Isu Hoax Dianggap Mirip dengan Politik Pecah-Belah Zaman Kolonial Belanda

0

TERASBINTANG.com – Taktik politik pecah belah yang berkembang pesat di sosial media dengan berbagai isu hoax dan fitnah dinilai mirip dengan upaya memecah belah zaman penjajahan Belanda, taktik busuk seperti dikenal dengan istilah devide et impera.

Hal ini disampiakan oleh Anggota Komisi III DPR, Masinton Pasaribu. Ia pun mendesak supaya pemerintah dan aparat kepolisian menindaktegas para pelaku.

‎”Ini sudah mengarah pada politik devide et impera. Integrasi sosial, keamanan dan kedaulatan nasional Indonesia bisa pecah kalau tidak segera ditindak,” tegas Masinton, Kamis (29/12).

Perkembangan teknologi yang begitu cepat, kata Masinton, tidak sejalan dengan perkembangan budi pekerti yang baik. Sehingga, media sosial yang seharusnya menjadi alat untuk membangun silaturrahmi, berubah menjadi sarana untuk menyebarkan berita bohong, caci-maki, fitnah, sumpah serapah, hasutan, bully, permusuhan hingga propaganda busuk.

Salah satu contoh yang paling menusuk jantung rasa kemanusiaan kita adalah isu tentang beredarnya paket “black issue” tentang keberadaan 10 juta orang jumlah tenaga kerja asing berkewarganegaraan China. Ada lagi isu bangkitnya PKI dan Komunisme. Belum lagi adu domba antar suku, agama, ras dan antar golongan (SARA).

“Cara-cara provokasi melalui media sosial dengan memviralkan paket black issue ini mirip seperti peristiwa awal di Mesir, Libya dan Suriah,” kata Masinton.

Sebabnya, Masinton mendorong aparat untuk lebih ketat menjaga kedaulatan negara. Intelijen negara, Kominfo, Kepolisian, dan unsur masyarakat dalam satu kelembagaan khusus harus mulai memikirkan bagaimana membangun sinergi untuk menangkal gerakan seperti itu.

“Terserah apalah namanya nanti. Namun diperlukan kelembagaan yang khusus melakukan monitoring yang efektif terhadap penggunaan media sosial dan blog,” tandasnya.‎

loading...