Kelompok Intoleran Mewabah, NU Akan Terus Hadapi

0
loading...

TERASBINTANG.com – Maraknya aksi demo yag dimotori FPI membuat umat Islam Indonesia cenderung terlihat galak. Padahal tidak semuanya demikian. Terkait hal ini Sekretaris Lembaga Ta’lifwan Nasyr Pengurus Besar Nahdatul Ulama (LTN PBNU), Savic Alieha mengatakan, lembaganya merasa sendirian menghadapi kelompok intoleran yang mulai muncul sejak era reformasi.

Ia menyebut, publik dan pemerintah tak benar-benar bisa menyikapi keberadaan kelompok tersebut. Sejak reformasi terdapat organisasi atau kelompok yang berhaluan keras antara lain Front Pembela Islam (FPI), Majelis Mujahiddin, Laskar Jihad, dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

“Saya kira bertahun-tahun NU praktis sendirian terhadap kelompok kelompok intoleran,” ujar Savic.

Kasus dugaan penodaan agama yang menjerat Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) membuat khalayak mulai peduli dengan isu keberadaan kelompok-kelompok radikal atau intoleran. Ia juga menilai pemerintah kurang berdialog atau menjelaskan soal status hukum organisasi atau kelompok tersebut sehingga perdebatan terjadi di wilayah sosial.

Dia mencontohkan, NU sering berhadapan dengan kelompok intoleran yang memaksa menutup gereja atau melakukan razia semaunya. Saat Natal, Barisan Ansor Serbaguna NU dikerahkan untuk menjaga beberapa gereja.

Ini ironis, kata Savic, seluruh elemen bangsa harus peduli dan mengambil sikap terhadap keberadaan kelompok intoleran atau garis keras. Masyarakat harus mewaspadai penetrasi paham kelompok tersebut.

Penetrasi dapat melalui berbagai tempat seperti masjid, gedung-gedung yang digunakan shalat Jumat, sekolah atau komunitas kampus. Saat ditanya soal konflik antara Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) dan FPI, Savic menilai hal itu murni politik dan merupakan wilayah tanggung jawab polisi.

“Saya kira NU tidak ada concern dengan konflik FPI dan GMBI,” tuturnya.

Dalam hal ini NU mencegah semangat persaudaraan sebagai satu bangsa tidak hilang karena sentimen keagamaan yang selalu bergaung. “Jangan sampai pandangan Islam radikal itu menjadi mayoritas di Indonesia,” katanya.

loading...