Berkerumum Adalah Strategi Gerakan yang Rawan Dimanfaatkan

0
loading...

TERASBINTANG.com – Intelektual muda Islam yang juga dosen di Monash University Nadirsyah Hosen akhirnya menanggapi kontroversi cuitannya yang menyebut “Berbuih-buih dahulu, berkualitas kemudian”. Cuitan cerdas melalui akun Twitter pribadinya sempat menuai kontroversi di kalangan kaum sumbu pendek seolah-olah tokoh muda NU ini menghasut dan meremehkan umat Islam yang hadir dalam aksi demo super damai 212.

Lalu apa sebenarnya yang dimaksud “buih” dalam cuitan Nadir itu?

Menurutnya, ada pihak yang berperan untuk menenangkan umat. Ada yang ambil peran lain yaitu untuk memenangkan umat. “Saya selalu ambil peran yg terakhir ini, yaitu bagaimana umat ini cerdas dan menang secara kualitas. Tidak sekedar bangga dg jumlah. Term buih yg saya maksud ditujukan kpd kerumunan (cek lagi twit saya) bukan pada individu. Respon sebagian pihak itu seolah saya merendahkan kualitas individu yg berada di sana. Keliru!,” katanya.

Dalam cuitannya yang kontroversial itu, kiai muda NU ini sebenarnya ingin menegaskan soal strategi pergerakan umat. Menurutnya, berkerumun itu membuat gerakan umat mudah terbaca, mudah diombang-ambingkan dan mudah dimanfaatkan. Bagaimana mungkin, mengurusi masalah seorang Ahok -sapaan akrab Basuki Tjahaja Purnama- harus mengeluarkan resources umat yang terbatas ini sampai ratusan miliar rupiah untuk 3 kali aksi, termasuk biaya pengamanan TNI/Polri.

Kalau ini yang dilakukan umat Islam, kata Nadir, berarti mereka masih berupa kerumunan, belum strategis, taktis dan visioner. Yang disebut pemimpin umat sekarang adalah mereka yang lantang berteriak dan mengumpulkan kerumunan. Gak usah pakai dalil dan riset. Cukup bisa teriak mengumpulkan kerumunan maka dia dianggap pemimpin. “Pada titik ini saya ingatkan lewat twit saya agar jgn berbangga dg jumlah yg sdh diingatkan Nabi dg istilah bagai buih. Kita harus mulai geser cara pandang dari kuantitas ke kualitas.”

“Itu yang sebenarnya saya maksud. Saya bicara strategi pergerakan meningkatkan kualitas umat menegakkan kembali peradaban Islam yg porak poranda,” tambahnya.

Tapi bukankah yang hadir di Monas juga banyak orang yang berkualitas?

“Betul. Tapi sekali lagi yang saya soroti bukan individu tapi kerumunan-nya. Jadi saya tdk merendahkan para tokoh dan ulama yg hadir. Fokus saya pada strategi dan kualitas umat secara umum.”

Cuitan tersebut belakangan banyak mengundang reaksi, terutama dari kalangan sumbu pendek, yakni kaum Salawi, yang selalu memandang orang berbeda salah belaka.

“Banyak netizen mencaci maki saya. Gak apa-apa saya terima. Perlu ada orang yang tega mengingatkan umat. Saya sediakan diri saya menjadi samudera yg menampung keluh kesah, sumpah serapah dan caci maki para buih. Mungkin ini caraNya Allah mengingatkan kita semua agar kita lebih taktis, stategis dan efektif membangun kembali peradaban Islam agar buih bisa berubah menjadi gelombang dahsyat,” pungkasnya.

loading...