Imaculata Umiyati, Wanita Yang Sukses Tembus  Ruang Gelap Anak Autis

0

TERASBINTANG.com– Belum lama ini Komnas Perlindungan Anak menggelar seminar tentang pentingnya deteksi dini anak autis dan cara penanganannya. Seminar ini ditempatkan di Aula Media Center Komnas Anak, Pasar Rebo, Jakarta Timur,dan dihadiri oleh para guru dari berbagai daerah dan juga mahasiswa-mahasiswi dari Universitas Negeri Jakarta.

Yang jadi nara sumber dalam seminar ini adalah Ketua Umum Komnas Anak, Arist Merdeka Sirait, dan Pemilik Yayasan Imaculata Autism Boarding School, Dr. Imaculata Umiyati M.Si.

Bunda Ima, sapaan akrab Imaculata, mengatakan, sangat penting bagi guru PAUD diberikan metode untuk mendeteksi anak autis dan cara penanganannya.

“Saran saya agar guru-guru tidak hanya sekedar mampu mendeteksi saja namun juga mampu menjelaskan kepada orangtua dan juga harus mampu memberikan terapi,” ujar Bunda Ima saat memberikan materi seminar.

Bunda Ima juga menambahkan, anak autis harus dididik agar bisa lebih mandiri dan bisa mengembangkan bakatnya dengan baik.

“Bahwa mendidik anak autis bukan untuk pandai akademika. Kalau itu yang ditargetkan maka besar kemungkinan kecewa lah yang akan didapatkan,” ujarnya.

Tembus Ruang Gelap

Melalui yayasan yang didirikannya, Bunda Ima telah sukses mendidik dan memberikan terapi pada anak-anak autis. Tak terhitung berapa jumlah anak autis yang berhasil dia didik sejak tahun 1985.

“Pada awalnya membuka terapi wicara untuk anak-anak autis. Baru 3 bulan buka siswa sudah penuh kurang lebih 16 siswa. Terapi 2 hingga 4 jam per hari untuk tiap anak. Perkembangan anak sangat cepat dan orang tua siswa sangat percaya pada cara kami menangani anak,” ceritanya.

Bunda Ima lebih memiliki ketertarikan pada anak autis dibanding anak berkebutuhan khusus lain karena, katanya, anak autis sangat unik.

“Saya sangat klik dengan kasus autis ketimbang ABK yang lain. Autis itu unik, menyangkut perilaku yang sangat khas yaitu kejiwaan. Seperti ada ruangan gelap yang harus ditembus, ada tembok tebal yang harus digempur, bukan sekedar kognisi,” urai Bunda Ima.

“Mendidik anak autis membutuhkan seni yang jeli dan tinggi, dan saya mampu masuk di zona itu, merogoh jiwa anak itu untuk saya bawa keluar dari ruang gelap itu untuk ku bawa ke dunia yang sesungguhnya,” katanya.

KOMENTAR