Minta Publik Tak Berpikir Negatif ke MUI, Ma’ruf Amien Khawatir Soal Fatwa Bodong?

0

TERASBINTANG.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) tiba-tiba menfatwakan basuki Tjahaja Purnama alias Ahok telah menodai Islam dalam konteks pidatonya di Kepualaun Seribu. Padahal MUI belum pernah sekali pun bertabayyun langsung dengan Ahok mengenai ucapanya itu. Setalah itu, lalu muncul gerakan nasional untuk mengawal fatwa ini ke Kepolisian.

Kegaduhan politiknya muncul. Puncaknya, 4 November lalu. ratusan ribu massa mendesak Ahok segera ditangkap. Istana seperti digoyang massa berjubah itu. Tak berhenti di situ saja. Hari ini, Ketua MUI Ma’ruf Amien bersama sejumlah petinggi Gerakan Nasional Pengawal fatwa MUI bertemu untuk membahas aksi lanjutan yang akan digelar pada 2 Desember mendatang.

Apa yang dilakukan Ma’ruf Amien dalam menyikapi kasus Ahok memang agak sedikit berlebihan. Bahkan ada yang curiga, fatwa MUI atas Ahok dicurigai tak lepas dari kepentingan politik. Mengingat, persinggungan Ma’ruf selama ini di kancah politik memang cukup bagus.

Setelah kecurigaan ini mengalir begitu deras, Ma’ruf pun tak tinggal diam, ia mencoba memberikan pengertian bahwa fatwa MUI sama sekali tidak ada kaitan apapun dengan politik. Fatwa yang dikeluarkannya itu adalah murni untuk dipasrahkan pada penegakan hukum.

“Karena itu kami minta kepada saudara-saudara kami dari agama yang lain supaya masalah ini disikapi secara proporsional, jangan sampai dihubung-hubungkan yang bisa menimbulkan konflik, atau disikapi persilisihan antar agama,” kata Ketua MUI Ma’ruf Amin di Gedung MUI Jl Proklamasi Nomor 51 Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (18/11/2016).

Ma’ruf boleh membantah. Tapi bila dilihat dari perjalanan politik Ma’ruf selama ini, cukup terang-benderang ke mana arah politik tokoh senior ini. Mari kita simak ulasan Alifurrahman (seword):

Maruf Amin pada 2012 lalu menyatakan dukungannya kepada Foke. Alasannya karena pemimpin harus memberikan kemaslahatan (muslim), harus memiliki keunggulan (pendidikan Foke S3), dan telah berpengalaman (pernah memimpin Jakarta).

Padahal saat itu Jokowi juga beragama Islam, muslim taat. Keunggulannya berhasil menang 91 persen di Pilkada Solo, sangat dipercayai warga dan terasa perubahannya. Pengalamannya mengelola kota jauh lebih berhasil dibanding Foke di Jakarta yang acak-acakan, semraut.

Lalu kenapa Maruf Amin mendukung Foke? Sebab beliau adalah anggota Dewan Pertimbangan Presiden (SBY) bidang Hubungan Antar-agama. Sementara Foke diusung oleh partai pemenang pemilu, Demokrat. Mustahil rasanya kalau Maruf Amin mau mendukung Jokowi Ahok yang diusung oleh partai oposisi PDIP.

Kemudian menjelang Pilgub DKI 2017 nanti Maruf Amin mendukung Agus Sylviana. Lagi-lagi karena keduanya diusung oleh partai Demokrat.

Bukti lain bahwa Maruf Amin antek SBY adalah terkait kasus investasi bodong yang diberi label syariah oleh MUI.

Seperti dikutip dari seword.com, setelah Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya menahan dan menetapkan Direktur Golden Trader Indonesia Syariah Aziddin sebagai tersangka, nasabah GTIS kini mendesak kepolisian untuk menetapkan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Maruf Amin dan Ketua MUI KH Amidhan Shaberah sebagai tersangka.

Kuasa hukum nasabah GTIS Sugito Atmo Pawiro dalam surat resminya kepada Kabareskrim Mabes Polri yang salinannya diterima KONTAN menyebutkan, berdasarkan bukti-bukti yang ada, Aziddin hanya sebagai pelaksana operasional harian GTIS.

Di belakangnya ada Maruf Amin dan Amidhan sebagai penentu kebijakan. Karenanya, nasabah GTIS meminta dua petinggi MUI itu juga ikut bertanggungjawab dan ditetapkan status hukumnya sebagai tersangka.

Namun kasus tersebut hilang begitu saja. Alifurrahman, sang pengampu seword.com menilai seperti kotoran dibawa arus sungai Cikeas. Simsalabim langsung aman. Soal hilang menghilangkan, SBY memang cukup lihai. Lihat saja dokumen TPF pembunuhan Munir juga hilang.

Saat kasus GTIS ini Maruf Amin masih menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden SBY bidang Hubungan Antar-agama.

Lalu yang terbaru, kemarin Maruf Amin melalui MUI menyatakan Ahok bersalah dan melecehkan Alquran. Beberapa hari setelah Agus dengan jelas mengatakan bahwa Ahok harus diproses. Fatwa MUI keluar beberapa hari setelah Agus Sylviana mendatangi Maruf Amin. Selengkapnya: http://seword.com/politik/mui-dibayar-berapa-sama-agus-yudhono-agar-salahkan-ahok/

Dari semua kenyataan dan fakta sejarah ini, masihkah kita percaya MUI?

KOMENTAR