Ini Dia Daftar Fatwa “Ajaib” MUI yang Bikin Masyarakat Resah!

0
loading...

TERASBINTANG.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) kembali jadi sorotan akal sehat rakyat Indonesia setelah berkali-kali mengeluarkan fatwa “ajaib”. “Ajaib” dalam pengertian bahwa kebanyakan fatwa-fatwa yang dikeluarkan MUI tidak mempertimbangkan ekses negatifnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bahkan tidak jarang, fatwa MUI cenderung hanya relevan untuk kepentingan politik tertentu.

Sebuah tulisan pendek berjudul “MUI: PABRIK FATWA LUCU” beredar di sosial media. Artikel bebas ini ditulis oleh seorang netizen, Muhammad Jazuli, mengungkap sejumlah fatwa MUI yang membuat masyarakay resah, karena fatwa tersebut selalu diikuti dengan tindakan anarkis dan kekerasan oleh ormas-ormas yang tidak bertanggungjawab. Inilah yang disebut sebagai fatwa ajaib.

Berikut tulisan lengkapnya: “MUI: Pabrik Fatwa Lucu”

Dulu MUI keluarkan fatwa haram ucapkan selamat Natal sementara NU sebagai ormas Islam terbesar se Indonesia tidak pernah mempermasalahkannya. Kini MUI keluarkan fatwa haram memakai atribut Natal karena dianggap sebagai atribut keagamaan. Fatwa ini kemudian memicu ormas radikal untuk men-sweeping beberapa mall di Surabaya. Ada juga ormas yang memaksa bubar acara KKR Natal di Bandung. Ada juga ormas yang melakukan pengrusakan dan pemukulan di suatu restoran yang memakai hiasan Natal di Solo. Ada juga ormas yang bikin demo anti Natal. Dengan munculnya fatwa ini orang2 mulai banyak yang menegur dan memperingatkan para pegawai mall hanya karena mereka memakai atribut Natal yang dimaksudkan hanya sebagai asesoris penghias untuk memeriahkan season Natal.

Tidak hanya kali ini saja fatwa MUI menimbulkan polemik dan keresahan di masyarakat. Dulu MUI pernah keluarkan fatwa Ahmadiyyah sesat sehingga memicu ormas radikal melakukan pengrusakan, kerusuhan hingga pembunuhan terhadap warga Ahamadiyyah. MUI juga keluarkan fatwa Ahok penista agama sehingga memicu aksi demo anarkis 411 yang terjadi di ibukota. MUI juga pernah keluarkan fatwa BPJS haram yang kontroversial itu padahal BPJS dianggap sangat berjasa bagi mereka yang kurang mampu. MUI juga pernah bikin fatwa haram infotainment, haram pilih pemimpin wanita dan haram pilih pemimpin kafir. MUI Samarinda bahkan pernah keluarkan fatwa haram “polisi tidur” (ya ampun, apa juga salahnya polisi tidur?) Giliran praktek penipuan investasi bodong Golden Traders Indonesia Syariah (GTIS) malah dihalalkan oleh MUI.

Pertanyaannya apakah topi Sinterklas termasuk atribut keagamaan? Menurutku MUI hanyalah gagal paham, jarang baca dan kurang update informasi. MUI tidak tahu kalo Topi Sinterklas bukanlah atribut keagamaan melainkan hanyalah asesoris budaya untuk memeriahkan Natal sama seperti hiasan ketupat di mall-mall saat menjelang Lebaran yang juga tidak bisa dianggap sebagai atribut keagamaan.

Mungkin MUI tidak tahu bahwa hijab yang dianggap sebagai atribut keagamaan muslimah itu sudah terlebih dahulu digunakan oleh umat Nasrani Ortodox Syria, jadi apakah hijab itu juga haram? Mungkin MUI juga lupa bahwa ucapan Assalamualaikum yang merupakan salam khas keagamaan itu terlebih dulu digunakan oleh orang Yahudi dengan ucapan Shalom Aleikhem, apakah ucapan Assalamualaikum itu juga haram? Mungkin MUI lupa bahwa baju koko yang disebut juga sebagai atribut keagamaan muslim (kadang juga disebut sebagai baju takwa) itu sudah terlebih dulu digunakan oleh orang Cina yang beragama Buddha, apakah baju koko itu juga haram?

Mungkin ini sebabnya sehingga mbah Wali Gus Dur yang terkenal akan ketajaman mata batinnya itu pernah mengusulkan pembubaran MUI.

Ah MUI, makin lama kok makin jadi kaya komedi…..

loading...