Din Syamsuddin Diminta Belajar Jadi Negarawan dan Guru Bangsa

0
Din Syamsuddin

TERASBINTANG.com – Sepak terjang bekas Ketum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, mulai jadi sorotan publik akhir-akhir ini, terutama dalam menyikapi kasus Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Sebelum Ahok jadi tersangka, Din sudah memastikan bahwa Ahok sudah menghina Alqur’an. Bahkan, ia sempat menakut-nakuti negara dengan 5 juta massa bila Ahok tak jadi tersangka dalam kasus tersebut. Sebuah pernyataan sikap yang ambigu untuk tokoh kaliber Din.

Terakhir, Din mengkonfirmasi bahwa desakan agar Ahok ditangkap sebenarnya bukan melulu soal Ahoknya, tetapi karena ancaman kekuatan modal asing yang bekerja di balik Ahok. “Permasalahannya, bahkan ancaman nyata, adalah fakta adanya kekuatan uang (the power of money) yang tengah menguasai Indonesia,” kata Din, belum lama ini.

Din pun menganalogikan kekuatan uang itu bagaikan cengkeraman naga raksasa yang sedang melilit NKRI yang kaya raya, dan satu persatu kekuatan penghalangnya dilumpuhkan bahkan dimatikan dengan uang. Proses ini dicermatinya tidak terlepas dari perkembangan geo-politik dan geo-ekonomi global dan regional.

“Sayangnya, Indonesia tidak memiliki mekanisme pertahanan diri (self defense mechanism) karena infrastruktur nasional rapuh, sejak dari pemerintah, partai politik, ormas, sampai kepada pers, yang banyak terdiri dari orang-orang lemah baik iman, akal pikiran, dan komitmen kerakyatan,” ujarnya, miris.

Apa yang dilontarkan Din ini tentu baik belaka. Tapi kalau dipikir-pikir, pernyatan ini justru mempertegas bahwa kasus Ahok cuma dijadikan sasaran antara saja dari Demo Bela Islam.

Din secara tidak sadar sudah mengakui bahwa kasus Ahok hanyalah jembatan emas untuk melenggangkan kepentingan politik dan ekonominya. Apalagi Din sudah mengakui sendiri bahwa sejak Ahok minta maaf atas pidatonya itu, semua masalah sudah selesai.

Pertanyaannya, kenapa Din masih main ancam kerahkan demo 5 juta massa Islam? Adakah kesimpulan yang lebih rasional daripada bahwa mereka sebenarnya hanya memanfaatkan kasus Ahok untuk nafsu politik mereka?

Kenegarawanan Din Syamsuddin pun mulai dipertanyakan. Pasalnya, Din adalah salah satu tokoh yang terlihat mirip-mirip dedengkot Front Pembela Islam (FPI) dalam menyikapi kasus Ahok: Sangar dan membabi-buta, meski dalam penyampaiannya ia tampak lebih kalem.

“Jadi, Ahok ini hal penistaan agama, Pulgub DKI atau taipan? Hal akidah, politik, ekonomi atau apa? Lantas posisi MUI diapanya? Wah lebih rusak lagi nih kalau MUI mulai pasang harga dan ditunggangi para politisi berbusana agamawan,” kata Direktur Eksekutif ICRP, Mohammad Monib.

Ia pun meminta Din untuk belajar menjadi negarawan dan guru bangsa. “Ayolah abang jadi negarawan, guru bangsa dan jangan memainkan panggung dan memoles diri dalam panggung luar dan panggung dalam. Bingung lho saya memotretnya.” (za)

KOMENTAR