Mengembalikan Kejayaan Haranggaol

0

Haranggaol kembali menjadi pemberitaan nasional. Tapi bukan karena kejayaannya, melainkan musibah ratusan ikan mati. Musibah ini membuka kotak pendora dilema daerah ini: tetap menjadi tempat penghasil ikan atau kembali menjadi objek wisata andalan.

Saat ini, mengunjungi Haranggaol tak lagi mengesankan. Tak seperti tahun 1980 hingga 1990an, di mana pemandangan indah dipadu dengan udara segar dan biru air jernih membuat mata terpana dan hati terpesona.

Keramba Jaring Apung (KJA) kini mendominasi pemandangan, ditambah bau busuk ikan mati yang mengotori udara, membuat mata tak lagi betah berlama-lama. Ya, kini Haranggaol berubah menjadi daerah pusat budidaya ikan mas dan nila. Hanya sedikit tersisa pantai Haranggaol untuk persinggahan kapal-kapal penumpang dari Desa pesisir danau. Pantai Haranggaol kini bak kota keramba ikan.

Padahal, tahun 1980 hingga 1990an, Haranggaol adalah jantungnya Danau Toba. Menyebut Danau Toba, yang terbayang di benak pecinta wisata adalah Haranggaol dan Parapat. Si “bottar mata” (bule) maupun wisatawan nasional dan lokal, tumpah ruah di sini.

Banyaknya wisatawan itu membuat Haranggaol bergairah, tak hanya dalam ekonomi, tapi juga bidang lainnya. Sebab wisatawan tak hanya membawa uang, tapi juga informasi dan pengetahuan, yang secara tidak langsung akan mendorong Haranggaol dan Simalungun menjadi kota maju.

Karena itulah, Bupati Simalungun JR Saragih, mengambil keputusan bahwa Haranggaol akan dikembalikan kepada fungsi awalnya: kota wisata. Alasannya jelas, dengan kota wisata, Haranggaol akan jadi kota bergairah, yang dengan sendirinya akan memajukan ekonomi warga. Warga tak lagi hanya hidup dari keramba ikan, yang berisiko merusak lingkungan dan keindahan Toba, tapi juga dari sektor lain, terutama dalam ekonomi kreatif.

Sekaranglah saatnya. Banyak momentum yang dapat dimanfaatkan. Momentum-momentum itu seperti memaksa Haranggaol untuk segera mengembalikan haknya sebagai kota wisata.

Salah satu momentum itu adalah bertemunya visi Bupati JR Saragih dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menjadikan Danau Toba sebagai Monaco-nya Asia. Saat ini Presiden Jokowi sudah menetapkan Danau Toba sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN)

Juga sudah dibentuk Badan Otoritas Pengelola Kawasan Pariwisata Danau Toba sebagai single management. Karena itu, infrastruktur jalan yang selama ini jadi kewenangan pusat, provinsi, maupun kabupaten, akan dibangun secara bersama-sama dan terintegrasi.

JR Saragih optimis proyeksi besar itu segera terwujud. Tak hanya itu, JR Saragih juga optimis, Haranggaol akan kembali menjadi jantungnya Danau Toba, yang dengan kata lain, menjadi denyut nadi Monaco of Asia.

Syaratnya, semua pihak harus bersatu. Baik pemerintah, swasta, maupun semua elemen masyarakat. Dan penertiban Keramba Jaring Apung (KJA) adalah langkah awal, untuk sebuah era baru: Kejayaan Haranggaol dan kemajuan Simalungun. Horas.

 

Sumber: https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=2026188204273576&id=2017892165103180

KOMENTAR