Ulama Ini Haramkan Demo dan Sebut FPI ‘Front Perusak Islam’

0
Demo FPI

TERASBINTANG.com – Sejumlah ormas Islam yang dimotori Front Pembela Islam (FPI) akan menggelar aksi “Bela Islam II” pada 4 November 2016. Aksi ini menuntut gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dipenjara.

Namun, tidak semua tokoh-tokoh islam setuju akan aksi demonstrasi itu. Bahkan, ulama alumnus Kairo, Mesir, Riyadh Badr Bajrey mengutuk keras aksi-aksi demonstrasi yang selama ini kerap dilakukan FPI. Demo dinilai sebagai salah satu konkrit bahwa kelompok Islam saat ini sudah busuk. Demo tidak pernah dibenarkan dalam syariat Islam.

“Haram! Demi Allah! Demonstrasi sama sekali tidak pernah ada ajarannya di dalam syariat Islam. Ketahuilah, salah satu bukti konkrit bahwa kelompok Islam itu busuk di jaman sekarang yaitu ketika mereka melakukan demo, itu berarti mereka telah keluar dari jalur. Tidak pernah ada merubah kemungkaran dengan cara kemungkaran. Tujuannya apa? Amar Makruf Nahi Munkar bukan? Nah, salah satu syarat amar makruf nahi munkar adalah dengan cara yang makruf. Kaidahnya: Taghyirul munkar bilmunkar saufa yusabib al munkar al akbar. Mengubah kemungkaran dengan kemungkaran akan menimbulkan kemungkaran yang lebih besar,” kata Ustadzi Riyadh dalam ceramahnya belum lama ini.

Dia kemudian mempelesetkan kepanjangan FPI dari ‘Front Pembela Islam’ menjadi ‘Front Penghancur Islam’. Menurutnya, selama ini yang dilakukan FPI justru telah merusak Islam. Demonstrasi hanya menjadikan keadaan menjadi lebih buruk, bukan lebih baik.

“Lihat apa yang dilakukan Front Penghacur Islam. Apakah keadaan lebih baik, ataukah lebih buruk? Demonstrasi itu haram, demi Allah, tidak pernah dihalalkan oleh Islam. Lihatlah demo dari zaman ke zaman, berapa ribu kali demonstrasi untuk palestina dilakukan disetiap Negeri, apakah kondisi Palestina mendingan? Berapa kali demonstrasi anti korupsi di Negeri ini, apakah mendingan?” ujarnya.

Dia menilai demonstrasi bukanlah solusi memecahkan masalah. Justru demonstrasi hanya mengganggu ketertiban umum dan mengganggu orang yang sedang mencari nafkah.

“Sejak kapan demonstrasi dapat memecehkan masalah, yang ada maslahat umum terganggu, orang mau mencari nafkah terganggu, dan lain-lain. Serahkan kebijakan kepada pemimpin biar dia menentukan kebaikan dengan ketentuannya seraya doakan kebaikan semoga Allah memberinya petunjuk dan memberikan ketakutan kepadanya,” ujarnya.

Dia kemudian memaparkan bagaimana cara menasehati pemimpin dalam ajaran Islam. Pertama; harus punya jalur untuk menasehatinya. Jika tidak, maka jangan memaksa.

“Kedua, menasehati seorang pemimpin itu harus, kalau bisa berdua saja, dan jangan kau bongkar aibnya di depan umum. Jangan menasehati di depan umum. Apalagi seorang pemimpin yang wibawa dan harga dirinya harus dijaga. Lalu apabila kau menasehatinya, maka kau telah melakukan apa yang wajib atasmu, sudah, apabila dia mau terima atau tidak hatinya di tangan Allah, kau tidak punya kewajiban untuk memaksa atau menyeretnya,” jelasnya.

“Ini yang sering bikin keder, karena sering mengikuti gaya kafir dalam melakukan perubahan, yaitu revolusi, reformasi. Reformasi apaan?! Apa yang perlu direformasi Negeri ini? Maka agar bertaubat orang-orang demikian, karena itu adalah bentuk pemberontakan, bentuk khuruj, bentuk melesatnya dirimu dari Islam sebagaimana melesatnya anak panah dari busurnya. Ane juga pernah begitu, dulu 2003 kuliah di Jakarta, UMJ, lagi semangat-semangat berislam, keracunan seperti itu, tapi lebih untuk senang-senang, ramai, rusuh, lalu 2004 barulah dapat peluang ke keiro, Mesir. tambahnya.

Berikut videonya :

(wp)

KOMENTAR