Mahasiswa Paramadina Desak Pemerintah Cabut Skripsi Jadi Syarat Kelulusan

0

TERASBINTANG.com — Mahasiswa stres, depresi sampai bunuh diri menjadi tragedi mengerikan di dunia pendidikan perguruan tinggi. Gara-garanya adalah masalah klasik tugas akhir skripsi.

Seperti yang dialami salah seorang mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi di Jakarta bernama Efr (20) yang ditemukan tewas di rumahnya di kawasan Petukangan Selatan, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, gantung diri karena dua kali ditolak skripsinya, Rabu, 27 Juli 2016.

Atau mahasiswa berinisial RS nekat menghabisi dosenya sendiri dengan melukai leher dan menebas tangan sang dosen hingga tewas pada Senin, 2 Mei 2016 lalu, setelah terlibat cekcok tentang masalah skripsi. Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Dra Hj Nurain Lubis (63) itu nyawanya tak tertolong.

Kini gugatan terhadap skripsi datang dari mahasiswa Paramadina. adalah Abdul Rahman, mahasiswa kelas akhir Falsafah dan Agama Universitas Paramadina, meminta Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi untuk menghapus kewajiban skripsi sebagai syarat mutlak kelulusan mahasiwa. Alasannya, cara berpikir rasional mahasiswa dalam memecahkan persoalan tidak melulu lewat skripsi.

“Saya mewakili puluhan ribu mahasiswa tingkat akhir yang selama ini tidak berani buka suara, berharap Bapak Menteri Mohamad Nasir barani mengambil kebijakan untuk mencabut skripsi sabagai satu-satunya kewajiban bagi mahasiswa. Seharusnya skripsi dijadikan optional,” kata Rahman seperti dilansir dari rmol.co.

Keberatannya bukan tanpa alasan. Sedikitnya ada tiga alasan dia. Pertama, tidak semua mahasiswa berminat menjadi peneliti. Kedua, menurutnya, bertentangan dengan tujuan pendidikan itu sendiri yang mau mendidik manusia Indonesia secara utuh, bukan parsial. Dan ketiga, kewajiban skripsi melegalisasi praktek mafia. Banyak mahasiswa melakukan order skripsi hanya demi lulus kuliah.

“Saya pribadi tidak berminat menjadi peneliti. Tidak fair kalau skripsi itu dipaksakan sebagai satu-satunya syarat kelulusan,” katanya.

Dia berpendapat, menguji cara berpikir sistematis memecahkan persoalan tidak hanya melalui skripsi.

“Menulis artikel, opini di media massa juga salah satu caranya. Dan saya sudah lakukan itu sejak masih mahasiswa baru,” imbuhnya.

KOMENTAR

loading...