Lapmi PB HMI Sayangkan Media Australia yang Tuduh Masjid Asy Syuhada Sarang ISIS

0

TERASBINTANG.com – Wartawan Australia baru-baru ini me-warning Indonesia akan bahaya kelompok radikal berkedok Negara Islam Irak dan Suriah. Pasalnya. Ada sekitar lima masjid di DKI yang sudah disusupi kelompok bajingan ini. Salah satunya adalah Masjid Say Syuhada, Jakarta.

Hal ini terkait dengan pengajian yang pernah digelar di masjid ini dan mayoritas diikuti oleh wajah-wajah bule dan dipimpin langsung Syamsuddin Uba, sosok yang pernah ditangkap polisi terkait ISIS.

Padahal, berdasarkan kesaksian pengurus masjid sendiri, tidak ada indikasi propaganda ISIS pada saat pengajian itu berlangsung. Sebaliknya, pengajian tersebut hanya berbicara mengenai sistem ekonomi Islam serta sistem kenegaraan Indonesia secara umum hubungannya dengan negara-negara Islam.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Lembaga Pers Mahasiswa Islam Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (LAPMI PB HMI) Fitriyani mengecam keras tuduhan yang dilontarkan media asing tersebut. Seharusnya, kata dia, media asing objektif dalam memberitakan sesuatu. Membahas tentang ekonomi dan negara Islam, katanya, tidak berarti mendukung gerakan radikal bernama ISIS. Ienurutnya, Indonesia sebagai negara demokratis tentu terbuka dengan wacana semacam itu.

“Saya secara pribadi mengecam keras tuduhan tersebut. Perspektif yang digunakan harus lebih terbuka dan objektif. Membahas negara Islam itu kan bukan berarti mendukung ISIS. Ini dua hal yang berbeda. Dan tidak mungkin sama,” katanya saat berbincang dengan Terasbintang.com.

Di Indonesia, kata Fitry, pembahasan mengenai ekonomi Islam sudah menjadi wacana yang familiar. Berkembang melalui forum-forum akademik kampus dengan jumlah peminat yang terus berkembang dari waktu-ke waktu. “lalu apanya yang aneh? kenapa harus selalu dikaitkan dengan ISIS?,” tanya dia.

Tak Ada Pembahasan Soal ISIS

Dalam pertemuan yang dipimpin Syamsuddin Uba ini, pengurus Masjid Say Syuhada, Rifan Muzamil, menegaskan, dalam pertemuan tersebut tidak ada pembahasan mengenai ISIS.  Menurutnya, materi yang dibahas adalah perbedaan sistem ekonomi, hukum dan tata negara Indonesia dengan negara-negara Islam. Materi itu, menurut Syamsudin saat itu, merupakan kajian Tauhid. (fk)

KOMENTAR