Pilgub DKI: Petahana Rasa Penantang

0

Oleh Rio Kardus

Strategi
Pada hakikatnya dalam Pilkada DKI 2017 nanti, tak ada calon yang incumbent. Semuanya adalah penantang. Kita lupa bahwa yang memenangkan pilgub 2012 itu adalah story Jokowi, bukan Ahok, dengan engagementmasyarakat Jawa yang mayoritas di DKI ini ditambah dengan marketing politik jitu sesuai dengan DNA PDI, partai pengusungnya, yaitu merakyat.

Positioning Jokowi termasuk pas saat itu karena merupakan antitesa dari Fauzi Bowo yang elitis dalam melancarkan jalan Jokowi menuju DKI 1. Drama dua putaran seperti mengandung campur tangan Tuhan lewat Undang-undang untuk memberikan amplifier kemenangan Jokowi agar bisa didengar dan dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia karena ada rencana besar Tuhan berikutnya untuk Jokowi: Presiden Indonesia ke-7.

Mari kita kembali ke DKI. Saat ini, sebagai penantang di Pilgub DKI, hanya Ahok yang melakukan rumusan wajib seorang penantang: massive dan totalitas (terintegrasi), terlepas dari kebisaan dia dalam memanfaatkan keuntungan atas jabatannya sebagai pengganti Jokowi di DKI. Dengan semua fenomena yang dimainkannya, Ahok ingin menyampaikan kepada publik bahwa dia bersih dan ‘tegas’ (positioning) dalam membangun Jakarta. Dengan bersih dan tegas, Ahok ingin membangun jembatan komunikasi baru lewat manfaat dari hasil kerjanya kepada masyarakat (reason to believe). Waktu Jokowi dulu, dia menjual harapan keberpihakan pada rakyat kecil. Sekarang, lewat kampanye “Jakarta Baru jilid 2” ini, Ahok ingin mengekstensi pesona Jokowi bahwa Ahok hari ini tak terlepas dari Jokowi (cobranding) di masa lalu.

“Sekarang, lewat kampanye “Jakarta Baru jilid 2” ini, Ahok ingin mengekstensi pesona Jokowi bahwa Ahok hari ini tak terlepas dari Jokowi (cobranding) di masa lalu.”

Narasi ini dikawal massive oleh media dan Teman Ahok lewat pengumpulan KTP (cocreation) dan digital army(advocate) yang orkestrasinya sangat solid, ditambah dengan bumbu marah-marah untuk menimbulkan drama. Maka, ini akan menjadi laboratorium politik bagi Ahok dan kita semua mengenai apakah Ahok akan bisa mengkompromikan isu ras dengan prestasi kerja. Dia mengkonversikan semua program yang logis itu menjadi emosional dalam masyarakat Jakarta yang logis lewat drama bunyi-bunyian. Ahok vs DPRD. Ahok vs Kalijodo.

Sementara itu, para penantang lain hari ini baru berteriak-teriak di pinggiran. Kelihatannya, Ahok sadar betul teori Sun Tzu: ‘Jika musuh kita masih kecil, matikan.’ Sementara, para penantang lain ini datang dengan tangan kosong dan kemampuan pribadi. Mereka tak hadir dengan grand design peperangan besar, belum menyusun narasi dengan solid. Bekal dan motivasi besar mereka hanyalah karena mereka Islam maka Jakarta harus dipimpin oleh Islam. Tak ada yang salah dengan itu. Sebagai orang Islam, saya pun meyakini hal itu. Tapi, dalam konteks pertempuran, bekal semacam itu hanya membuat kita seolah-olah hanya tepat memanah angin. Tak punya target.

Karenanya, sangat penting bagi para calon gubernur untuk membuat strategi. Menyusun narasi. Mengatur ritme. Menentukan positioning. Menyiapkan amunisi. Menghitung tentara. Memilih medan pertempuran. Para calon gubernur perlu menghitung dengan cermat karena jabatan DKI-1 adalah RI-3. DKI Jakarta adalah tempat semua suku ada dan tempat semua level sosial hampir berimbang jumlahnya. DKI Jakarta adalah epicentrumdari Indonesia.

Acara / Event

Para penantang yang ada hari ini, selain Ahok, hanya bermodalkan ambisi yang tumbuh subur disiram oleh pertemuan-pertemuan kecil (event) di kelompok-kelompok pengajian dan ceramah-ceramah yang pada setiap pertemuannya berjumlah 100 sampai 500 orang. Tepuk tangan dan gelak tawa kelompok itu menjadi pupuk yang semakin menumbuhkan ambisi mereka melalui peningkatan kepercayaan diri. Padahal, apabila melihat betapa luas medan pertempuran, mereka hanyalah ‘menyerang’ (bertemu) sebagian kecil dari sembilan juta warga Jakarta.

Barangkali menurut perasaan mereka, mereka sudah bertemu hampir semua warga Jakarta dan mengantongi dukungan yang sangat banyak. Event atau acara yang tidak direncanakan sebagai bagian dari strategi besar adalah narkotika yang membius. Membuat fly. Seperti kerja narkotika, dia merusak pikiran sehat. Penantang ini menjadi semakin percaya diri dan tak mau mendengarkan saran orang lain yang memberikan masukan dari perspektif lain. Mereka makin addict dari satu pertemuan ke pertemuan lain. Mereka lupa bahwa event itu adalah cara untuk mencapai tujuan. Event itu bukan tujuan.

 

Media Sosial

Jakarta is the most connected city dengan jutaan warga twitland dan facebook yang menghuninya. Mustinya, ini menjadi opportunity bagi para penantang. Kampanye yang bersifat low budget-high impact itu bisa berlaku netizen di Jakarta. Namun, sebagai media yang bersifat horizontal, maka content adalah rajanya. Lagi-lagi, ini adalah turunan dari narasi besar. Tanpa narasi besar, kita bisa membuat letupan-letupan kecil sebagaicoversation di hadapan netizen (brand awareness). Tetapi, bagi netizen itu yang paling penting adalah (brand)associate. Norman Kamaru dibicarakan orang tapi tidak di-associate sebagai pemimpin. Di medan pertempuran ini pun dominasi Ahok sangatlah terasa. Bahkan, kalau kita lihat dominasinya, medan internet di Jakarta sudah dikuasai oleh Ahok. Jadi, jika ada penantang yang ingin masuk di wilayah ini, semangat awalnya atau effort-nya bukanlah hanya panetrasi ingin menguasai, melainkan ingin merebut. Karena itulah, dibutuhkan extra effortuntuk mendapatkannya.

Saya ingin mengingatkan pada kita semua bahwa semua kontestan di DKI adalah penantang. Namun, sebagai penantang, baru Ahok yang melakukan spirit seorang penantang dalam bertempur: terencana, massive, dan terstruktur. Saran saya untuk yang lain, jika Anda benar-benar ingin memujudkan mimpi untuk memenangkan pertempuran di DKI ini, mumpung waktu masih mencukupi, susunlah rencana sedetil mungkin. Bangun narasi yang cocok untuk Anda, atur tentara, siapkan amunisi, namun lakukanlah semuanya dengan jujur, sesuai dengan DNA Anda karena di era ini, Anda bisa menyusun dan merencanakan hal-hal canggih dan dahsyat tapi tak bisa membohongi publik. Itulah yang disebut sebagai wisdom marketing.

KOMENTAR