Dedi Mulyadi Kecam Elite yang Memperalat Kelompok Radikal Demi Nafsu Politik

0

TERASBINTANG.com – Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi mengaku heran dengan sebagian pejabat publik, termasuk kepala daerah yang memilih berkompromi dengan kelompok-kelompok garis keras yang mengancam Pancasila dan NKRI. Mereka, kata Dedi, lebih khawatir kehilangan elektabilitas dan popularitas daripada bersikap tegas terhadap kelompok-kelompok tersebut. Selain itu, elite politik juga tidak ingin mendapat tekanan psikologis dari kelompok-kelompok tersebut.

“Aneh dengan negeri ini, katanya takut Indonesia kehilangan ideologi, takut Indonesia kehilangan pluralisme, dan takut Indonesia kehilangan ideologi kebangsaan, tetapi setiap saat elite politik dan kekuasaan berkolaborasi (dengan kelompok garis keras),” kata Dedi dalam diskusi “Merawat Keindonesiaan: Deradikalisasi melalui Politik Kebudayaan” di Jakarta, Jumat (10/3).

Dedi mengatakan, kelompok-kelompok garis keras ini seakan telah menjadi penentu jalannya pemerintahan di daerah. Kepala daerah yang berpihak pada rakyat, merawat orang sakit, menyantuni orang miskin, dan lain sebagainya, tetap saja akan “diganggu” jika tidak merangkul kelompok itu. Kepala daerah ini dipastikan akan disebut kafir, musyrik, dan lain sebagainya.

“Sebaliknya walaupun banyak salah, pasti dipuji terus karena banyak menyumbang (kepada kelompok itu),” katanya.

Dia mengecam elite yang menjadikan kelompok radikal sebagai alat untuk kepentingan politik sesaat, seperti pemilu atau pilkada. Menurutnya, terlalu beresiko jika kelompok-kelompok yang mengancam ideologi bangsa ini dipergunakan demi meraih kekuasaan.

“Bagi saya, siapa pun elite jangan main isu-isu ideologi yang suatu saat akan membesar dan mengancam negara. Jangan lakukan itu,” tegasnya.

Diakui atau tidak, kelompok-kelompok radikal dan garis keras saat ini memang semakin menunjukkan tajinya. Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan, sebab bisa menjadi ancaman dan membahayakan Pancasila dan NKRI. Bahkan, ada juga calon kepala daerah yang berkompromi dengan kelompok garis keras untuk memenangi pemilihan kepala daerah (pilkada).

Semakin menguatnya kelompok garis keras terjadi lantaran ada ruang bagi mereka untuk tampil di publik melalui pengerahan massa, mimbar-mimbar, media massa dan lainnya. Dalam ruang publik itu, kelompok-kelompok ini pun kerap mengklaim sebagai pemilik surga.

loading...