KH MASDAR FARID MAS’UDI

0
loading...

TERASBINTANG.com – Penampilannya sederhana. Batik dan peci yang dikenakannya seringkali tampak lapuk karena dimakan usia. Kemana-mana suka naik kereta. Tubuhnya yang kecil kerap tenggelam di tengah lautan penumpang kereta dari Depok ke Jakarta.

Mungkin tak ada yang menyangka bahwa ia pemikir besar yang bernyali besar. Perawakannya yang “mungil” tak merepresentasikan pemikirannya yang besar. Ia mulai kelihatan digdaya ketika sudah bicara di forum-forum akademik-ilmiah. Diksinya terjaga. Argumen-argumennya sering tak terbantah.

Itulah KH Masdar Farid Mas’udi. Santri KH Ali Maksum Krapyak dan KH Khudori Tegalrejo Magelang. Tak pernah mengeyam pendidikan di luar negeri, baik di Barat maupun Timur Tengah. Tapi, tak ada yang ragu soal kealimannya. Ia menguasai literatur klasik dan modern, Barat dan Timur.

Pikiran-pikiran keislamannya sering mengguncang kemapanan. Ketika pelaksanaan ibadah haji menimbulkan tragedi kemanusiaan, Kiai Masdar terus gusar. Lalu tercetus ide darinya tentang maksimalisasi waktu haji yang tiga bulan itu. Wukuf di Arafah bisa di pertengahan Bulan Dzulhijjah. Bisa juga di pertengahan bulan Syawal.

Ketika umat Islam memiliki kewajiban ganda (bayar pajak pada negara dan bayar zakat pada agama), Kiai Masdar menggagas pentingnya penyatuan pajak dan zakat. Membayar pajak diniati sebagai zakat. Menyetor zakat pada negara menyebabkan umat kian perkasa mengontrol pemerintah.

Dua ide kontroversialnya ini diacukan pada cita kemaslahatan. Jika Imam Syafii punya slogan, “idza shahhal hadits fahuwa madzhabi”, maka Kiai Masdar punya jargon, “idza shahhat al-mashlahah fahiya madzhabi”. Menurutnya, maslahat adalah soko guru dari seluruh syariat.

Kiai Masdar terus berhujjah dengan kemaslahatan. Tapi, menurut sejumlah kiai pesantren, kemaslahatan yang disuguhkannya adalah kemaslahatan mulghah, yaitu kemaslahatan yang bertentangan dengan teks syariat.

Apa boleh buat, ide-ide Kiai Masdar ini menimbulkan kontroversi. Banyak orang bertanya soal keseriusan pemikirannya. Khawatir kontroversi tak terkendali, maka Gus Dur turun tangan menengahi.

Menurut Gus Dur, kekuatan ide-ide Masdar akan diuji oleh sejauh mana ia memberi andil bagi terwujudnya kemaslahatan yang dikatakan Masdar itu.

Sebab, demikian Gus Dur, suatu pemikiran boleh saja cum laude dari sudut teoritik, tapi jika kandas dalam pembuktian empirik, dalam arti tidak jelas manfaat dan kemaslahatannya bagi kehidupan manusia, maka tidaklah banyak maknanya.

Gus Dur sudah tiada. Tapi ide-ide Kiai Masdar akan terus diuji oleh sejarah.

Rabu, 29 Maret 2017
Salam,

Abdul Moqsith Ghazali

loading...