Biadab! Genk Teroris Pengusung Khilafah Latih Anak-anak Indonesia Jadi Mesin Pembunuh

0
loading...

TERASBINTANG.com – Kelompok teroris yang mengusung negara Islam dan Khilafah seperti ISIS dan sejenisnya, ternyata bukan hanya terlibat kejahatan dan pembunuhan keji laki-laki, perempuan dan anak-anak sekali pun, mereka juga terlibat pencucian otak anak-anak di bawah umur untuk merubah mereka menjadi mesin pembunuh.

Bocah yang masih belum mampu memikirkan dirinya itu direkrut dan dicuci otaknya untuk menjadi mesin pembunuh demi kepentingan-kepentingan mereka. Ironisnya, mereka menjadikan agama Islam sebagai kedok kejahatan-kejahatan ini.

Baru-baru ini, beredar sebuah video yang memperlihatkan anak-anak di bawah umur dari Indonesia, yang telah direkrut untuk melakukan kegiatan teror. Rekaman video tersebut diambil dari sebuah kamp militan ISIS di Hasaka, timur laut Suriah.

Rekaman video itu memperlihatkan puluhan bocah ingusan anak di bawah umur, yang didampingi beberapa pria bersenjata, dan kesemuanya mengenakan pakaian militer ISIS dan bersenjata lengkap. Mereka dilatih perang, menembak, sambil belajar agama.

Ketika ditanya cita-cita di masa depannya, salah seorang anak itu menjawab, “qatil.” Qatil adalah bentul “fail” dari kata “qatala” yang artinya “pembunuh”. Sebuah pengakuan yang sangat mengerikan.

Di akhir rekaman video itu, memperlihatkan tumpukan paspor anak-anak untuk dibakar. Pembakaran paspor ini menjelaskan dan memberikan sebuah pesan nyata ISIS, bahwa masa kecil anak-anak ini telah dirampas, dan masa depan mereka telah dibunuh, sekarang tidak ada lagi jalan kembali, dan tidak ada lagi kehidupan selain di bawah bayang-bayang kejahatan ISIS.

Salah satu pendamping yang juga berasal dari Indonesia, dalam video tersebut, mengatakan bahwa anak-anak itu kelak akan kembali ke tanah air untuk menjalankan misinya. “Anak-anak kami adalah anak yang akan kembali ke negeri kami untuk menegakkan panji Laa Ilaaha Illallah,” katanya.

Peran Negara

Di saat benih-benih kekerasan itu sudah di depan mata kita, maka negara dan masyarakatnya tak boleh berpangku tangan. Diperlukan langkah antisipatif untuk menangkal berbagai gejala, potensi, dan gerakan yang sangat mungkin muncul saat ini. Ormas-ormas yang memiliki orientasi mendirikan negara dalam negara, mengimpikan negara dengan ideologi selain Pancasila, wajib diamputasi, sebab itu adalah bagian dari benih kejahatan dan radikalisme.

Fenomena ini tentu saja tidak bisa ditanggapi dengan cara biasa, business as usual, dibutuhkan kolaborasi kebangsaan semua elemin untuk saling bahu-membahu melawan ancaman radikalisme agama.

 

 

 

loading...