Terungkap! Ternyata Gus Dur yang Mengajari Ahok Mengenai Surat Al Maidah 51

0

TERASBINTANG.com – Hubungan Gubernur DKI Jakarta Non-aktif Basuki Tjahaja Purnama dan Presiden RI ketiga KH Abdurrahman Wahid memang sudah lama terjalin dengan baik. Ahok dan Gus Dur ibarat Kiai dan Santri. Hal ini diakui sendiri oleh Ahok dalam banyak kesempatan. Terutama selama perjalanan politik Ahok, banyak sekali pelajaran dan hikmah yang dapat dipetik dari Sang Guru, tak terkecuali mengenai Surat Al Maidah 51.

Surat Al Maidah 51 menjadi trend dan viral belakangan ini. Banyak yang menggunakan ayat ini untuk kepentingan politik Pilkada. Setelah pidato Ahok di Kepulauan Seribu, ayat ini mendadak jadi sorotan umat islam se-antero nusantara, bahkan diakumulasi menjadi kekuatan politik “guling-menggulingkan” yang terjadi pada 4 November lalu, di mana Ormas Islam berkumpul mendesak Presiden Jokowi dan aparat segera menangkap Ahok karena dianggap telah melecehkan Alqur’an.

Namun tahukah anda bahwa yang mengajari Ahok tentang Surat Al Maidah adalah Gus Dur? Gus Dur lah yang menegaskan bahwa di dalam urusan politik dan pemerintahan, ayat ini tidak relevan. Relevansi ayat ini hanya di wilayah peribadatan, bukan di wilayah politik memilih calon pemimpin. Hal ini secara tegas pernah disampaikan Gus Dur saat  berdiri di hadapan ribuan warga Bangka Belitung untuk kampanye Basuki yang waktu itu Calon Gubernur Babel. Berikut isi lengkap pidato Gus Dur saat itu dalam sebuah rekaman video Youtube.

“Tidak akan rela dengan kamu muhammad, sampai kamu ikuti agama mereka. Saya katakan, ayat ini tidak ada urusannya dengan Gubernur, kenapa kalau kritsten dan yahudi tidak rela dengan kita, kita juga tidak rela dengan agamanya siapapun. Benar ndak? Apa ada paus salat di belakangnya orang yahudi? Apa umat Islam mau salat di belakangnya orang kristen, salat di belakangnya orang Cina. Ndak mau. Tapi kalau urusan pemerintahan, tidak apa-apa. Di mana pakenya ayat, jangan sembarangan. Kita tidak perlu takut-taku. kita harus bersama-sama memilih orang yang pandai untuk memerintah. Basuki ahok sudah menujukkan diri untuk menjadi bupati yang baik di Belitung Timur. Di sana semua orang sakit tidak bayar. Bayar 5 ribu untuk semua penyakit,” demikian cuplikan video pidato Gus Dur ditemani Ahok sendiri dan putrinya, Yenny Wahid.

Video ini menyadarkan kita betapa banyak hikmah dan pelajaran penting yang mempengaruhi Ahok dalam perjalanan politiknya hingga saat ini. Itu sebabnya wajar, bila ormas yang sering mencela Gus Dur itulah yang pada 4 November turut hadir mendesak Presiden tangkap Ahok.

Saat kondisi negara sudah sedemikian genting seperti saat ini, tentulah warga Nahdlatul Ulama (NU-Nahdliyyin) sebagai benteng terakhir NKRI keluar dari tempat persembunyiannya. Sudah cukup kita sembunyi tangan melihat kondisi negeri yang sudah kian terancam radikalisme agama seperti Ini. Gus Dur tentu sedih dan menangis melihat umat NU justru ikut-ikutan demo 4 November lalu. (WP)

 

KOMENTAR