Strategi Polri Lindungi NKRI dari Perpecahan

0
loading...

TERASBINTANG.com – Korsahli Kapolri Irjen Iza Fadri membacakan makalah milik Kapolri Jenderal Tito Karnavian dalam seminar wisuda periode II wilayah I Universitas Terbuka, di Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Senin (8/5/2017).

Dalam makalah yang bertema “Tantangan Kebhinekaan dalam Era Demokrasi dan Globalisasi”, Iza mengungkapkan adanya potensi Indonesia terpecah belah jika berbagai faktor penyebabnya tidak segera ditangani.

“Kondisi keberagaman di Indonesia itu ada tiga ribu bahasa dan ratusan etnis dengan beragam adat dan budaya. Dari satu etnis ada suku-suku lagi. Dengan kekayaan keberagaman, ini dapat memicu konflik dan perbedaan kepentingan,” kata Iza.

Perbedaan agama dan kepercayaan juga dinilai menjadi hal yang tidak mudah diolah. Variabel yang berpotensi untuk membuat pecah ini bertambah rumit dengan faktor keberagaman dari kondisi sosial politik dan ketimpangan dari keadaan ekonomi.

“Maka dengan keberagaman tadi apakah NKRI punya potensi pecah? Jawabnya kita punya potensi untuk pecah. Kita lihat ada negara yang awalnya satu lalu pecah seperti Uni Soviet, Yugoslavia, Belgia pernah akan pecah karena ada perbedaan bahasa, lalu di Inggris ada Brexit sehingga memicu Skotlandia untuk memisahkan diri,” lanjutnya.

Lantas, bagaimana untuk menetralisir potensi perpecahan tersebut?

“Supaya solid kita harus mengecilkan perbedaan kepentingan dan memperbesar common interest. Juga menekan gini rasio atau perbedaan antara si kaya dan si miskin. Indonesia mempunyai gini rasio 0,394, padahal yang paling baik itu 0 yang jelek itu 1,” urainya.

Untuk itu saat ini pemerintah berupaya memperkecil gini ratio untuk menghindari konflik dan perpecahan. Juga memperbesar kelompok menengah dan menekan kelompok miskin.

Faktor eksternal yang mempengaruhi kebhinekaan kita seperti perang paham barat vs timur dan paham dunia adalah anarki merupakan salah satu faktor potensi pecahnya NKRI. Siapa kuat dia menang. Contohnya adalah Israel di Timur Tengah yang tak tersentuh oleh dunia internasional meski berperilaku seenaknya karena mendapat dukungan dari Amerika Serikat.

Belum lagi faktor globalisasi, menguatnya peran legislatif, menguatnya peran media, juga menguatnya civil society dan lembaga internasional, serta meningkatnya tuntutan kebebasan individu dan supremasi hukum.

“India itu demokrasi dulu dan China sejahtera dulu. Kita sudah memilih demokrasi dulu. Selain cara di atas, untuk mencegah negeri ini pecah, maka jaga ekonomi di atas 5 persen meningatkan pendapatan perkapita jadi 29 ribu dollar, juga menciptakan investasi dalam negeri oleh pengusaha pribumi dan keturunan,” sambungnya.

Selain itu, demokrasi Pancasila juga harus diperkuat, mencegah konflik sosial, memperbanyak investasi asing, menjaga stabilitas politik dan keamanan, mencegah terorisme dan radikalisme, serta mencegah penggulingan pemerintahan yang sah.

loading...