Sumbangsih TKI Jauh Lebih Berharga Ketimbang Berbusa-busa Depan Kamera Seperti Fahri Hamzah

0
loading...

TERASBINTANG.com – Cuitan pimpinan DPR RI Fahri Hamzah yang menyebut TKI yang bekerja di luar negeri sebagai babu yang mengemis di negeri orang sungguh melukai hati para pahlawan devisa. Bila dibandingkan dengan perjuangan mereka, tentulah apa yang dilakukan Fahri bertahun-tahun selama bergelut di dunia politik hingga menjabat sebagai pimpinan DPR RI, tak dapat dibandingkan dengan sumbangsih mereka ke negara.

Kenapa? jelas, karena sumbangsih para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) bagi perekonomian nasional tidak bisa dianggap remeh. Data di Kementrian Ketenagakerjaan yang diterima dari Bank Indonesia menyebutkan, total uang kiriman TKI pada 2015 mencapai Rp 119 triliun. Ada pun pada tahun 2016 hingga Oktober mencapai US$ 7.477.856.214 atau setara Rp 97,5 triliun.

Angka tersebut tentulah jauh lebih berharga ketimbang hanya berbusa-busa didepan kamera, kritik sana-sini, bahkan main ancam penggulingan pemerintahan yang sah melalui perlemen jalanan, seperti yang dilakukan Fahri Hamzah selama ini.

Bila pendapatan negara dari TKI sepanjang tahun 2016, sama dengan tahun sebelumnya, maka itu berarti melebihi capaian program Amnesti Pajak yang sedang digalakkan pemerintah. Berdasarkan data Direktorat Pajak Kementrian Keuangan, jumlah remitansi TKI melebihi nilai realisasi penerimaan berdasarkan surat setoran pajak program pengampunan pajak per 25 Januari 2017 yang sebesar Rp 110 triliun.

Atau, tidak selisih jauh dengan dana repratiasi yang dijanjikan para konglomerat Indonesia yang akan memasukkan dananya ke dalam negeri lewat program amnesti pajak yang mencapai Rp 140 triliun. Bedanya, remitansi dari TKI sudah jelas masuk, sedangkan repatriasi masih sebatas komitmen.

Jika dibandingkan dengan target laba bersih 118 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pada tahun 2015 yang mencapai Rp 150 triliun atau target Rp 172 triliun pada 2016, remitansi TKi juga tak bisa dianggap kecil. Mengingat dalam BUMN, negara telah memberikan modal besar. Tidak demikian halnya dengan mayoritas TKI yang pergi ke luar negeri secara mandiri.

Oleh karena itu, Direktur Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Luar Legeri (PPTKLN) Kementrian Ketenagakerjaan, R Soes Hindharno mengimbau, selayaknya masyarakat lebih bisa menghargai peran besar para TKI yang telah bekerja keras di luar negeri. “Kiriman dana para TKI telah membantu menggerakkan roda perekonomian dalam negeri,” tegasnya.

Saat ini, pemerintah terus meningkatkan jumlah TKI yang bekerja di sektor formal. Upah sektor formal lebih tinggi dibanding sektor informal. Tahun 2016 misalnya, hingga November, jumlah TKI sektor formal yang berangkat ke luar negeri mencapai 114.171 orang, sedangkan sektor informal 98.729 orang. Upaya pengiriman TKI sektor formal dengan memberikan pelatihan serta memperketat persyaratan keahlian. Sedangkan untuk mengurangi TKI sektor informal diantaranya dengan moratorium pengiriman pekerja domestik ke kawasan Timur Tengah.

loading...