Jalaluddin Rakhmat: Islam, Agama Kasih Sayang dan Kemuliaan

0

TERASBINTANG.com – Anggota Komisi VIII DPR RI, Jalaluddin Rakhmat, menjadi pembicara dalam rangkaian acara sosialisasi empat pilar berbangsa dan bernegara di Yayasan Nurul Al Musthafa, Kampung Pacinanan, Desa Cicalengka Wetan, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung. Acara yang digelar pada 28 Februari lalu itu dihadiri sekitar 160 warga setempat.

Dalam kesempatan tersebut, Kang Jalal, demikian sapaan akrabnya, mengajak masyarakat untuk menanamkan nilai-nilai empat pilar sebagai rujukan nilai dan sikap dalam kehiduan berbangsa dan bernegara. Salah satunya adalah penerapan nilai-nilai Pancasila.

Berikut isi lengkap ceramah kebangsaan Jalaluddin Rakhmat:

SOSIALISASI EMPAT PILAR KEBANGSAAN BERSAMA KH DR JALALUDDIN RAKHMAT

Apa yang dilakukan oleh anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat selain bersidang dua kali setahun?
Pertanyaan itu biasa disampaikan—secara terang-terangan atau tersamar—dan memang sebelumnya, tugas anggota MPR memang hanya dua kali bersidang itu.

Lain halnya dengan sekarang. Setiap anggota MPR bertugas melakukan sosialisasi empat pilar kebangsaan kepada masyarakat. Tujuannya adalah terus menghidupkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya Pancasila, Bhinekka Tunggal Ika, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Undang Undang Dasar 1945.

Kita tahu, saat ini berbagai informasi sedemikian mudah masuk ke setiap ruang publik maupun privat. Arus positif dan negatif berlomba mempengaruhi pola pikir masyarakat dengan berbagai cara.

Harus diakui bahwa situasi banjir informasi saat ini tidak kondusif bagi bangsa Indonesia yang masih dalam proses mematangkan diri. Karena itu, masyarakat wajib memiliki patokan nilai yang jelas untuk bertindak, dan kini kita punya Pancasila.

Sebagai dasar negara, perjalanan Pancasila berakar pada perdebatan yang pernah terjadi antara para tokoh pendiri bangsa ini. Sebagian dari mereka menghendari Syariat Islam sebagai dasar negara, sementara Bung Karno dan rekan-rekan memilih Pancasila. Setelah melewati diskusi panjang dan berbagai pertimbangan, tercapailah kesepakatan bahwa Pancasila yang dipilih sebagai dasar negara.

Kehadiran Pancasila merupakan angin segar bagi pemeluk agama selain Islam karena hak ibadah mereka dijamin. Bukan hanya itu, mereka juga diayomi, bebas dari rasa takut, dan tidak diancam siapa pun.

Sayangnya, saat ini ada sebagian orang yang setuju dengan syariat Islam, menolak Pancasila. Mereka bahkan setuju negara Republik Indonesia hilang, digantikan kekhalifahan di seluruh dunia. Mungkin dalam konsep mereka, Indonesia akan menjadi semacam provinsi saja.

Jelas, secara langsung atau tidak langsung mereka menolak Pancasila dan NKRI dan ingin menjadikan syariat Islam sebagai dasar negara.

Lantas pertanyaannya adalah syariat Islam yang mana?

Saat ini di Timur Tengah sedang ada kelompok orang yang mengaku menegakkan negara Islam dengan jaan kekerasan. Yang mereka lakukan terhadap orang-orang yagn berbeda paham dengan mereka sungguh mengerikan. Tanpa kecuali, perempuan dan anak pun ikut menjadi korban.

Wajah Islam tak pernah bengis; Nabi Muhammad saw tak pernah mengajarkan kekejian. Islam adalah agama yang penuh dengan kasih sayang, kemuliaan.

Karenanya, jika ada orang mengaku Islam tapi teriakannya merusak kerukunan antara umat beragama, saya akan meragukan keislamannya.

Meski begitu saya yakin, keyakinan ini diimpor dari luar untuk memecah belah kaum muslimin. Diketahun secara luas melalui sejarah, di zaman Nabi saw, pemeluk agama lain bisa hidup damai dengan umat Islam yang mayoritas. Demikian pula di Indonesia.

Pada dasarnya, masyarakat Indonesia itu sangat ramah, santun, dan penuh kasih sayang.

Kedatangan kelompok yang mengaku Islamnya paling murni inilah yang bikin onar. Ketakutan diembuskan, rasa saling curiga disebarkan di antara umat Islam dan antara umat Islam dengan pemeluk agama lain. Padahal, kita tahu bahwa perilaku tidak saling hormat antara pemeluk agama ini akan menghancurkan NKRI.

Sebenarnya, untuk apa kita sibuk mempertentangkan Pancasila dan syariat Islam? Pada dasarnya, Pancasila itu sangat islami. Coba perhatikan masing-masing silanya—banyak sekali ayat Alquran yang membenarkannya.

Jadi tidak ada yang bertentangan. Jika kita membela Pancasila, artinya kita sedang membela Islam. Dengan panduan negara ini kita bisa hidup bersama dengan tetap menghargai perbedaan, hidup tenang silih asah silih asih silih asuh. Kita akan tenang jika kita memperlakukan sesama manusia secara adil dan beradab. Sikap itulah yang diajarkan Pancasila dan Alquran.

Jadi tindakan mengkafirkan orang lain karena berbeda agama atau paham justru bertentangan dengan agama itu sendiri. Tugas anggota MPR adalah memastikan bahwa sikap saling menghargai ini menjadi modal negara untuk terus membangun dirinya menuju kemajuan.

(fk/bn)

KOMENTAR