Komentar Neno Warisman Soal Kata “Pakai” Dinilai Ngawur dan Nyeleneh

0

TERASBINTANG.com – Neno Warisman ikut hadir dalam gelar perkara kasus laporan dugaan penistaan agama oleh Gubernur nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Neno mengklaim hadir sebagai saksi ahli bahasa dari pihak pelapor, Novel Bakmumin.

Dalam keterangannya, ia memastikan bahwa Ahok telah melecehkan agama bila ditinjau dari aspek pemahaman bahasa. “Dari ahli bahasa kita betul-betul temukan secara bahasa maupun niat itu bisa dibuktikan dari bahasa bahwa memang terjadi penistaan, itu bukan omong kosong, itu benar,” kata Neno usai keluar dari Gedung Rupatama Mabes Polri, Jakarta Selatan, kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (15/11/2016).

Saat ditanya mengenai kata “pakai” dalam unsur kalimat Ahok, Neno kembali menegaskan bahwa ada atau tidaknya kata “pakai” sama sekali tidak mempengaruhi makna. “Menggunakan kata pakai atau tidak itu sama saja, tidak ada bedanya sama sekali, tidak menggangu substansi,” katanya.

Menanggapi pernyataan Neno di atas, pemerhati sosial dan politik, Septa Dinata menilai, apa yang disampaikan oleh Neno sebenrnya tidak lebih dari ungkapan ngawur dan asbun (asal bunyi). Pasalnya, kata “pakai” dalam konteks tata bahasa mempunyai makna penting yang dapat mengubah makna dan substansi sebuah pernyataan.

“Dibohongi pakai Surat Al Maidah 51”. Apabila kalimat ini diubah dalam bentuk aktif, kata Septa, maka akan menjadi “Orang membohongi orang pakai Surat Al Maidah”. Baik subjek maupun objek dianggap common.

“Nah, terlihat di sini bahwa Al Maidah adalah benda pasif yang digunakan oleh subjek. Dengan adanya kata “pakai” atau dalam bahasa inggris “by” yang merupakan kata depan atau preposition, frase “by using Al Maidah” menjadi prepositional phrase yang berfungsi sebagai “adverb of manner” atau keterangan cara,” katanya.

Jadi, menurut Septa, ada atau tidak kata “pakai” kalau ditinjau dari struktur bahasa dan maknanya akan sangat jauh bedanya. Ia pun heran, logika bahasa seperti apa yang dipake Neno, hingga mengklaim kata “pakai” tak memengaruhi makna.

Menurut Septa, komentar nyleneh seperti itu adalah bagian dari lompatan logika dalam membaca kasus Ahok secara objektif. Mereka tampaknya tidak mau ‘ribet’ soal bahasa. ebab, yang mereka pikirkan adalah bagaimana Ahok bisa tumbang sebelum bertarung di kotak suara. (za)

 

KOMENTAR