Ini Kata Ahli Bahasa Soal Pidato Ahok di Kepulauan Seribu

0
loading...

TERASBINTANG.com – Tim kuasa hukum Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menghadirkan ahli bahasa Bambang Kaswanti sebagai saksi dalam sidang kasus dugaan penistaan agama dengan terdakwa Ahok yang digelar di Kementerian Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan, Rabu (29/3/2017).

Dalam kesaksiannya, Bambang menyatakan bahwa pidato Ahok yang dianggap menodai agama karena mengutip surat Al Maidah 51 di Kepulauan Seribu beberapa waktu lalu itu tidak bisa dimaknai hanya dari transkripnya saja. Menurutnya, ada faktor lain yang harus dipahami dalam menilai pidato tersebut.

“Seseorang mencari makna tidak cukup kalau hanya transkrip saja. Sangat kecil sekali maknanya (jika hanya transkrip saja),” ujar Bambang.

Menurut Bambang, untuk memahami makna pidato tersebut, harus diperhatikan gerak-gerik Ahok saat berpidato. Selain itu, intonasi suara Ahok saat berpidato perlu diperhatikan.

“Tidak mungkin bisa diartikan hanya dari transkrip. Jika begitu, maka pemaknaan pidato tidaklah sempurna,” ucap dia.

Saat ini, banyak orang yang memaknai pidato Ahok di Kepulauan Seribu itu hanya dari transkripnya saja. Sebab itu, banyak orang yang berpendapat berbeda mengenai makna pidato Ahok di Kepulauan Seribu.

“Karena tidak dimaknai sempurna, terbuka peluang untuk mengartikannya bermacam-macam konteksnya. Ini berbahaya,” kata Bambang.

Bambang sendiri sudah menonton video pidato Ahok secara penuh yang berdurasi sekitar 1 jam 40 menit itu. Menurut dia, secara garis besar pidato Ahok berkaitan dengan program budidaya ikan kerapu.

loading...