Kerusuhan Massa Demo Bela Islam Sudah Direncanakan?

0

TERASBINTANG.com – Aksi Bela Islam II yang berlangsung di depan Istana Presiden 4 November lalu hampir mencoreng nama baik Islam sebagai agama teduh penuh kedamaian. Betapa tidak, pukul 18.00 WIB yang seharusnya demonstran langsung membubarkan diri, malah makin ngeyel aparat. Demo tetap berlangsung meski jelas-jelas melabrak aturan.

Apalagi, setelah jam-jam itu, kondisi makin panas, peserta aksi mulai kesulitan mengontrol emosi. Pada saat itulah provokasi dimainkan untuk menciptakan kerusuhan terhadap aparat. Benar saja. Penghancuran tembok, bakar-bakar, lempar aparat dengan batu pun tak dapat dihindari.

Sebagian memancing amarah polisi agar melawan demonstran. Tapi aparat tampaknya sudah tahu gelagat buruk demostran. Nyaris tak ada perlawanan dari Polisi, meski lemparan baru dan hujatan terhadap aparat dan simbol negara berseliweran.

Kondisi ini sebenarnya bisa juga merupakan indikasi kuat bahwa insiden rusuh yang terjadi setelah pukul 18.00 WIB memang sengaja dibuat. Ada aktor politik, seperti juga diyakini Presiden, yang sengaja mendomplang kekuatan massa untuk tujuan-tujuan tertentu.

Ini baru aksi lapangan. Bagaimana dengan sosial media? Provokasi melalui sosial media ternyata tak kalah mengerikan. Setidaknya, ada 4 isu tersebar di sosial media yang belakangan terbukti hanya hoax dan fitnah. Isu ini memang cukup efektif membakar api kemarahan umat Islam bila terus dibiarkan berkembang, antara lain:

1. HOAX PROVOKATOR NASRANI

Hoax keji pertama adalah yang mengatakan oknum provokator warga nasrani, bahkan sampai mengarang cerita “ditemukan KTP provokator agama Katolik”.

Berdasarkan foto, teridentifikasi anggota HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) sedang memukul aparat menggunakan kayu / bambu.

2. HOAX PROVOKATOR WARTAWAN

Akun facebook Azzam Mujahid Izzulhaq sempat menebar Hoax wartawan KOMPAS TV sebagai pelaku provokator yang menyamar & menyusup.

Namun setelah diklarifikasi Kompas TV, Azzam AKUI SALAH telah menebar Hoax, dan meminta maaf kepada Kameramen Muhammad Guntur sbb:

“Dengan ini saya, Azzam Mujahid Izzulhaq, menyatakan bahwa saudara Muhammad Guntur, adalah benar-benar wartawan Kompas dan BUKAN provokator. Atas ketergesaan dan kekeliruan yg saya lakukan, saya memohon maaf yg sebesar-besarnya.”

3. HOAX PENJARAH WARGA CINA

Hoax keji ketiga adalah foto oknum warga etnis Tionghoa yang disebar disertai KLAIM sebagai pelaku penjarahan minimarket di Penjaringan.

Setelah ditelusuri ternyata foto tersebut diambil dari BERITA LAMA tertanggal 5 Agustus 2016 mengenai warga Tiongkok Ilegal di daerah Kedoya.

Warga China Ilegal di Kedoya
http://kriminalitas.com/warga-china-ilegal-di-kedoya-sudah-tipu-tipu-sejak-5-bulan-lalu/

4. HOAX APARAT MENZALIMI

Hoax keji keempat adalah “APARAT BANTAI UMAT ISLAM” yang ditulis oleh laman page facebook salah satu motor penggerak aksi 4 Nov.

Kenyataan di lapangan, aparat mengambil posisi defensif (bertahan) TIDAK AGRESIF, bahkan setelah terjadi tindakan anarkis memukuli aparat menggunakan kayu / bambu.

Aparat menggunakan Gas Air Mata SESUAI SOP Protap Demo yang mewajibkan pendemo membubarkan diri pada jam 18:00.

Berdasarkan hukum yang berlaku, aparat BOLEH menggunakan Gas Air Mata apabila pendemo menolak dibubarkan setelah jam 18:00. Aparat sudah benar.

Penyebaran isu fitnah dan provokasi yang begitu marak menjelang demo tersebut adalah bukti nyata bahwa kerusuhan demo memang sengaja direncanakan terjadi.

Apalagi para orator lapangannya memang sengaja mengeluarkan pernyataan yang sungguh sangat tidak pantas dan cenderung makar, makin menambah panas-dingin demonstran. Hal ini bisa dilihat dari orasi Fahri Hamzah yang tebar ancaman menjatuhkan Presiden Jokowi lewat jalur parlemen jalanan. Begitu juga Ahmad Dhani yang meneriaki Jokowi Presiden anjing.

Ini semua adalah bukti paling nyata bahwa demo memang sengaja dirancang membuat instabiltas politik nasional. Entah dengan tujuan apa. Tentu hanya para penyandang dana yang tahu semua ini. (za)

KOMENTAR