Penyokong Gerakan Anti Densus 88 Dinilai Konyol dan Kekanak-kanakan

0

TERASBINTANG.com – Akhir-akhir ini, aksi tuntutan pembubaran Densus 88 marak digelar di berbagai kota, mulai dari Aceh, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, Sumatera Utara, Surakarta, Solo, Semarang, Makasar, dan kota besar lainnya. Mereka menuntut agar pemerintah membubarkan Densus 88.

Tuntutan pembubaran ini muncul pasca penangkapan Densus 88 terhadap terduga teroris bernama Siyono, pria asal Klaten Jawa Tengah, yang berujung maut. Sejak saat itulah, berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, ormas Islam, hingga masyarakat sipil menuntut pembubaran Densus.

Menanggapi hal tersebut, pengamat politik Madjid Politika, Firmansyah, menilai, gerakan pembubaran Densus sangat tidak mencerminkan kedewasaan berpikir. “Ini gerakan yang cenderung kekanak-kanakan menurut saya. Yang mereka lihat kan selama ini cuma oknum teroris yang meninggal di tangan Densus. Pernah gak mereka tahu berapa teroris yang sadar dan tobat setelah ditangkap Densus?,” kata pria sapaan akrab Firman ini melalui sambungan telepon kepada terasbintang.com, Rabu (23/3).

Pasalnya, berdasarkan data Kepolisian, sejak Densus dibentuk, hanya sekitar 5 persen yang tertangkap dan meninggal di tangan Densus, selebihnya (95 persen lainnya) sadar dan kembali kepada masyarakat. Terlebih, kata Firman, terduga teroris yang meninggal karena melakukan perlawanan terhadap petugas. “Kan gak mungkin juga Densus main bunuh orang, kecuali mereka melawan,” katanya.

Hal lain yang tak kalah penting terkait tuntutan pembubaran ini, kata Firman, adalah potensi gerakan radikal yang justru akan semakin mengancam nyawa orang banyak.

“Kalo densus dibubarkan, ya kelompok-kelompok radikal ini nanti tambah bebas. Sekarang saja ditekan masih bebas,” kata kata Firman.

Menurutnya, Densus telah memiliki data lengkap tentang jaringan terorisme di Indonesia yang tidak dimiliki oleh lembaga lain. Apalagi Densus sudah bekerja sejak tahun 2000. “Jadi ya hanya Densus yang paling tahu tentang karakter jaringtan terorisme,” katanya.

Siyono Melawan Densus

Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Agus Rianto membenarkan terduga teroris Siyono yang dibekuk Densus 88 Antiteror di Klaten meninggal dunia.

Sebelum meninggal dunia, Siyono sempat melakukan perlawanan ketika mencoba melarikan diri setelah berhasil ditangkap.

“Yang bersangkutan (Siyono) ditangkap 8 Maret yang merupakan hasil pengambangan dari tersangka sebelumnya T alias AW. Kemudian, 9 Maret atas keterangan dari Siyono, senjata api yang dia miliki telah diserahkan kepada orang lain,” kata Agus Sabtu (13/2/2016).

Berbekal dari pengakuan tersangka, Polda DIY akhirnya membawa Siyono ke lokasi tempat senjata api yang dia titipkan.

“Namun setelah tiba di lokasi ternyata Siyono tidak dapat menunjukkan rumah yang dia maksud termasuk orang yang sudah dia sebutkan (orang yang menyimpan sejata api). Setelah dua jam melakukan pencarian akhirnya anggota kita membawa tersangka kembali,” sambung Agus.

Namun diperjalanan, tersangka melakukan perlawanan terhadap anggota Polda DIY. Bahkan dia juga menyerang anggota yang mengawal tersebut.

“Akhirnya terjadi perkelahian di dalam mobil. Setelah situasi dapat dikendalikan tersangka kelelahan dan lemas. Selanjutnya anggota membawa tersangka ke RS Bhayangkara Yogyakarta untuk dilakukan pemeriksaan,” katanya.

Namun akhirnya nyawa Siyono tidak dapat ditolong dan meninggal di RS Bhayangkara Yogyakarta. Jenazah Siyono akan dibawa ke RS Polri Kramat Jati Jakarta, Sabtu 12 Maret 2016.

“Sekira pukul 15.30 WIB tadi jenazah sudah diserahkan kepada pihak keluarga. Kita menyatakan prihatin atas kejadian ini,” pungkas Agus.

Sebelumnya keluarga terduga teroris Siyono ini kaget setelah Densus 88 Mabes Polri mendatangi kediamannya. Bahkan sang istri, Suratmi (39) sempat histeris ketika mengetahui suaminya meninggal setelah diperiksa Polda DIY. (fk)

 

KOMENTAR