Tangkap Seorang Guru yang Ancam Menteri Yuddy, Polisi Bertindak Sesuai Prosedur Hukum

0

TERASBINTANG.com – Penangkapan seorang guru honorer asal Brebes Jawa Tengah oleh polisi diprotes oleh Presiden Konfederesi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal. Penilaian itu dinilai KSPI tidak masuk akal dan terlihat sebagai bentuk kriminalisasi.

“Enggak masuk akal hingga Polda menjemput seorang guru honorer dari Jakarta ke Brebes untuk menangkapnya,” kata Iqbal kepada awak media di LBH Jakarta, Rabu (9/3/2016).

Sementara itu, polisi menanggapi santai protes tersebut. Sebab, polisi sebagai aparat penegak hukum dituntun untuk melaksanakan perintah hukum sesuai dengan prosedur yang berlaku. Penangkapan terhadap guru honorer berinisial M (38) itu adalah perintah hukum karena ada laporan dari Sespri Menpan RB Yuddy Chrisnandi, Reza Pahlevi.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Mohammad Iqbal mengatakan, Pahlevi melaporkan M atas tindakannya yang mengirim SMS ancaman pembunuhan terhadap Menteri Yuddy.

Laporan itu tertuang dalam laporan polisi bernomor LP/942/II/2016/PMJ/Dit Reskrimsus, tanggal 28 Februari 2016 lalu. Setelah diselediki, barulah polisi melakukan penangkapan.

“Selama proses penyelidikan, kami tidak pernah mengetahui siapa pengirim ancaman tersebut. Kami baru mengetahui yang bersangkutan adalah guru honorer, setelah yang bersangkutan kami amankan,” jelas Iqbal kepada wartawan, Rabu (9/3/2016).

Menurut Iqbal, dalam laporan itu dijelaskan bahwa M bahkan mengirim SMS ancaman itu dua kali. Tak hanay itu, dalam SMS-nya, selain mengancam membunuh, M juga menuliskan kata-kata kotor.

“Ancamannya sangat serius,” jelas Iqbal.

Saat ini, kata dia, polisi sudah mengantongi barang bukti berupa 1 buah handphone dan 2 buah Sim card yang digunakan untuk mengirim ancaman. M dijerat dengan Pasal 29 dan atau pasal 27 ayat (3) ITE dan atau pasal 335 dan atau pasal 336 dan atau pasal 310/311 KUHP dengan ancaman pidana maksimal 9 tahun. (SUM)

KOMENTAR