada yang meriwayatkan bahwa ayat tersebut terkait dengan kekhawatiran umat Islam menjelang terjadinya perang Uhud (pada tahun kedua Hijriyah); karena itu, sebagian dari mereka mencoba meminta bantuan teman-teman Yahudi, dan sebagian yang lain ingin meminta bantuan kepada kaum Nasrani di Madinah; ayat tersebut turun untuk menasehati umat Islam saat itu agar tidak meminta bantuan kepada mereka.

Sebagian riwayat lain menerangkan bahwa ayat tersebut berkaitan dengan Abu Lubabah yang diutus Rasulullah Saw kepada Banu Quraizhah yang merusak perjanjian dukungan dan perdamaian dengan Rasulullah dan umatnya.

Terlepas dari perbedaan riwayat akan ayat ini, kata Sahiron, satu hal yang pasti bahwa ayat Al Maidah turun dalam konteks peperangan, dimana kehati-hatian dalam strategi perang harus selalu diperhatikan, sehingga tidak boleh meminta bantuan dari pihak-pihak lain yang belum jelas komitmennya. Dengan kata lain, konteks historis turunnya ayat itu bukan pertemanan dalam situasi damai, dan bukan pula konteks pemilihan kepala pemerintahan. Dengan kata lain, konteks historis turunnya ayat itu bukan pertemanan dalam situasi damai, dan bukan pula konteks pemilihan kepala pemerintahan.

Itu sebabnya, ia pun meminta umat Islam untuk tidak terburu-buru mengaitkan ayat tersebut dengan politik Pilkada yang akan berlangsung pada 2017 mendatang. Sebab, kalau dilihat dari konteks turunnya, justru tidak ada tanda-tanda keterkaitan dengan kepemimpinan dalam hal pemerintahan.

“Ayat tersebut tidak ada hubungannya dengan pemilihan kepala negara atau kepala daerah. Islam hanya mengajarkan bahwa kepala negara atau daerah sebaiknya orang yang mampu berbuat adil kepada seluruh masyarakat yang berada di wilayah kekuasaannya, tanpa memandang perbedaan agama dan suku,” pungkasnya. (Watir)

KOMENTAR