Felix Siauw: Kita Harus Bijak dalam Menyikapi Perbedaan

0
loading...

TERASBINTANG.com – Keadaan memanas ketika puluhan anggota GP Ansor meminta tabligh akbar di sebuah masjid di Sidoarjo, Jawa Timur, yang diisi ustadz Khalid Basalamah dihentikan. Peristiwa itu sempat memicu ketegangan, hingga akhirnya Khalid memutuskan untuk menghentikan ceramahnya.

Peristiwa ini terjadi pada Sabtu (4/3) di Masjid Shalahuddin, perumahan Puri Surya Jaya, Gedangan, Sidoarjo, tempat diselenggarakannya tabligh akbar bertema “Manajemen Rumah Tangga” yang dihadiri ratusan orang. Saat Khalid tengah menyampaikan kajian soal rumah tangga Rasulullah, puluhan pemuda GP Ansor datang.

Menyikapi peristiwa tersebut, Ustadz Hizbuttahrir Indonesia Felix Siauw mengatakan, seharusnya perbedaan cara pandang disikapi secara arif dan bijaksana, bukan malah disikapi dengan kekerasan. Menurut Felix, perbedaan dalam pandangan Islam itu ada dua, yaitu perbedaan yang dibolehkan syariat dan perbedaan yang dilarang syariat, dan semuanya sudah tegas adanya

Adapun perbedaan yang dibolehkan syariat misalnya terkait fiqih, terkait pendapat dalam hal yang memang dimungkinkan berbeda, hal ini hanya cabang, berbeda boleh saja, kata Felix.

“Terkait perbedaan ini, asal ada dalilnya maka perbedaan itu masuk dalam ranah pendapat islami, misalnya shalat tarawih, ada yang berpendapat 8, ada yang 20 rakaat, boleh saja,” kata Felix melalui akun officialnya.

Masih kata Felix, ada lagi perbedaan yang dilarang syariat, misalnya perbedaan dalam hal ushul atau pokok agama. Misalnya rukun Islam dan rukun iman. Perbedaan dalam konteks ini, kata Felix, tidak boleh. “Ini tidak boleh berbeda dan harus sama,” lanjutnya,

“Kita harus bijak dalam menyikapi perbedaan. Bila ada orang yang melakukan berbeda dengan yang kita lakukan, maka kita harus melihat dulu, ini beda yang boleh atau tidak?.”

Menurutnya, bila pendapatnya dilandaskan pada dalil, betapapun kita tidak suka, harus kita tolerir. Itulah namanya sikap islami.

“Kalaupun kita tidak cocok dan tidak suka pada satu kajian, ya kita boleh saja mencari kajian yang lain yang lebih cocok bagi kita. Tapi kita tidak boleh memaksakan pendapat kita,” katanya.

Apalagi sampai berbuat anarkis, dengan kekerasan dan paksaan membubarkan kajian misalnya, padahal, kata Felix, hal itu masih dalam kerangka beda yang dibolehkan oleh syariat Islam.

“Lha, Allah dan Rasul saja masih membolehkan perbedaan pendapat selama itu dalam koridor Islam, kok kita malah memaksakan semua harus sesuai dengan kita?.”

“Kalau tidak sesuai dengan kita, lantas kita gelari, kita cap dengan hal-hal buruk semisal, “anti-NKRI”, “anti-kebhinekaan”, “anti-pancasila”, “wahabi”, “ISIS”, itu tidak adil,” sambungnya.

Menurut dia, sangat lucu bila kekerasan dikedepankan daripada komunikasi, padahal sama-sama kaum beriman. Menuduh orang lain tak toleran, sementara lupa dengan diri sendiri.

“Padahal di dalam Islam, bila beda itu berdasarkan dalil, maka tidak ada yang salah. Yang ada adalah siapa yang baik dan siapa yang lebih baik, fastabiqul khairat, begitu,” pungkasnya.

Tebarkan kebencian

Di sisi lain, sudah terkonfirmasi sebelumnya, bahwa penolakan terhadap ustadz Khalid Basalamah bukan tanpa alasan. Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Sidoarjo, Jawa Timur H. Rizza Ali Faizin menilai ceramah Khalid Basalamah menjelek-jelekkan aliran tertentu. Hal itulah yang tidak diinginkan GP Ansor karena tindakan semacam itu menimbulkan permusuhan di masyarakat.

Menurut dia, terkait pengajiannya sendiri, GP Ansor tidak mempermasalahkan. Karena GP Ansor, termasuk warga NU juga melakukan pengajian. Namun, pengajian yang berisi mengkafirkan orang tanpa klairifikasi, sangat disesalkan.

“Yang kami sayangkan adalah penyampaian dan materinya itu cenderung mendiskreditkan aliran tertentu. Di NU dan Ansor itu selalu terbiasa klarifikasi atau tabayun. Sedangkan Khalid Basalamah itu menyatakan ini kafir, haram dan lain sebagainya. Bahkan untuk pemanggilan Sayyidina untuk Nabi Muhammad juga tidak diperbolehkan olehnya,” kata Rizza.

Rizza menegaskan, setiap ceramah yang disampaikan Khalid itu selalu menimbulkan kebencian, menjelek-jelekkan pihak tertentu dan provokatif. Bahkan, Khalid sendiri juga selalu mendapatkan penolakan dari berbagai pihak di setiap daerah di Indonesia ketika ia hendak mengisi acara pengajian.

Upaya Aparat Stempat

Sementara itu, Kapolresta Sidoarjo Kombes Pol Muh Anwar Nasir, sebelumnya sudah mengingatkan panitia agar Khalid Basalamah tidak dihadirkan, karena ada penolakan. Namun, Anwar juga tidak melarag karena negara sudah menjamin semua warga untuk melaksanakan kegiatan agama. Ketika ada reaksi penolakan dan atas dasar keamanan, agar acaranya ditunda dulu.

“Ke depan, kami akan melakukan silaturahim lebih baik lagi agar tidak terjadi hal yang sama karena miskomunikasi,” pungkasnya.

Sekadar diketahui, anggota Gerakan Pemuda Ansor dan Banser Sidoarjo, Jawa Timur, melakukan aksi penolakan dan meminta pemateri pengajian, Khalid Basalamah tidak melanjutkan ceramahnya. Khalid Basalamah saat itu sedang ceramah pada acara tabligh akbar yang diadakan Takmir Masjid Shalahuddin di wilayah Gedangan Sidoarjo, Sabtu (4/3).

Sekadar diketahui juga, Khalid Basalamah dalam sebuah pengajiannya yang dishare di YouTube tidak membolehkan membaca surah Yaasin yang ditentukan pada tiap malam Jumat. Menurut dia, hal semacam itu tidak diajarkan Nabi Muhammad SAW. Sebuah ibadah harus ada dalilnya. Ia juga menyebutkan dalam shalat itu tidak mesti menggunakan lafal “ushalli”. Selain itu, kata “saysyidna” tidak semestinya disematkan kepada Nabi Muhammad SAW karena tidak ada dalilnya. Padahal semua itu telah menjadi kebiasaan di kalangan Muslim Indonesia.

loading...