Petaka Transkrip “Palsu” Buni Yani

0

TERASBINTANG.com – Demo bela Islam II yang berlangsung besar-besaran pada 4 November lalu, ternyata tidak mampu mematikan mata batin rakyat Indonesia tentang siapa sebenarnya yang pantas dipenjara dalam kasus dugaan penistaan agama Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Pasalnya, setelah gelaran demo, mata publik justru tertuju pada sosok Buni Yani, sang pengunggah video pidato Ahok yang memberikan transkrip yang tidak jujur dan utuh melalui sosial media Facebook miliknya.

Ahok yang mengutip Surat Al Maidah 51 secara wajar dan biasa saja,  dipelintir sedemikian rupa seolah-olah sedang menghina agama mereka. Politik pun gaduh, isu SARA tergoncang, provokasi muncul di mana-mana, tokoh masyarakat, kiai, ulama, pesantren ramai-ramai bersuara. Api kemarahan itu memuncak ketika elit politik ikut menungganginya. Puncaknya, 4 November ratusan ribu massa meledakkan demonstrasi akbar yang mengkhawatirkan.

Namun demikian, arus logika publik rupanya tak mundur selangkah pun meski hantaman massa berjubah dan gertakan opini sesat-menyesatkan berseliweran di mana-mana. Buktinya, sehari setelah demo akbar itu, muncul sebuah petisi “Tangkap dan Penjarakan Buni Yani!”. Ratusan ribu orang sudah menandatangani petisi ini. Tanda bahwa nurani tak bisa dengan mudah terpengaruh oleh teror kekuatan massa.

Melihat kondisi berbalik menyerang dirinya, Buni Yani pun tak tinggal diam. Bersama sejumlah pengacara ia melakukan perlawanan. Ia menyebut petisi tersebut adalah gerakan pengalihan isu dari Ahok ke Buni. Buni membuat skenario opini seolah-olah ada kekuatan besar di balik gerakan tersebut untuk mengorbankan dirinya. Buni lupa bahwa kebenaran memang akan selalu mendapatkan tempat, betapapun besarnya upaya membengkokkannya.

“Kami akan lawan gerakan ini,” ujar Aldwin Rahadian, Kuasa Hukum Buni Yani, di Jakarta (7/11).

Buni Yani pada dasarnya bukanlah orang bodoh yang bisa seceroboh itu melakukan kesalahan. Ia adalah alumni Ohio State University Amerika Serikat dan pernah menjadi wartawan di salah satu media bergengsi di Amerika serta bekas wartawan Tempo. Dilihat dari latar belakangnya, rasa-rasanya tidak mungkin dosen di salah satu kampus swasta ini bisa melakukan kesalahan fatal semacam itu tanpa sengaja. Sebagai seorang bekas wartawan, Buni sudah barang tentu tahu dampak dan mala petaka yang akan ditimbulkan akibat pengurangan kata itu.

Hari ini, ketika nurani kita kian terbuka lebar, Buni dkk mencoba membangun opini bahwa dia sedang dizdalimi dan dikorbankan negara, membuat petisi untuk mencari dukungan publik sana-sini. Sebuah permainan klasik yang gampang terbaca.

Direktur Madjid Politika, Firmansyah, menilai, apa yang dilakukan Buni justru menunjukkan kepanikan yang luar biasa. Seharusnya, kata Firman, Buni Yani siap dengan segala konsekuensinya menyebarkan transkrip yang tidak utuh ke publik.

“Apapun alasan perlawanan ini, Buni mau tidak mau harus siap. Karena itulah memang konsekuensinya. Kalau mau main aman ya gak usah bikin ini itu. Simple. Nanti kalau sudah diusut, barulah main tuding ada kekuatan besarlah yang bermain, macem-macem. Sudahlah, hadapi saja,” katanya.

“Dibohongi pakai Surat Al Maidah 51,” kata Ahok, oleh Buni Yani diubah menjadi “Dibohongi Surat Al Maidah 51”. Kata “Pakai” dihilangkan. Akibatnya, makna dan tafsirnya pun menjadi sangat berbeda. Apalagi, ia membubuhi komentar pribadi, yang menurut sebagian orang, sangat provokatif dan diduga menjadi pemicu kemarahan massa Islam.

Tentang kesalahan ini, Buni sudah mengakuinya. Menurutnya, hal tersebut terjadi karena ia melihat dan mendengarkan video tanpa menggunakan earphone. Artinya, dia sadar salah dan sudah membuat pernyataan publik mengenai kesalahannya itu.

“Mungkin karena saya tidak menggunakan earphone. Jadi mungkin itu enggak ketranskrip. Tapi tadi saya lihat ada kata ‘pakai’, saya mengakui kesalahan saya sekarang. Jadi transkrip saya mengatakan dibohongi pakai surat Al Maidah. Jadi begitu, kata ‘pakai’ itulah yang tidak ada di transkrip saya. Jadi saya mengakui kesalahan saya karena kalau itu memang tidak ada kata pakai,” ujar Buni Yani dalam perbincangan di program Indonesia Lawyers Club di tvOne, Selasa, 11 Oktober 2016 lalu.

Namun, meski Buni Yani sudah mengaku memberikan transkrip yang tidak utuh, massa Islam yang didalangi Front Pembela Islam (FPI) sudah terlanjur menggalang kekuatan umat islam untuk menggeruduk Istana Presiden. Dampak pemelintiran kata ala Buni itu sudah terlalu luas dan jauh. Tak heran, bila ledakan demo terjadi pada 4 november lalu di depan istana.

Tapi ingat, hukum tetaplah hukum. Hukum tak boleh lapuk meski dihantan gelombang massa. Yang salah harus ditangkap apapun resikonya. Jika akhirnya Ahok dinyatakan tidak bersalah, bahkan Buni Yani yang justru berpotensi menjadi tersangka, Polri harus tetap konsisten mengikuti sistem hukum yang sudah berlaku, sebagaimana dinyatakan Kapolri.

“Kami tentu mendukung Polri mengusut segala kemungkinan aktor lain menjadi tersangka. Karena pidato Ahok sendiri tidak ada yang tendensius, apalagi melecehkan agama. Itu gak ada,” katanya. (za)

KOMENTAR