Keluarga Shihab dan Kesalahpahaman-Kesalahpahaman Lainnya*)

0
loading...

TERASBINTANG.com —   Hari-hari ini bangsa kita sedang bergulat gaya bebas di atas ring SARA, saling tindih dan saling kelindan antara semangat keberagamaan, kebhinnekaan, kepentingan politik, dan kebebalan massa penonton yang riuh rendah tak tentu arah. Kepala kita dibuat pening karena tak mampu lagi mengurai mana yang ujung mana yang pangkal. Ujaran kebencian dan permusuhan, terutama di media sosial, susul-menyusul seperti tidak ada habisnya. Kesalahpahaman kian membuat fallacy tali (ke)simpul(an) kusut dan akut.

 

Saya tergerak memulai tulisan ini dan mengawalinya dengan menceritakan tentang ayah saya, yang nanti akan saya kaitkan dengan perkara SARA yang tengah membara.

 

Ayah saya (saya memanggil beliau “Abah”) bergelar Raden Sayid (tapi tak pernah beliau cantumkan di depan namanya) dan bermarga Shihab. Dilahirkan di Yogyakarta. Gelar Sayid*—atau sayyid—dan marga Shihab beliau dapatkan dari ayahnya yang kelahiran Sumatera Selatan dan berhijrah ke Jawa, sementara gelar Raden diperoleh dari ibunya yang asli Yogyakarta dan merupakan keturunan Hamengkubuwono I.

 

Ayah mengenyam pendidikan sekolah dasar pertamanya di Arabisch Lagere School (ALS), sekolah Belanda khusus untuk etnis keturunan Arab di Solo. Lalu oleh kakek saya beliau dipindahkan ke Batavia, belajar di sekolahan Arab Jamiatul Kheir dan tinggal di di asrama di Tanah Abang.

 

Pada masa kemerdekaan, Ayah melanjutkan pendidikannya di sekolah umum yaitu di SMA Taman Siswa di Jl. Kemayoran, Jakarta Pusat. Selepas SMA, beliau meneruskan pendidikannya di Fakultet Ekonomi Universitas Indonesia. Selama SMA dan kuliah, beliau tinggal di rumah istri pertama kakek saya, seorang perempuan Betawi dari Kampung Melayu, di kawasan Jatinegara. Di sana Ayah tinggal bersama saudara-saudaranya yang beribu Betawi.

 

Di kampus, beliau bergaul dengan sesama mahasiswa ekonomi, di antaranya Ali Wardhana, Husein Kartasasmita, Radius Prawirodirjo, Emil Salim, Soebroto, dan Wijoyo Nitisastro.

 

Di tengah-tengah kesibukan belajarnya, ayah masih menyempatkan diri menjalankan “majlas.” Majlas adalah tradisi di kalangan etnis keturunan Arab, yaitu berkumpulnya beberapa orang—umumnya laki-laki—di rumah salah seorang dari mereka atau di satu tempat khusus seperti di restoran atau di tempat umum lainnya. Di sana, sambil menikmati kopi kental, mereka mengobrol dan berkelakar hingga larut malam. Pada dasarnya, etnis keturunan Arab sangat lekat dengan humor dan banyolan.

 

Forum majlas di kawasan Jatinegara tidak hanya diikuti etnis keturunan Arab dari kalangan sayyid saja, melainkan juga etnis keturunan Arab dari golongan non-Alawiyin yang biasa dipanggil dengan gelar kehormatan syeikh, dan etnis Betawi. Pada saat itu, tahun 1950an, kalangan Alawiyin** umumnya menggunakan gelar sayyid, sementara gelar habib hanya diberikan pada ulama-ulama besar tertentu seperti Habib Ali Kwitang dan Habib Ali Bungur, yang memang sangat dihormati dan dicintai masyarakat Betawi. Mereka disatukan oleh bahasa “ane ente”; bahasa Indonesia yang diselingi beberapa kosa kata atau kalimat dalam bahasa Arab sebagai “penyedap”.

 

Pada 1955 ayah menyunting seorang perempuan dari marga Shihab juga. Lima tahun kemudian ayah diterima bekerja di BUMN PT. Perkebunan Negara (PTPN) dan ditempatkan di perkebunan kopi dan karet di daerah terpencil di Jember, Jawa Timur. Di sanalah, kami, anak-anaknya dilahirkan. Setelah mengabdi selama 24 tahun di perusahaan itu di sana, ayah saya memutuskan kembali ke Jakarta hingga sekarang.

 

Di rumah, berdua bersama ibu saya yang kini berusia 83 tahun, ayah yang masih sehat walafiat tahun ini akan memasuki usia ke-88. Beliau lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, jarang sekali beraktivitas di luar rumah. Meski begitu, beliau masih tetap mengikuti berbagai kejadian nasional dan internasional dengan menonton berita-berita di televisi dan membaca surat kabar. Dan ayah saya paling senang jika kedatangan anak dan cucu-cucunya. Beliau betah mengobrol berjam-jam tentang berbagai isu mutakhir yang sedang berkembang.

 

Anak dan cucu-cucunya datang dengan berbagai pilihan gaya hidup dan keyakinan. Ada yang menjadi penganut Ahlus Sunnah wal Jamaah dan ada pula yang Syiah. Ada yang taat beribadah dan ada pula yang setengah-setengah. Anak dan cucu-cucu perempuan ayah ada yang mengenakan jilbab rapat dan ada juga yang rambutnya dibiarkan terlihat.

 

Ayah dan Ibu saya sendiri, yang secara tradisi keluarga merupakan penganut Sunni Tarikat Alawiyah***, tak menjadikan semua perbedaan sebagai masalah. Toleransi dan penghargaan terhadap perbedaan ditahkikkan sebagai sikap hidup.

 

Dan hal itu sudah ditanamkan oleh orangtua saya sejak saya kecil. Masih segar dalam ingatan bagaimana saya dan saudara-saudara diajak orang tua saya menghadiri perayaan Natal Bersama yang diadakan di aula PTPN di Jember. Direksi, staf, dan, karyawan perusahaan itu, baik yang Kristen maupun yang Muslim, hadir mengajak serta keluarganya masing-masing. Dan sebagai anak-anak, kami senang mendapat hadiah dari sesosok sinterklas berperut buncit dan swartepid berkulit legam.

 

Itu kenangan yang tak akan pernah lupakan. Dan kami tak pernah berpikir bahwa kejadian itu akan mendangkalkan akidah. Saat Idul Fitri tiba, acara Lebaran Bersama juga digelar. Lagi-lagi kami bergembira bersama. Dan saya juga yakin bahwa anak-anak non-Muslim yang saat itu ikut hadir, tak seorang pun dari mereka sekarang menjadi mualaf gara-gara menghadiri acara itu.

 

Saat kecil saya terbiasa melihat ibu (saya memanggil beliau “Ibu”), bersahabat dengan para perempuan dari berbagai etnis dan keyakinan; mulai etnis keturunan Arab dari kalangan masyaikh (jamak dari syaikh) yang bergiat di al-Irsyad, Tionghoa pemeluk Kristen yang taat, Madura yang aktif di Fatayat, hingga keturunan Pakistan yang mengabdi di Aisyiyah. Sampai akhir hayat mereka, persahabatan antara ibu saya dan mereka begitu dekat, bahkan mungkin setara dengan kedekatan seorang saudara.

 

Toleransi multi etnis dan agama yang kami lihat dan kami serap di rumah, terkadang juga mendapat tonjokan dan tendangan di luar rumah. Kami hidup di lingkungan kompleks perusahaan. Tapi saya dan saudara-saudara saya sekali waktu juga “mengembara”, berpetualang ke kampung-kampung yang agak jauh.

 

Pernah beberapa kali, saat berjalan-jalan itu, tiba-tiba kami sudah diikuti puluhan anak yang sebaya. Barangkali “penampakan” kami yang lain dari anak-anak “normal” lainnya, mengundang perhatian mereka. Hidung kami yang mancung dan mata kami yang lebar mungkin tampak lucu di mata anak-anak itu. Mereka menyoraki kami sepanjang jalan, dengan satu nyanyian olok-olok terhadap etnis Arab, bahkan ada yang melempari kami dengan bonggol jagung.

 

Pengalaman-pengalaman itu terus membekas hingga sekarang, dan saya berpikir tak seorang pun bisa merasakan pedihnya pelecehan rasial secara persis sampai ia mengalaminya sendiri.

 

Tegangan antara pengalaman multietnis dan agama yang diajarkan oleh orangtua dan pengalaman pelecehan rasial masa kecil itu, juga tegangan antara ikatan darah dan kultur Nusantara (dalam hal ini Jawa, Sumatera Selatan, dan Betawi) dan Arab (tepatnya Yaman) menjadi bagian dari pergulatan eksistensial saya dalam membentuk sudut pandang sekaligus sudut rasa keindonesiaan dan kemanusiaan.

 

Kekentalan kenusantaraan yang mengalir dalam pembuluh darah saya yang ditabalkan melalui silsilah dan ruhaniah, dan kefasihan kenusantaraan yang terpatri di ujung lidah yang diamalkan melalui masakan dan bahasa Ibu vis a vis bentuk hidung dan mata, satu dua kosa kata bahasa Arab yang terlontar di tengah pembicaraan, musik gambus dalam pesta perkawinan kerabat paling-paling setahun sekali, merupakan irisan-irisan realitas yang teradon di kuali fenomena.

 

Lalu apa jadinya? Jadinya sebuah konstruksi eksistensial aku-hibrid yang tak terjelaskan, serupa kapal yang dirancangbangun secara “serampangan”, lalu diluncurkan di laut lepas mengarungi samudra identitas. Secara darah dan mental kultural, bisa jadi saya lebih Indonesia dari mereka yang mengaku “Indonesia asli”.

 

Tapi secara penampakan fisik dan pencatatan nasab, saya tak kurang Yaman—di Indonesia disebut etnis keturunan Arab dan banyak disalahpahami sebagai keturunan Arab Saudi, tapi anehnya saat angkatan udara Arab Saudi membombardir Yaman, koran-koran nasional memberitakan dengan judul “Angkatan Udara Arab Serang Yaman”—dari siapapun yang menuliskan gelar Habib di depan namanya dengan huruf-huruf besar.

 

Keradenan dan Kesayyidan, jika dipaksa untuk memaknainya, saya anggap sebagai peristiwa takdir alamiah belaka, di mana saya dilahirkan sebagai keturunan orang-orang besar pada masa lalu. Itu bukan sesuatu yang bisa saya akui atau ingkari. Dan selebihnya menjadi urusan internal keluarga, sebagaimana kaum atau etnis tertentu lainnya, yang secara naluriah berusaha menjaga keberlangsungan puaknya. Dengan demikian, di luar urusan itu, keradenan dan kesayyidan tak berefek apa-apa pada pilihan gaya hidup dan cara pandang saya, baik dalam memandang diri sendiri maupun orang lain.

 

Semua pengalaman “kemenjadian” itulah yang membuat saya menyimpan sejumlah dendam dan setumpuk amarah terhadap persoalan SARA. Saya tidak suka pada fanatisme agama, saya marah pada segala bentuk laku rasis, baik terhadap etnis Arab, Tionghoa, India, Yahudi, Afrika hitam, Sunda, Jawa, Padang, Papua, Betawi, dan sebutlah yang lainnya. Saya menolak generalisasi terhadap semua agama dan etnis yang pada dasarnya penuh warna.

 

Ghiroh anti rasisme saya terbangun dari pondasi empirisisme; subyektifitas seorang korban. Ini maqomnya tentu di bawah mereka yang semangat anti-rasismenya tercipta dari kesadaran intelektual dan kemajuan peradaban.

 

Tapi saya khawatir sesungguhnya rasisme tidak akan pernah mati. Ia hanya meringkuk di benak kita, dikurung dalam kandang yang dibangun oleh kesadaran intelektual dan peradaban, bagaikan seekor anjing galak yang moncongnya sengaja diberangus agar tak bisa menyalak.

 

Jadi, seringkali “anjing galak” itu menyalak saat sang tuan tersulut emosinya, membuat rasionalitasnya terganggu dalam melihat kenyataan. Sang tuan tidak hanya mempersoalkan ihwal sebuah tindakan, melainkan juga etnisitas si pelaku. Misalnya seorang etnis keturunan Arab terkait aksi terorisme. Atau seorang etnis Tionghoa terbelit kasus penyuapan pejabat. Atau seorang etnis Batak terlibat kasus perampokan. Maka kerap yang pertama kali terlontar adalah tali simpul: “dasar!” Ini tipikal sebuah cara berpikir kerja asosiatif warisan masa primitif, yang tak lekang dimakan kemajuan peradaban.

 

Bagaimana kita akan menjelaskan orang-orang seperti Imran, Amrozy, dan Imam Samudra yang bukan Arab itu? Lalu bagaimana kita akan menerangkan ulama lembut semisal Prof. Quraish yang menyandang marga Shihab di belakang namanya?

 

Di tingkat dunia, bagaimana kita akan menempatkan ratusan ribu rakyat sipil Arab yang membentang dari Tunisia, Libia, Mesir, Libanon, Suriah, Irak, dll. yang menjadi korban terorisme? Bagaimana kita akan menerangkan soal puluhan ribu tentara nasional negara-negara Arab itu, yang tewas saat memerangi pasukan teroris ISIS dan kawan-kawannya yang datang dari segala penjuru dunia?

 

Juga, bagaimana kita akan mendedah jutaan orang Arab, baik yang berkulit putih di Libanon maupun yang berkulit hitam di Sudan (dan yang di antara keduanya)? Mereka ada yang Kristen, sekuler, liberal, komunis, agnostik, bahkan atheis, dan semuanya berbicara dengan menggunakan “ana” dan “antum” dan sebagian dari mereka berjenggot dan memakai ghamis (yang oleh sebagian orang di sini kerap dihina dengan sebutan “daster”), di gereja, di kantor partai politik, di bar-bar, dan di tempat lainnya, sebagaimana yang dipakai dan dikenakan para ”akhi” dan “ukhti” di Indonesia?

 

Lihat, betapa tidak hitam putihnya dan betapa banyaknya kesalahpahaman dalam kategori-kategori yang kita susun selama ini: Islam, Arab, Shihab, Alawiyin, Sayid, Habib, keturunan Arab, dll.

 

Dan seringkali terjadi, dua kubu yang berseberangan pada kenyataannya berbagi kesalahpahaman yang sama. Salah satu contohnya adalah pertarungan kelompok “Islamis” dan “sekularis” dalam memaknai simbol. Di satu sisi, kelompok “Islamis” senantiasa mengusung atribut Arab; bahasa, musik, busana, dll, dengan asumsi bahwa semua yang berbau Arab adalah Islam. Mereka abai bahwa bahwa bahasa, musik, dan busana yang sama juga dipakai oleh orang Arab yang beragama Kristen, sekular, komunis, dan lain sebagainya.

 

Sementara itu, kubu “sekularis” alergi pada segala yang berbau Arab lantaran menganggap bahwa yang kearab-araban itu pasti Islam. Kosa kata “Ana dan antum” digalakkan oleh kaum “Islamis” karena itu dianggap Islami, dan sebaliknya sebisa mungkin dihindari oleh kaum “sekularis” lantaran alasan yang sama. Jadi, pada dasarnya, kedua kubu saling mengamini cara pandang terhadap Arab dan Islam.

 

Padahal, kedua kubu setiap saat sama-sama menggunakan kosa kata bahasa Arab dalam pembicaraan sehari-hari, dari awal hingga akhir, dari lahir hingga mati, dari sehat hingga sekarat dari khusus hingga umum, dari soal hingga jawab, dari sebab hingga akibat, dari kuliah hingga makalah, dari asyik hingga ribuan masyuk lainnya, tanpa beban dikotomi “Islamis” dan “sekularis”. Betapa banyaknya orang yang meributkan Arabisasi Islam, tapi sedikit sekali yang mempedulikan Islamisasi Arab.

 

Jadi, tadi saya sengaja menceritakan soal ayah saya sebagai sebuah ilustrasi bahwa Shihab, Sayyid, Habib, dan banyak hal sejenis lainnya, tidaklah tunggal. Apa yang selama ini dikesankan di benak publik, baik yang pro maupun kontra, terkait dengan tampilnya seseorang atau sesuatu yang ikonik, merupakan sebentuk simplifikasi.

 

Maka, terlepas dari pro dan kontra, benar dan salah, dan juga sekat-sekat ideologi, menilik usianya yang demikian lanjut (apalagi penghormatan terhadap orang tua dalam satu marga merupakan salah satu tradisi yang masih tersisa di kalangan etnis keturunan Yaman),  ayah saya yang fasih berbahasa Belanda, Inggris, dan Arab itu, merupakan seorang sesepuh marga Shihab di Jakarta.

 

Saya merasa kesesepuhan ayah dalam salah satu keluarga Shihab serta corak warna keberislaman dan keberindonesiaannya, layak saya ceritakan sebagai opsi bagi publik dalam memandang marga Shihab pada khususnya, dan marga-marga sayyid lain pada umumnya.

 

Dan pelukis Raden Saleh bin Yahya, pencipta lagu H. Mutahar, penyanyi rock Ahmad Albar, penyanyi dangdut Mukhsin al-Atas, mantan menlu Ali al-Atas dan Alwi Shihab, sutradara Ali Shahab, wartawan senior Fikri Jufri, Harun Musawa, Alwi Shahab dan DH. Assegaff, presenter Najwa Shihab, aktivis-aktivis muda seperti Acin Muhdar dan Tsamara Armany al-Atas, dll., bagaimanapun merupakan keluarga besar habib juga.

 

Seharusnya mereka bisa menjadi warna-warni pemecah opini tunggal di mata publik. Tapi apa boleh buat, di mana pun di dunia ini, mata publik selalu silau pada yang ikonik. Maka, harapan agar khalayak ramai bisa memandang dan bersikap obyektif akan sulit terwujud. Harapan semacam itu hanya akan tinggal harapan, tak pernah naik kelas. Selamanya ia akan duduk di bangku yang sama dengan utopia.

 

Saya curiga Tuhan memang sengaja membuat lembar soal bernama kehidupan, dan manusia diwajibkan untuk mengisinya di atas titik-titik paradoks dan ignorance yang disediakan.

 

Catatan Kaki

*) Artikel ini ditulis oleh Ben Sohib (Penulis novel dan cerita pendek) dan dimuat di tirto.id pada 19 Januari 2017

 

* Gelar kehormatan untuk keturunan Nabi Muhammad melalui jalur pernikahan Fathima Azzahra dan Ali bin Abi Thalib. Komunitas ini terdapat di berbagai negara di antaranya Yaman, Irak, Iran, Libanon, Suriah, Jordania, Turki, Bosnia, Albania, Serbia, Kroasia, Georgia, Ukraina, Rusia, Afghanistan, Kazakstan, Uzbekistan, Tajikistan, Afghanistan, Pakistan, India, Tiongkok, Libia, Maroko, Nigeria, Somalia, Eriteria, Kenya, Kambodia, Filipina, Thailand, Malaysia, Indonesia, dan Brunei.

 

** Khusus untuk para sayid di Somalia, Eriteria, Kenya, India dan negara-negara Asia Tenggara (termasuk Indonesia), merupakan diaspora para sayid dari Yaman, tepatnya dari propinsi Hadramaut dan dikenal sebagai bani Alawi/Baalawi/Alawiyin. Bani Alawi ini merujuk Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa ar-Rumi bin Muhammad an-Naqib bin Ali al-Uraidhi bin Jakfar as-Shodiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zaen al-Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib dan Fathima Azzahra binti Muhammad SAW. Alawi merupakan generasi pertama dari keluarga Ahmad al-Muhajir yang lahir di Hadramaut. Ahmad al-Muhajir dan anak-anaknya sendiri berasal dari Irak. Ia mandapat julukan al-Muhajir karena berhijrah dari Hadramaut.

 

*** Didirikan Muhammad bin Ali Baalawi atau yang dikenal dengan gelar Al-faqih Mukaddam di Hadramaut pada abad 10 masehi. Tarekat sufi ini memiliki akar sejarah pada konflik perebutan kekuasaan antra Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan. Melalui peperangan dan intrik politik, Muawiyah berhasil mengalahkan Ali bin Abi Thalib.

 

Kekalahan Ali bin Abi Thalib ini menandai berakhirnya era Empat Khalifah yang Terpercaya” atau dikenal dengan istilah “Khulafaur rasyidin”. Sejak saat itulah berdiri sitem kerajaan dalam dunia Islam tapi dengan tetap memakai gelar Khalifah. Seluruh raja dari dinasti Umayyah yang didirikan oleh Muawiyah bin Abu Sufyan memakai sebutan khalifah. Demikian pula dengan dinasti-dinasti selanjutnya seperti Dinasti Abasiyah di Baghdad dan Dinasti Ottoman.

loading...