IPI dan Muhammadiyah Imbau Pilkada Jangan Terjebak dalam Isu Pecah-belah

0

TERASBINTANG.com – Dua Ormas besar Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah menghimbau agar gelaran Pilkada Serentak yang akan berlangsung pada 2017 mendatang berlangsung secara khidmat dan demokratis.

Keduanya menyorot serangan politik SARA yang mulai bertebaran baik di dunia nyata maupun maya menjelang Pilkada.

Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DKI Drs. Syaiful Rahim, misalnya, melihat betul bagaimana kerasnya pertarungan SARA akhir-akhir ini. Antara satu dengan yang lain saling berebut kekuasaan dengan menggunakan agama.

Hadir dalam deklarasi BEM Nasional Pilkada Tanpa SARA, Syaiful mengaku sangat menyayangkan bila Pilkada terjebak dalam isu seperti itu. Bila hal ini tidak segera dihentikan, kata Syaiful, umat akan terpecah-belah karena perbedaan.

“Pilkada DKI jangan menyeret-nyeret isu murahan. Perspektif kita ini pluralis, jangan karena kita berbeda, lantas menjadikan perpecahan,” ungkap Syaiful.

Lebih lanjut, Syaiful pun membandingkan antara Arab dan Indonesia dalam segi budaya dan suku. Arab, kata dia dalam perspektif budaya hanya memiliki satu saja tapi mereka tak bisa menyatukan bangsa Jazirah Arabnya. Berbeda dengan Indonesia memiliki beragam suku, budaya, agama, bahasa, tapi ternyata semuanya itu bisa bersatu.

“Kita beri uplouse (tepuk tangan) pada sayap-sayap bangsa ini termasuk NU dan Muhammadiyah,” ujarnya.

Lebih jauh, Syaiful menegaskan pesta demokrasi harus disambut dengan riang gembira dan meriah. Dia pun menyayangkan jika ada segelintir pihak atau kelompok yang menyatakan anti etnis tertentu.

“Jangan sampai tatanan politik kolektif kita menjadi hancur. Namanya pesta itu ya disambut dengan gembira,” tandasnya.

Selain itu, Sekjen Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Pesantren Indonesia (DPP IPI) Ahmad Imron menilai mutlak Pilkada tanpa SARA di momentum Pilgub DKI 2017.

“Momentum Pilkada saat ini yaitu Pilkada tanpa SARA merupakan hal mutlak. Biarkan warga negaranya memilih pilihannya sendiri,” tegas pria yang akrab disapa Gus Imron, saat diskusi publik bertema “Mewujudkan Pilkada DKI Sehat dan Cerdas Tanpa SARA” di Universitas Jayabaya, Kamis (27/10/2016).

Ketum GP Anshor Banten itu pun mengaku merasa bersyukur Indonesia tidak bernasib sama dengan negara yang mayoritas muslik seperti di Libya dan negara arab lainnya. Bahkan, kata dia, Negara Yaman yang katanya tanahnya para ulama, wali tapi sudah kehilangan tanah airnya.

“Bersyukur kita berada dinegara yang mempunyai segala-galanya. Mari kita sama-sama menjaga kedamaian, jangan sampai warga negara kehilangan tanah airnya,” tutur dia. (wa)

KOMENTAR

loading...