Lapak Sebelah Sibuk Pecah Belah Umat, BEM Nasional Justru Kampanyekan Pilkada Damai Tanpa SARA

0

TERASBINTANG.com – Sungguh miris ketika tokoh-tokoh Islam memilih jalan anarki dan menyulut api kemarahan massa menjelang Pilkada DKI Jakarta. Alih-alih mendukung gerakan Pilkada damai dan demokratis, mereka justru mencoba membangkitkan amarah massa dengan menggunakan isu murahan bernama SARA.

Pada 4 November besök, ada rencana besar umat Islam turun secara besar-besaran mendesak aparat penegak hukum agar Gubernur DKI Jakarta Non-Aktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok segera ditangkap. Alasannya, Ahok sudah dianggap menghina bahkan melecehkan Alqur’an.

Gerakan massa ini disokong oleh modus “Membela Alqur’an”. Meski semua orang sudah paham dan mengerti bahwa tujuan aksi tersebut semata-mata untuk kepentingan politik.

Untuk menangkal motif busuk berkedok pembelaan agama ini, 100 mahasiswa perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari berbagai kampus di Jakarta mengikrarkan Pilkada DKI Jakarta 2017 yang Sehat dan Cerdas Tanpa Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA).

Menurut Koordinator BEM Jayabaya, Ismail M, isu SARA merupakan ujian terberat di Pilkada DKI Jakarta yang harus dilalui oleh bangsa ini. Jika ini berhasil, tentulah Jakarta sah sebagai daerah percontohan dan merupakan cermin keberhasilan Pilkada serentak. Itu sebabnya, kata Ismail, Isu SARA wajib diredam sedemian rupa.

Ia mengatakan, isu SARA masih menjadi komuditas politik yang paling seksi untuk menjungkal kompetitornya.

“Isu SARA selalu diangkat kepermukaan untuk menurunkan pesaingnya dari panggung konstestasi politik lokal,” ujar Ismail di Universitas Jayabaya, Jakarta, Kamis (27/10).

Tak heran, ujar Ismail, ketika isu SARA merebak maka selalu menjadi ‘dzikir’ politik. Oleh karenanya dengan adanya isu SARA maka potensi konflik antar etnis selalu mengemuka. Sehingga ancaman isu SARA tidak hanya berdampak kepada korban (calon) namun juga berdampak kepala konflik sosial. Karena publik yang militan mendukung salah satu calon yang menjadi korban SARA tidak akan terima.

“Dampaknya, konflik horizontal akan mudah terjadi jika tidak ada kelompok yang bisa menyikapi secara dewasa,” jelasnya.

Lebih lanjut Ismail mengatakan, karena Pilkada DKI Jakarta adalah barometer politik nasional maka diharapkan pesta demokrasi bisa berlangsung dengan lancar dan aman. Untuk itu, seluruh pemangku kepentingan dalam pelaksanaan pilgub diharapkan mengantisipasi berbagai masalah tersebut agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diharapkan.

“Harapan kita perangkat dan personel keamanan di Ibu Kota hendaknya segera mempersiapkan pengamanan di wilayah masing-masing. Ambil langkah deteksi maupun peringatan dini serta pencegahan dini dan tindakan preventif,” pungkasnya. (wa)

KOMENTAR