Dituduh Wartawan Asing Jadi Tempat Propaganda ISIS, Ini Kesaksian Pengurus Masjid Asy Syuhada

0

TERASBINTANG.com – Minggu 14 Februari lalu, penampakan jamaah di masjid Asy Syuhada tiba-tiba berubah seketika. Puluhan jamaah itu dipimpin oleh sosok pria berpakaian serba hitam dengan jenggot tebal dan celana cingkrang menjadi pemandangan menarik dalam pengajian yang tak biasa itu. Dia adalah Syamsudin Uba, sosok yang pernah ditangkap polisi terkait gerakan radikal.

Proses peminjaman masjid tersebut, Uba dibantu oleh Rifan Muzamil, pengurus seksi dakwah di masjid tersebut. Rifan memintakan izin kepada Ketua Pengurus Masjid, Agus Salim, untuk menggelar pengajian bertema tauhid.

Di kemudian hari Agus merasa kesal karena media Australia yang turut hadir dalam pertemuan di Masjid Asy Syuhada itu memberitakan telah terjadi penyebaran propaganda ISIS di masjid itu.

“Saya minta ini diklarifikasi. Masjid ini bukan sarang ISIS, bukan tempat perekrutan ISIS. ISIS itu penyalahgunaan simbol agama, tidak manusiawi,” kata Agus dikutip dari cnnindonesia.com.

Rifan sendiri mengaku bertemu Syamsudin Uba di Islamic Center Bekasi saat salat zuhur beberapa waktu lalu. Saat itu Rifan ke Bekasi untuk berlatih bela diri Thifan Pokhan.

Syamsudin memperkenalkan diri kepada Rifan sebagai ustaz biasa. Rifan yang bertugas sebagai seksi dakwah Masjid Asy Syuhada lantas meminta sang ustaz untuk menjadi khatib di masjidnya. Gayung bersambut, Syamsudin bahkan minta izin untuk membawa jemaatnya sendiri.

“Saya pikir dia ustaz biasa. Ustaz kan memang dakwah, masak kita larang,” kata Rifan.

Menurut Rifan, pertemuan di Masjid Asy Syuhada yang dipimpin Syamsudin Uba saat itu dihadiri sekitar 100 orang. Mereka berasal dari berbagai daerah di Jawa seperti Depok, Cirebon, Surabaya, dan Yogyakarta.

Tak Ada Pembahasan Soal ISIS

Dalam pertemuan 14 Februari di masjidnya itu, kata Rifan, Syamsudin berperan sebagai pembawa acara. Sementara narasumbernya adalah Muhammad Nanang.

Materi yang dibahas adalah perbedaan sistem ekonomi, hukum dan tata negara Indonesia dengan negara-negara Islam. Materi itu, menurut Syamsudin saat itu, merupakan kajian Tauhid.

Rifan tidak mengikuti seluruh isi pertemuan. Namun Rifan mengikuti secara cermat ketika pemateri membahas tentang perbedaan sistem ekonomi Indonesia dengan negara-negara Islam.

“Saya dengar saksama, di negara Islam itu semua gratis, tidak ada perpajakan, bensin gratis. Malah setiap hari ada zakat untuk orang-orang di situ,” ujar Rifan.

“Indonesia kan begini, ekonomi tidak stabil. Saya pernah mengobrol dengan jemaah yang lain, ya dia kesal dengan pemerintah juga, tapi kesal kenapa tidak tahu. Negara Islam kan benar-benar dijamin, Indonesia belum,” kata Rifan, lalu tersenyum.

Rifan menegaskan, pengkajian yang dipimpin Syamsudin Uba bukan penyebaran propaganda ISIS. Pengkajian tersebut, ujar Rifan, hanya menunjukkan perbedaan-perbedaan antara negara Islam dengan negara lainnya, termasuk Indonesia dan negara-negara barat.

“Tidak ada ajakan sama sekali (soal ISIS). Ini hanya untuk pengetahuan. Ini loh, negara Islam seperti ini, ini Indonesia, ini negara lain. Kalau mengajak (gabung ISIS) kan harus keluar banyak duit, triliunan,” ujar Rifan.

Kesimpulan soal kajian itu, kata Rifan, sepenuhnya diserahkan kepada jemaat. Saat itu pun, menurutnya, banyak pertanyaan terlontar dari para peserta kajian. Tidak semua paparan ditelan bulat-bulat.

Rifan mengatakan pemberitaan yang menyebut ada atribut ISIS pada pertemuan itu sebagai berita fitnah. Dia mengatakan, dia sendiri yang akan melarang pertemuan digelar jika ada atribut ISIS yang diikutsertakan.

“Ini menunjukkan saja (perbandingan negara-negara), dan saya bilang juga ini bukan ISIS. ISIS kan sudah bubar 2014 lalu, diganti Islamic State, kalau bahasa baratnya. Kalau bahasa arabnya Khilafah Islamiyah,” kata Rifan.

Secara pribadi, Rifan tidak mendukung ISIS maupun Khilafah Islamiyah. Namun dia mendukung penegakan syariat Islam di dunia, termasuk di Indonesia.

“Kan sesuai hadis nurbuat, hadis Rasulullah: di akhir zaman akan berdiri kembali Khilafah Islam. Amirul Mukmin sudah ada,” kata Rifan. (fk)

KOMENTAR