Buya Syafii Maarif: Sebuah Testimoni Kebersahajaan

0

OLEH: Elza Peldi Taher

Pada suatu hari di era Mega jadi presiden, Buya Syafii kedatangan tamu penting, Taufik Kemas TK membawa misi; menawarkan Buya jadi komisaris utama sebuah BUMN ternama.

Buya kaget lalu bertanya. Apa pekerjaan saya. TK menjawab semuanya bisa diatur. Dengan tegas Buya menolaknya. Saya tak mampu melakukan tugas berat itu. Cari orang lain saja, kata buya tegas.

Mungkin maksud TK baik. Ia tahu Buya yang sangat dihormati hidup sangat sederhana, bahkan terlalu sederhana bila dibandingkan dengan namanya yang begitu dihormati orang. Tapi Buya adalah tokoh Islam yang punya prinsip yang tegas.

Saat pulang diskusi di ILC yang membuat Buya dicaci maki banyak orang sikap Buya yang sederhana dan rendah hati itu kembali tampak. Seperti dikatakan Fajar Riza Ul Haq orang kepercayaannya, saat tokoh seperti Aagym pulang dengan mobil mewahnya, Buya justru pulang naik mobil xenia, itupun berenam, bersempit-sempitan.

Pada Buya saya banyak belajar tentang pluralisme, toleransi, dan hidup sederhana. Dalam hal ini Buya adalah tauladan yang baik. Biar saja banyak orang mencaci Buya, tapi aku menghormati Buya setinggi langit, sebagaimana aku menghormati Cak Nur dan banyak pendekar islam lainnya.

Bangsa ini berterima kasih karena punya putra terbaik seperti Buya…

KOMENTAR