Sekber Aktivis Diminta Hormati Proses Hukum, Jangan Bikin Pengadilan Opini!

0

TERASBITANG.com – Sejumlah aktivis lintas generasi menggelar malam Keprihatinan Bangsa”. Mereka berkumpul di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, Jumat (11/11) malam.

Acara yang digelar Sekber Aktivis itu diadakan dalam rangka mendorong penegakan hukum menyelematkan demokrasi dan melawan tirani.

Presidium Sekber Aktivis, Ari Wibowo menuturkan, acara malam ini digelar karena keprihatinan terhadap penegakkan hukum.

Dikatakannya, saat ini supremasi hukum yang menjadi panglima dianggap sudah sekarat. “Hukum saat ini sudah tumpul ke atas dan tajam ke bawah. Kasus terakhir penistaan agama yang mengindikasikan adanya kemunduran supremasi ‎hukum,” kata Ari.

Sasaran dari gerakan tersebut adalah penanganan kasus Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama dalam kasus penistaan agama di Kepolisian.

Pengamat politik Indonesia Democracy Network Amir Wata menilai, gerakan ini dimotori oleh orang-orang yang berpikir serba “pokonknya”. Pokoknya tangkap, pokonya menista, dst. Pikiran semacam ini sedang marak-maraknya saat ini terutama sejak kemunculan kasus Ahok yang dianggap menodai agama.

“Mereka gak mau alasan apapun. Pikiran mereka melampaui hukum dan tak mau menghormatinya, ” katanya.

Menurut Amir, aktivis ini terdiri dari aktivis terdidik dan tentu sudah dewasa dalam berpolitik. Ia menghimbau supaya memberikan pendidikan politik dan hukum yang baik bagi orang lain. “Kalau yang terdidik saja punya pikiran seperti itu, ya rusaklah negeri ini.”

Pasalnya, hingga gerakan tersebut digulirkan, proses hukum kasus penistaan agama Ahok tengah disidik di Kepolisian dan hasilnya akan diumumkan secara terbuka, bahkan proses gelar perkaranya pun bakal terbuka dan transparan.

“Jangan menakut-nakuti, main ancam-mengancam. Ancam turunkan massa. Meneror penegakan hukum. Sabar dikit lah. Mari kita hormati proses ini. Kalau mereka tak ingin Presiden intervensi hukum, mereka juga jangan intervensi,” katanya.

 

KOMENTAR

loading...