Dari Mana Kekerasan Atas Nama Islam Dapat Inspirasi?

0
Demo FPI

TERASBINTANG.com – Kekerasan atas nama agama Islam kian marak terjadi. Terakhir, sebuah bom diledakkan di sebuah gereja HKBP di Kota Samarinda, Kalimantan Timur. Empat pelaku sudah ditangkap. Salah satunya adalah seorang marbot masjid mujahidin Samarinda.

Kenapa kekerasan atas nama agama bisa terjadi, siapakah otak yang sebenarnya, dari mana kekerasan dapat inspirasi? 

Sebelum menyalahkan siapapun, apalagi sibuk membuat teori konspirasi atas kejadian tersebut, ada baiknya kita pelan-pelan mulai memikirkan kembali bagaimana cara ulama menyampaikan pesan agama. 

Apakah semua ustadz, kiai, ulama, habib sudah menebarkan pesan damai dalam dakwahnya?

Ini tentu pertanyaan penting bagi kita umat Islam. Sebab, dari sinilah kekerasan itu muncul. Percuma saja hukum berat ditegakkan, bila kelakuan ustadz dan habib-habibnya masih suka berteriak “bunuh” kepada “yang lain”.

Masih ingat kan, ketika FPI beserta ormas Islam lain, ketika demo Bela Islam II, dipimpin orang habaib, meneriakkan bunuh Ahok sambil nyanyi-nyanyi? Yah, mereka berteriak gorok dan bunuh Ahok dikemas dalam lagu-lagu, diselingi teriakan takbir.

“Bunuh, bunuh, bunuh, si Ahok. Bunuh Si Ahok Sekarang Juga!”. Gorok, gorok, gorok Si Ahok. Gorok Si Ahok Sekarang juga,” kata para jamaah kompak.

Bayangkan, kelakuan ulama dan habibnya sudah begitu, bagaimana umatnya? Bagaimana kita bomomberharap kekerasan atas nama agama sirna di muka bumi kalau para penuntun moral memang mendakwahkan kekerasan  dan kebiadaban?

Gus Permadi Arya, seorang muslim nahdliyyin, mengatakan, “Bila ulama, habib & ustadz masih begitu mudah pakai kata “BUNUH” dalam dakwahnya, apakah aneh bila ada umat yang membunuh?,” katanya.

“Umat pasti ikut ulamanya. Ulama bilang “Bunuh!”, tidak usah kaget bila ada 1-2 umat benar2 nekad melakoni.” (z)

KOMENTAR

loading...