Waspada! Sebarkan Provokasi dan Kebencian di Sosmed Bisa Berujung Bui

0
Kadiv Humas Polri, Boy Rafli Amar

TERASBINTANG.com – Fenomena sosial media memang perlu diantisipasi, sebelum menjadi bencana terhadap persatuan dang kesatuan bangsa Indonesia. Pasalnya, tak jarang sosial media justru dipakai untuk menyebarkan provokasi, SARA, kebencian dan fitnah. Polri memang sudah seharusnya mengantisipasi dinamika sosial media.

Contoh yang paling nyata adalah kasus transkrip pernyataan Basuki Tjahaja Purnama tentang Al Maidah oleh Buni Yani yang belakangan diketahui palsu, melalui akun sosial Facebooknya. Kini Buni Yani sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) sendiri sering sekali menyinggung fenomena sosial media yang cenderung tidak beretika, saling menghujat, dan fitnah. “Dalam sebulan terakhir kalau dibuka di medsos, apa yang ada di situ saling hujat. Ini bukan nilai Indonesia,” ujar Jokowi.

Apabila menggunakan medsos secara sembarangan, bisa-bisa berurusan dengan pihak berwajib. Contoh nyatanya di kasus penyebaran isu rush money.

Contohnya adalah penyebar isu rush monay yang menyeret seorang guru SMK bernama Abu Uwais (31) yang kini jadi tersangka menyebarkan hasutan untuk menarik uang secara bersama-sama dari bank (rush money).

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Boy Rafli Amar berharap kasus tersebut hendaknya dijadikan pelajaran untuk tidak mengulangi perbauatan yang sama di sosial media.

“Dalam transaksi medsos itu kan tindakan hukum, dilindungi, diatur, sehingga kalau ada pelanggaran ada sanksi hukum. Menggunakan medsos itu enggak bisa semaunya, ada aturan hukum,” ujar Boy.

KOMENTAR

loading...