Hubungan “Gelap” SBY dengan Kelompok Ekstrimis Terbongkar!

0

TERASBINTANG.com – Kedekatan Susilo Bambang Yudhoyono dengan kalangan kelompok ekstrimis kian menemukan titik-terang setalah aksi Bela Islam yang berlangsung secara maraton di Jakarta beberapa waktu lalu. Ada indikasi dan kecurigaan banyak pihak bahwa massa ormas Islam tersebut digerakkan oleh Susilo melalui jaringan-jaringan lamanya dengan pion-pion Islam radikal di Indonesia.

Kalau kita lihat demo bela Islam yang terjadi 4 November lalu, maupun sebelumnya, tampak jelas, bagaimana gerakan Islam radikal, benar-benar mengambil panggung dominan. Ada Hisbuttahrir Indonesia, Front Pembela Islam (FPI), FUI dan mungkin juga massa ormas Islam yang dilarang di Indonesia seperti MMI, dan seterusnya.

Sebagian menduga, selain kepentingan politik Pilkada, isu korupsi yang membelit keluarga Cikeas, hingga pembebasan Antasari Azhar diduga menjadi alasan SBY membangkitkan kembali klan tradisionalnya itu. Ada semacam “ketakutan” kalau-kalau rezim yang sekarang mengungkit-ungkit kasus-kasus lamanya itu.

“Saya menyayangkan SBY. Dia sudah menjadi provokator sama seperti pemimpin organisasi kemasyarakat (ormas) keagamaan yang selalu membuat resah masyarakat,” kata ilmuan LIPI, Syamsuddin Haris, dalam sebuah forum diskusi, menunjukkan bagaimana permainan SBY begitu norak.

Bila kita telusuri ke belakang, memang sulit terbantahkan kedekatan SBY dengan gerakan radikal dan bukan hak sulit bila SBY punya kepentingan untuk sesekali menggerakkannya. Apalagi, SBY hingga saat ini masih cukup dekat dengan Ketua Umum MUI, Ma’ruf Amin. Begitu Ahok keseleo lidah, MUI langsung gerak cepat membakar api kemarahan umat Islam melalui fatwanya soal penistaan agama.

Bagaimana sebenarnya sejarah kedekatan SBY dengan kelompok radikal, situs Wikileaks 2011 lalu membongkar permainan orang-orang dekat SBY dengan kalangan radikal. Hal ini bersumber dari Roy Janis. Dalam telegram disebutkan bahwa Sudi Silalahi, orang dekat SBY juga Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, berada di balik pecahnya kekerasan sektarian di Maluku.

Roy, kata telegram, telah mengecek kabar ini ke Engelina Pattiasina, seorang anggota parlemen dari Maluku, dan mengeluhkan kekerasan di Maluku dan sosok Sudi di baliknya. Tak berapa lama lepas itu, kekerasan di Maluku berhenti dan Roy menangkap kejadian itu sebagai ‘bukti’ kemampuan Sudi mengontrol situasi dan, sebab itu, dia punya saham di balik kekerasan di Ambon. Namun tak ada penjelasan mengenai hubungan antara Sudi dan Engelina dan Sudi.

Bahkan, Wikileaks juga mengungkap bahwa Sudi memang sengaja membina hubungan dengan “kelompok-kelompok radikal Islam”. Hal ini diungkap oleh seorang Diplomat Singapura.

Beberapa editor senior media secara terpisah menaikkan berita seputar sebuah pertemuan di bulan Ramadhan 2005 yang dihadiri oleh seorang perwakilan Noordin Top (buron, tokoh sentral Jamaah Islamiyah kala itu) dan seorang wakil Sudi, kalau tidak Sudi sendiri.

Kalangan editor berbisik ke sang diplomat Singapura kalau wajar Sudi hadir dalam rapat seperti itu mengingat dia punya koneksi dengan kalangan kelompok Islam. Ada catatan dalam telegram kaitan hal ini. Disebutkan bahwa pada 15 November 2005, Harian Kompas menggambarkan terjadinya sebuah pertemuan pada 7 November, beberapa hari sebelum polisi membunuh Azahari dalam sebuah penggerebekan. Tujuan pertemuan disebutkan untuk memfasilitasi gencatan senjata agar JI berhenti dari menebar teror bom dan sebagai gantinya pemerintah tak akan mengejar mereka lagi.

Masih kata Wikileaks, orang dekat SBY yang juga membina hubungan baik dengan kelompok radikal islamis adalah Menteri Agama Maftuh Basyuni (alm). Yahya Asagaf, sumber Wikileaks, pernah mengatakan ke diplomat Amerika di Jakarta Maftuh Basyuni bersimpati pada Abu Bakar Ba’asyir, sosok kontroversial yang, dalam telegram, digambarkan sebagai bos besar ‘Jamaah Islamiyah’.

Kata Yahya, usai mengikuti sebuah seminar di pesantren Ba’asyir, Maftuh kembali ke Jakarta dan bilang ke Yahya kalau orang-orang Ngruki “baik” dan “intelektual”. Yahya juga bilang kalau Mahfuh berencana mendukung pembangunan jalan baru menuju kawasan pesantren. Kata Yahya lagi, berdasarkan yang dia dengar dari Maftuh, bos besar BIN, Syamsir Siregar, pernah mengirim donasi untuk Ngruki. Di telegram, Yahya bilang kalau dia belum mengkonfirmasi soal yang terakhir ini ke Syamsir kendati dia bilang dia menduga ini benar adanya, mengingat Syamsir ingin mendukung kalangan ‘moderat’ di Ngruki.

Melihat bagaimana drama permainan orang-orang dekat SBY dengan kelompok radikal ini, rasa-rasanya sulit terbantahkan bahwa SBY memang berada di balik gerakan bela Islam belakangan.

 

 

 

KOMENTAR