Lahirkan Perpecahan, Gubernur Papua Tegaskan Tolak HTI dan FPI di Tanah Papua

0
loading...

TERASBINTANG.com – Gubernur Papua Lukas Enembe dengan lantang menyuarakan agar Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan Front Pembela Islam (FPI) mesti ditolak terutama di tanah Papua sendiri. Karena keberadaan kedua organisasi islam radikal tersebut idak hanya meresahkan masyarakat melainkan mengancam keutuhan bangsa dan negara.

“Selaku Gubernur Papua, di sini saya tegaskan kami menolak keberadaan kelompok organisasi radikal di tanah Papua. Saya ikuti perkembangan informasi di media sosial terkait hal ini, siapa pun kita harus sepakat tolak keberadaan HTI dan FPI,” tegas Gubernur pada sebuah pertemuan ramah tamah bersama jajaran Forkopimda dan para tokoh agama, tokoh adat serta masyarakat di kediaman Pendeta Lipiyus Biniluk, Jayapura.

Gubernur Lucas Enambe mengaku bahwa peristiwa menyangkut isu SARA seperti yang terjadi pada Pilkada Jakarta tidak perlu terjadi di Papua karena bisa memecah belah bangsa.

“Kami di Papua menjaga NKRI secara utuh dan damai. Kita tidak terpengaruh, sebab sejak dahulu kami sudah menjaga kedamaian, kerukunan antar suku dan agama. Oleh sebab itu kita harus sepakat untuk menjaga keutuhan negara ini dan dimulai dari Papua,” katanya.

Gubernur Lucas Enbambe meminta kepada Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) di Papua bersama Pemerintah dan jajaran pihak keamanan TNI Polri, termasuk tokoh adat dan masyarakat untuk membahas secara serius atas hal itu.

“Saya minta secara resmi untuk segera mengambil langkah pencegahan. Sebab situasi ini tidak boleh terjadi karena akan berbahaya. Kita tahu di Provinsi ini dengan berbagai gejolak di mana satu sisi ada kelompok yang pro kemerdekaan dan pro NKRI, kalau ada kelompok ini lagi nantinya akan berbahaya, nantinya masyarakat yang jadi korban,” tegas Mantan Bupati Puncak Jaya ini.

Menurut Ketua FKUB Papua, Pdt. Lipiyus Biniluk masuknya kelompok radikal Islam patut diwaspadai oleh semua pihak. Tidak boleh ada yang merasa hebat dengan agamanya di atas tanah Papua, “sebab yang terhebat hanyalah Tuhan,” ucapnya.

“Di dalam Kristen mari kita lanjutkan perjuangan Kristus, agama yang lain juga begitu namun yang harus diingat jangan saling mengganggu!” Lipiyus mengingatkan.

Lipiyus menilai, peran tokoh agama, adat juga masyarakat sangat penting sebab merekalah yang paling dekat dengan masyarakat. Semisal  tokoh agama, bisa menyampaikan pesan kenabian dalam mimbar dan data yang lengkap maka umat pasti akan mendengarkan. Sebab jika masyarakat mendengarkan secara setengah setengah isu yang beredar, maka peluang terjadi konflik akan cukup besar. Ini tentunya tidak boleh terjadi di Papua.

“Saya harapkan Pemerintah bisa melihat peranan kedua lembaga ini, bagaimana mereka bisa membangun komunikasi aktif yang selama. Ini saya lihat tidak berjalan baik. Harapan saya Pemerintah pusat ada program khusus untuk kerjasama lebih dekat dengan FKUB, dalam usulan saya ke Wapres untuk masuk program khusus Prolegnas bisa  diprogramkan secara resmi sehingga mereka kerja fokus,” harapnya.

Sementara itu, Kapolda Papua, Irjen Pol Boy Rafly Amar menegaskan bahwa aparat penegak hukum tentunya mempunyai visi untuk menjadikan Papua yang sejahtera, aman dan tertib. Tentunya pendekatan tugas kepolisian yang dikedepankan bukan lagi yang sifatnya menjadi momok masyarakat, namun pro aktif melalui gerakan Adik Kakak yang artinya gerakan Aman, Damai, Indonesia Kuat.

“Kerukunan adalah kunci utamanya. Kami ingin bersama seluruh tokoh masyarakat, agama, adat kita bangun kerukunan di tanah Papua,” ucapnya.

“Kami juga ingin masyarakat Papua menjadi bahagia aman dengan pendekatan humanis yang kami lakukan, pendekatan agama, menjalin persahabatan dengan seluruh stakeholder. Oleh karenanya saya selalu menekankan kepada staf dan jajaran untuk selalu berpikir positif terhadap masyarakat Papua. Kita harus mengajak semua pihak untuk mewujudkan masyarakat yang aman damai dan tertib,” sambungnya.

loading...