Dari Ribuan Kasus di Solo, Aksi FPI Merupakan Paling Menonjol

0
loading...

TERASBINTANG.com – Dalam jumpa pers akhir tahun, Kapolda Jawa Tengah, Irjen Condro Kirono mengungkapkan ada lima kasus menonjol selama 2016 yang terjadi di Jawa Tengah selain kejahatan kovensional.

Salah satunya, kasus perusakan dan penganiayaan di restoran Social Kitchen Solo. Peristiwa itu masuk dalam kategori kasus sweeping oleh ormas.

“Pertama ada terorisme, kemudian konflik intoleransi, sweeping oleh ormas, eksploitasi anak, dan laka lantas menonjol,” kata Condro, Kamis (29/12/2016).

Kasus terorisme yang dimaksud yaitu bom bunuh diri di Mapolresta Surakarta 5 Juli 2016 yang menyebabkan anggota polisi terluka.

Selain itu juga, ada penangkapan sejumlah orang oleh Densus 88 Antiteror Polri terkait aksi teror Bekasi dan juga penangkapan orang-orang yang terlibat teror di Jalan Adi Sumarmo Surakarta.

Sejumlah konflik intoleransi juga terjadi di Jawa Tengah. Tercatat ada tujuh kasus termasuk penolakan oleh FPI terkait rencana Sinta Nuriyah untuk berbuka puasa di halaman gereja di Semarang pada bulan Juni 2016.

“Untuk pelaku sweeping di Solo, di Social Kitchen sudah ditangkap dan ditahan 11 orang. Itu pelaku lapangan ada 6 yang 5 penggeraknya,” jelas Condro.

Aksi rencana sweeping oleh FPI di Sragen bisa diantisipasi pada Rabu (21/12/2016). Anggota FPI yang baru saja melakukan audiensi dengan Forkompinda dan perwakilan pemilik toko terkait peringatan Natal dan Tahun Baru justru menuju Toserba Mitra.

Aksi itu dapat diantisipasi oleh petugas kepolisian dan dilakukan pencegahan sebelum anggota FPI masuk ke toko.

Sementara itu, terkait kasus menonjol eksploitasi anak, terjadi di Kabupaten Pemalang dan Batang yang memperkerjakan anak di bawah umur sebagai pemandu lagu. Kemudian perbuatan asusila sejumlah pria kepada anak di bawah umur yang terjadi di Kabupaten Semarang, Klaten, dan Kota Semarang.

Pada catatan akhir tahun 2016 Polda Jateng, disebutkan ada 12.574 tindak pidana dengan penyelesaian 8.624 kasus.

loading...