Polisi Telah Incar Beberapa Terduga Teroris di Kaltim

0
loading...

TERASBINTANG.com – Tak hanya di Jawa dan Sumatera, paham radikalisme dan terorisme juga merambah sampai wilayah Kalimantan Timur.

Polisi telah mengantongi sejumlah nama yang diduga kuat terindikasi menganut radikalisme dan terorisme. Sejumlah nama itu tengah dalam pengawasan dan penyelidikan kepolisian.

“Saat ini daerah di Kalimantan Timur juga tengah masuk dalam keadaan waspada terorisme. Pasalnya kejadian ini telah terjadi di wilayah Samarinda beberapa waktu lalu dengan aksi pengeboman di Gereja Oikumene pada 13 November 2016,” ungkap Kapolda Kaltim, Irjen Pol Safaruddin, Kamis (29/12/2016).
Ia mengungkapkan, pihaknya telah mengantongi sejumlah nama yang dianggap memiliki paham radikalisme dan terorisme.

“Ada daftar nama-nama yang kita perhatikan, artinya menjadi pengawasan kita. Khususnya di Balikpapan, Samarinda dan Tarakan. Tetapi di luar itu juga ada,” tegasnya.

Tak hanya itu, Safaruddin meminta kepada seluruh jajaran Kapolres Kaltim untuk melakukan pemetaan terhadap potensi-potensi kegiatan teroris.

“Itu memang ada, dari dulu saya sampaikan seperti itu hasil pemetaan kerjasama dengan Densus 88 kemudian pengembangan-pengembangan kita di wilayah. Artinya kelompok-kelompok radikal di Indonesia ini masih ada, termasuk di Kalimantan Timur dan Utara,” lanjutnya.

Melihat dari evaluasi pelaku pengeboman di Gereja Oikumene, Samarinda beberapa waktu lalu sejatinya pihaknya telah memantau dan melakukan penyelidikan terhadap si pelaku bernama Johanda. Namun polisi belum bisa melakukan penangkapan lantaran undang-undang terorisme belum memberikan wewenang penangkapan dikarenakan tidak punya bukti yang cukup kuat.

“Kita tidak bisa melakukan penangkapan karena tidak ada barang bukti yang melanggar hukum yang ada pada Johanda itu. Kalau hanya mengajak orang untuk melakukan teror dan merekrut orang itu belum bisa kita tangkap. Kecuali pada dia ada senjata api, ya senjata apinya yang kita proses. Tetapi bahan yang mereka gunakan itu kan belerang, itu bisa dibeli dimana saja dicampur dengan gula pasir, sangat sederhana sehingga itu belum bisa kita tangkap,” jelasnya.

Hingga saat ini, pihaknya masih menunggu revisi undang-undang terorisme agar memiliki wewenang penangkapan juga memang terdapat indikasi terorime. Pasalnya ia menilai banyak sekali ajaran paham radikalisme yang telah diajarkan disejumlah masjid-masjid di wilayah Kaltim.

“Nah, Undang-undang teroris yang saat ini sedang direvisi itu memberikan wewenang untuk menangkap apabila ada orang yang mengajak untuk melakukan teror. Tetapi saat ini undang-undang belum boleh, nanti kalau sudah terjadi baru tindak pidana. Harusnya ada langkah pencegahann,” tandasnya.

loading...