Ini Dia Tiga Isu yang Mereka Pakai untuk Bikin Gaduh Negeri Ini

0
loading...

TERASBINTANG.com – Sejak Joko Widodo terpilih  sebagai Presiden RI, berbagai isu dan fenomena politik terus terjadi. Kuat dugaan isu tersubut sengaja diciptakan untuk membuah kegaduhan politik di bumi pertiwi ini, yakni provokasi SARA sistematis, terstruktur, dan masif

Provokasi ini bertujuan untuk hasut konflik horisontal MEMBENTURKAN etnis dan agama di tingkat akar rumput. Tujuannya, agar mereka punya alasan untuk memakzulkan (melengserkan) Presiden yang sah.

Salah satu pegiat sosial media, Ustad Abu Janda al-Boliwudi merangkum tiga isu besar yang sengaja dipakai oleh para begundal politik untuk bikin kekacauan di negeri ini.

1. ISU KOMUNIS PKI

Sejak pasca pilpres, isu kebangkitan “komunis PKI” digendang oleh orang-orang yang pernah berkuasa dengan tujuan untuk hasut sentimen anti pemerintah.

Masih segar ingatan kita tempo hari tiba-tiba viral di media sosial foto ruko berspanduk “kantor sekretariat PKI”, juga foto stiker PKI ditempel di jalanan sebuah kota.

“Rakyat TIDAK BODOH kalau kata pedangdut Caca Handika.. itu sih pasang pasang sendiri.. foto foto sendiri.. heboh heboh sendiri,” tulis pegiat sosial media Ustad Abu Janda Al-Boliwudi.

Isu “komunis PKI” ini dihembuskan oleh pihak yang tidak suka PDI-P berkuasa karena takut keturunan Presiden Soekarno balas dendam atas penggulingan pak Karno lewat isu G30S.

2. ISU ANTEK ASENG

Isu kedua yang digembar gembor dengan tujuan provokasi kebencian terhadap pemerintah adalah aseng.

“Indonesia dikuasai Tiongkok” atau Jokowi membela taipan 9 naga, latah dipercaya secara massal bak sebuah SIRKUS KEDUNGUAN.

Kenapa dungu? karena sejak dulu Indonesia memang sudah dikuasai asing. Sejak era Soeharto sampai SBY, asing menguasai setiap sendi Republik ini.

Blok minyak dikuasi Konglomerasi raksasa Amerika Chevron, Mobil, Exxon, dkk, dengan bagi hasil yang menyedihkan 90% lebih untuk asing. Freeport dibiarkan merampok kandungan emas terbesar di dunia.

Perampok BLBI semuanya menjadi kaya raya pada masa rezim ORBA memanfaatkan budaya KKN kolusi dengan pejabat merampok uang negara.

Taipan 9 naga yang diributkan karena menguasai hajat hidup orang banyak juga bukan kaya mendadak. Mereka kaya berkat KKN pada era Soeharto.

Semua kekacauan di negeri ini bukan terjadi instan, tapi akumulasi kebobrokan rezim-rezim pemerintah yang lalu. Kenapa semua seolah jadi salah satu orang, Jokowi?

“Jawabannya hanya satu: karena cerdas ada batasnya, tapi dungu tak mengenal batas,” katanya.

3. ISU SEKTARIAN

Isu sektarian (agama) juga gencar digendang oleh para Elit provokator yang ingin “mensuriahkan” Indonesia dan membenturkan umat beragama di tingkat akar rumput

Tahun 2015 isu “Syiah” digendang habis-habisan oleh kelompok islam garis keras, padahal yang disasar sebenarnya adalah Sunni moderat seperti NU karena NU sangat anti radikalisme dan anti terorisme.

Lalu insiden bakar-bakaran di Tanjung Balai yang berbau OPSUS (operasi khusus) oknum intelijen yang sangat menyengat.

“Rakyat Indonesia tidak bodoh. Mustahil warga setempat bisa keliling kota membakar 10 vihara.. kecuali orang2 terlatih & terkoordinir,” ujarnya.

Untuk isu ketiga, ada contoh yang paling mutakhir, yakni kasus penempatan lafadz Allah tepat di kaki miniatur gereja di sebuah hotel di Kota Jambi.

Massa dari berbagai ormas Islam langsung bereaksi keras atas kejadian tersebut. FPI serta sejumlah ormas Islam lainnya menggerebek hotel itu dan mendesak supaya polisi segera mengusut. Saat terasbintang.com menghubungi Ketua FPI setempat, mereka yakin betul bahwa kasus tersebut benar-benar menistakan agama Islam.

Namun, usut demi usut, terungkap bahwa kasus tersebut hanyalah rekayasa provokator yang ingin memecah-belah Indonesia dengan isu agama alias SARA. Sebab, berdasarkan foto-foto lama 1 minggu yang lalu, TIDAK ADA lafadz “Allah” pada hiasan Natal tersebut.

Ada pelaku provokator yang sengaja modifikasi batuan kerikil hiasan menjadi lafadz “Allah” dengan tujuan menghasut konflik sektarian

“Provokasi demi provokasi tiada henti ingin menyulut kemarahan kalangan orang-orang bodoh yang mudah tersulut,” kata ustad.

Kita hanya bisa berdoa semoga populasi orang bodoh di negeri ini tidak banyak.. dan semoga aparat cepat menangkap para pelaku provokator yang ingin memecah belah NKRI, aamiin

loading...