Waspada! Kelompok Radikal Pro Teroris Kembali Sebarkan Provokasi

0

TERASBINTANG.com – Sekitar setahun lalu, rakyat Indonesia heboh dengan pemberitaan terduga teroris bernama Siyono, warga Brengkungan, Desa Pogung, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, yang ditembak mati Densus 88 Mabes Polri dalam penggerebekan di rumahnya.

Saat itu Komnas HAM langsung merilis 118 laporan terduga teroris yang ditembak mati tanpa proses pemeriksaan. “Bisa dibilang lebay BNPT dan Densus 88 dalam melakukan tindak pemberantasan terorisme,” kata Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Maneger Nasution, Sabtu (12/3) tahun lalu.

Kini, berita ini kembali heboh di sosial media dan grup-grup WhatsApp. Sebagian menduga isu tersebut kembali dimainkan untuk mendelegitimasi tugas-tugas polri dalam memberantas aksi terorisme. Terlebih hari ini radikalisme agama seperti menemukan momentumnya kembali. Sudah pasti mereka berusaha keras untuk menyudutkan pihak-pihak yang dianggap bisa melemahkan gerakan-gerakan mereka.

Di sisi lain, data menunjukkan bahwa hanya 5 persen terduga teroris yang ditembak mati di tempat. Selebihnya, 95 persen ditangkap hidup-hidup dan diadili sesuai prosedur hukum yang berlaku. Penembakan dilakukan ketika objek yang menjadi target sasaran polisi berusaha melawan petugas dengan cara-cara yang membahayakan.

Itulah kenapa banyak juga anggota Densus 88 yang turut menjadi korban ketika tengah menjalankan tugasnya. Namun, berita semacam ini tidak terlalu banyak diekspose media.

Artinya, langkah Densus 88 menembak mati teroris di tempat adalah langkah darurat yang harus diambil bila terduga teroris tersebut berusaha melawan petugas.

Bahkan, kini 95 persen mantan teroris yang ditangkap polisi sebagian besar sudah kembali ke jalan yang benar. Sebagian malah menjadi pengayom masyarakat.

 

 

loading...